
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Pertama, apa Kakak sebegitu takutnya aku ingkar janji. Kemarin aku marah kan bukan kemauanku. Dan kedua kita belum sepakat tentang tempat tinggal setelah menikah. Jadi tuntaskan dulu permasalahan tempat tinggal baru kita tentukan waktu pernikahan,” Aurel memberi alasan mengapa dia tidak segera menerima usulan Rajev.
Memang selama ini pertikaian Rajev dan Aurel dipicu oleh perempuan lain, bukan karena mereka silang pendapat.
“Kalau sementara kita tinggal di rumah ayah, tetap saja kamar yang akan kita tempati di sana juga bekas aku tidur dengan Radit. Aku tak bisa. Kakak kan juga seperti itu. Di Tirur bahkan aku tak ditempatkan di kamar bekas mantan istrimu tidur kan?” jelas Aurel lagi. Rupanya yang tadi Rajev pikir juga ada dalam pikiran Aurel.
“Ada dua option yang aku tawarkan, option pertama kita semua pindah ke rumah kontrakan sambil nunggu rumah yang kita bangun siap. Dan option kedua kita berdua tinggal di apartemenku. Kita wajib ada di rumah saat anak-anak terbangun dan pulang setelah mereka tidur,” saran Rajev untuk mengatasi masalah rumah tinggal sementara bagi mereka berdua.
Rajev tahu pindah rumah sangat merepotkan. Kalau harus pindah sementara ke rumah kontrakan lalu pindah lagi setelah rumah baru siap, tentu kasihan ibu dan anak-anak yang harus dua kali beradaptasi terhadap lingkungan baru.
Aurel memikirkan solusi terbaik untuk permasalahan ini. Karena bila belum ada titik temu masalah tempat tinggal, tentu penentuan tanggal pernikahan juga akan dead lock.
“Kalau kita pindah rumah kontrakan, apa tidak merepotkan anak-anak dan ibu?” tanya Aurel. Hanya ketiga orang itu yang jadi prioritas pertimbangannya saat ini.
“Itulah makanya aku kasih option kedua. Kita yang punya persoalan mengapa mereka yang harus kita repotkan? Biarlah kita mengalah, sebelum rumah jadi, ya kita yang harus bersusah-susah dahulu,” Rajev menerangkan mengapa dia menawarkan mereka berdua tinggal di apartemennya dulu. Di hari Jumat mereka bisa membawa anak-anak menginap di apartemen dan kembali ke rumah dihari Minggu sore atau Senin pagi.
Akhirnya masalah rumah tinggal terselesaikan. Aurel setuju dengan option kedua dari Rajev. Mereka masuk ke pembahasan berikut, yaitu tanggal pernikahan.
Rajev inginnya minggu depan, tapi Aurel bilang tidak mungkin, karena mereka harus diskusi dengan ayah Wicak dan kakek dulu masalah tempat tinggal, tak mungkin mereka menikah bila belum lapor ke bu Tarida keputusan mereka.
Akhirnya semua selesai. Rajev sangat bahagia, impiannya berumah tangga dengan cinta pertamanya akan segera terwujud. Mereka akan menikah 22 hari dari sekarang. Tak sampai satu bulan lagi.
“Kalian serius?” tanya Umma yang merasa sangat bahagia mendengar perkataan Aurel. Tadi umma sudah bertukar khabar dengan Rajev sebelum Aurel menyatakan niat mereka.
Memang mereka menghubungi bu Ahisma menggunakan ponsel Rajev, sehingga Rajev lebih dulu bicara soal khabar. Dan Aurel yang bertugas menyampaikan berita bahagia itu pada kedua orang tua Rajev.
“Serius Um’ma. Kami sudah mantap akan menikah ditanggal itu. Apa Umma ingin ubah?” tanya Aurel. Tentu waktu pelaksanaan harus bisa menyesuaikan dengan jadwal keluarga Rajev dari India.
“Tidak sayang. Um’ma tak keberatan. Mulai saat ini kami akan bersiap. Kalian tidak perlu memikirkan tempat tinggal dan akomodasi kami selama di Indonesia. Biar uppa dan teamnya yang akan mengatur. Kalian cukup konsentrasi dengan kesehatan kalian saja,” um’ma menjawab dengan bahagia. Dia sungguh tak menyangka putra bungsunya akan menjelang hari kebahagiaan dengan perempuan yang dia cintai.
Pak Chander dan bu Ahisma tentu bersyukur persoalan anak mereka sudah selesai dan putra mereka sudah menentukan tanggal pernikahan.
Rajev dan Aurel sepakat akan bicara tentang rencana pernikahan mereka pada ayah dan kakek serta ibu besok sehabis pengajian bapak-bapak. Rajev dan Aurel pulang dengan rasa bahagia karena mulai saat ini mereka sudah mengatasi permasalahan mereka.
***
Sejak hari Sabtu pagi rumah Aurel sudah ramai, keluarga sudah mulai berdatangan. Di dapur tak ada peningkatan kegiatan karena untuk makan siang dan malam sudah dipesan cattering, sedang untuk tamu pengajian nanti semua nasi kotak dari cattering, sehingga tidak memberatkan para pegawai di rumah.
Rajev sengaja tidak datang sejak pagi. Dia packing untuk Senin subuh berangkat ke Bontang. Dia juga banyak diskusi dengan kedua orang tuanya mengenai persiapan pernikahannya yang akan diadakan tidak sampai satu bulan dari hari ini. Malam nanti dia akan menginap di rumah Aurel, maka dia juga harus persiapan baju untuk menginap hingga hari Senin Subuh di rumah itu.
Sore menjelang Maghrib baru Rajev tiba di rumah Aurel yang sudah rapih dan banyak tamu keluarga. Rajev sudah rapi dengan baju koko yang disiapkan oleh Aurel.
“Assalamu’alaykum,” sapa Rajev sambil salim pada ayah, kakek dan ibu yang sedang berkumpul di ruang keluarga.
“Wa’alaykum salam,” hampir serempak yang berada di ruangan itu menjawab salam Rajev.
Rajev melihat Darrel mengenakan baju koko yang kembaran dengan dirinya sedang Aira menggunakan gamis yang bahan, warna dan bordirannya mirip dengan baju koko mereka berdua.
Rajev baru tahu mengapa Aurel marah ketika dia menggoda bila dia salah warna. Ternyata calon nyonya sudah mempersiapkan semua sejak lama. Dia makin bahagia mengetahui hal itu. Ternyata sejak lama Aurel sudah tak marah padanya.
Waktu Maghrib, keluarga besar salat di ruang tamu yang sudah kosong hanya ada gelaran karpet saja. Karena bila salat di ruang belakang tentu tak akan cukup. Saat salat Rajev belum melihat Aurel ikut, rupanya masih berhalangan.
Aurel turun saat semua sudah selesai salat, dia baru selesai membereskan amplop untuk Ustad serta ustadjah esok.
Rajev terpesona melihat Aurel menggenakan gamis kembaran dengan Aira yang rupanya pasangan dengan baju koko nya. Tak terbayangