
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Ketiga dia minta Mbak segera menjual mobil dan rumah agar Mbak enggak terus berlarut sedih mengingat dia. Bukan karena dia enggak cinta. Justru karena dia cinta, maka dia enggak ingin Mbak sedih.”
“Jadi menurutku, laksanakan semua amanatnya agar arwahnya tenang. Kasihan dia kalau Mbak enggak ngejalanin yang dia mau,” sahut Murti.
“Tapi kamu liat dong. Aku harus cari pasangan baru setelah 100 hari meninggalnya,” bantah Wina tak terima.
“Salahnya dimana?” balas Murti dengan santai.
“Orang akan menilai aku janda kegatelan kalau itu aku lakukan,” Wina tentu tak suka dipandang demikian.
“Nah ini kesalahan utamanya,” sahut Murti tenang.
“Mas Ahmad cuma nyuruh Mbak BUKA HATI, bukan nyuruh Mbak nikah lagi!. Soal nikahnya kapan, itu bukan urusan dia. Dia hanya minta Mbak jangan tutup diri. Itu aja koq,” jawab Murti.
“Eh …,” Wina merebut surat Ahmad yang masih ada ditangan Murti, dia baca ulang dengan perlahan agar tak ada kalimat yang terlewat.
‘Iya ya, mas Ahmad hanya meminta aku membuka hatiku. Astagfirullaaaah, satu minggu sejak membaca surat ini aku kalang kabut sendiri dan kesal pada amanat mas Ahmad. Maaf ya Mas. Aku salah tangkap amanatmu,’ Wina membatin. Dia sadar kesalahannya.
"Aku salah Ti, aku sejak pertama baca surat itu jadi kesal karena mikir mas Ahmad nyuruh aku nikah lagi pas 100 hari sesudah meninggalnya,” jawab Wina jujur.
“Untung aku diskusi ama kamu, jadi enggak terus salah sangka ama mas Ahmad,” lanjut Wina.
“Nah, sekarang Mbak mulai bersiap aja ngejual rumah dan mobil. Ganti yang baru agar semua kenangan di rumah dan mobil tentang mas Ahmad bisa berkurang. Sisakan semua kenangan dihati Mbak aja. Agar Mbak enggak berlarut-larut sedih,” sahut Murti.
“Iya, besok aku beres- beresin lagi isi rumah, biar nanti kalau aku iklanin rumah, aku sudah siap. Mungkin sekarang aku jual mobil dulu aja. Kemana-mana aku masih bisa pakai taksi online seperti biasa,” Wina pun akan mulai melangkah dikehidupan barunya.
***
‘Aku dan mas Gembong mau bicara denganmu sendiri. Datang ke rumahku tanpa ajak Krismi atau Nurul,’ semalam Sukri ayahnya Ahmad membaca pesan yang kakak kandungnya kirimkan ke ponselnya. Jadi hari ini, saat dia libur kerja dia bilang harus lembur, dia berangkat jam delapan pagi langsung ke rumah Kurnia.
“Apa maksud pesanmu Mbak?” tanya Sukri setelah basa basi bahkan bercerita tentang burung love bird yang diternak mas Gembong.
“Aku dapat amanat dari Ahmad. Dia menulis surat untukku satu minggu sebelum meninggal. Dan dia memberitahu Wina tentang surat itu kurang dari tiga jam sebelum dia meninggal. Itu artinya dia benar-benar antisipasi semua kejadian yang akan ditimbulkan bila dia meninggal tanpa pesan,” Kurnia memberikan lembaran kertas bertulis tangan dari Ahmad.
Kurnia menunggu adiknya selesai membaca surat itu. “Ngerti kamu?”
“Aku agak enggak ngerti, maksud pastine apa Mbak?”
“Ahmad memperkirakan, sepeninggal dia, Nurul akan meminta Wina menjual rumah dan mobil. Lalu hasilnya dibagi dua antara Wina dan Ahmad. Jatah Ahmad tentunya untuk kalian. Maka dua minggu lalu Ahmad membuat surat hibah di notaris, bahwa semua jatah dia, dia hibahkan untuk Wina. Ini copy surat notaris yang Ahmad buat,” Gembong memberikan copy surat pada Sukri.
“Enam bulan lalu Ahmad kerumah sendirian, dia cerita baru selesai bayar hutang di kantor karena memenuhi permintaan Nurul. Ahmad tak mau Nurul terus meminta jatah bulanan pada Wina, sehingga dia berhutang dikantor. Dia langsung ambil kredit motor untuk Krismi enam bulan karena Nurul selalu minta jatah bulanan pada Wina. Dan hanya padaku dia berani cerita. Ini surat lunas hutang dari kantor Ahmad,” Kurnia memberikan lampiran surat hutang yang memang Ahmad titipkan padanya. Dia takut ada yang lihat surat itu bila dia simpan di kantor atau di rumah.
“Anakmu dan Wina itu sangat tertekan oleh kelakuan Nurul dan tuntutan Krismi. Dan akhirnya wajar kalau Wina berani melawan saat dia tahu Ahmad yang mandul. Dia sengaja berbuat demikian karena tersiksa saat Nurul selalu datang menyodorkan perempuan untuk Ahmad nikahi,” jelas Kurnia.
“Sekarang kamu tinggal bimbing Krismi. Anakmu tinggal satu. Kalau dia juga enggak bener seperti istrimu, ya itulah hasil dari yang kamu tanam. Kamu teramat memuja Nurul sehingga semua yang dia minta selalu kamu turuti,” Kurnia menasihati adiknya.
“Jadi, kalau besok aku dengar Nurul dan Krismi nyolek Wina, aku yang akan melawannya. Kalau aku dengar Nurul atau Krismi ngatain Wina karena dia membuka diri untuk lelaki lain, maka aku yang akan menghantam mereka berdua,” Kurnia geram membayangkan Wina akan kembali ditindas adik iparnya.
“Baik, aku mengerti Mbak. Aku juga tak akan membela mereka karena sudah tahu kenyataan ini. Nurul bilang motor adalah uang beasiswa Krismi yang dia olah sehingga dia bisa membelikan motor,” sahut Sukri.
“Nurul sudah lama di DO dari kampus karena dia tak pernah kuliah. Mana bisa dapat beasiswa?” tanya Gembong santai.
“Aku yakin kalau tak ada surat hibah ini, Krismi ingin minta mobil pada Nurul. Dia akan mendesak rumah dan mobil dibagi dua agar dia bisa foya-foya seperti biasa. Dan Nurul dengan senang hati akan menuruti semua permintaan anak perempuanmu itu. Aku tak yakin menyebutnya anak gadismu melihat kelakuan buruknya selama ini. Bisa jadi dia sudah lama tidak gadis,” sarkas Gembong mengatakan pemikirannya.
Sukri hanya diam. Dia tak berani protes pada kakak iparnya ini. ‘Apa separah itu kelakuan Krismi? Apa salah dulu aku dan Nurul menyelamatkannya? Apa kelakuan berbohong dan kenakalannya menurun dari ibunya?’
Sukri pulang dengan lemas. Bahkan dia menolak ketika disuruh makan siang di rumah kakaknya. Rasanya dia tak punya muka lagi berada di rumah kakak kandungnya itu.
***
“Enggak jadi lembur Yah?” tanya Nurul ketika melihat Sukri sudah kembali sebelum makan siang. Sukri hanya diam, dia tinggalkan Nurul yang menatapnya bingung.
Sukri membuka baju dan mengganti dengan kaos di rumah lalu dia langsung naik tempat tidur. Dia sangat lemah mendapati kenyataan selama ini ditipu oleh Nurul dan Krismi. Ditariknya selimut. Dia ingin mendinginkan kepalanya yang serasa mau pecah.
‘Ahmad bisa, aku pun bisa. Aku akan bertindak dibelakang mereka. Seperti mereka bertindak dibelakangku,’ Sukri membulatkan tekadnya.
Mereka bersekongkol mengatakan semua kebohongan, baik tentang motor maupun tentang kuliah Krismi. Uang kuliah, uang buku, uang praktik semua selalu dia penuhi. Ternyata semua ZONK.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL THE BLESSING OF PICKPOCKETING YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta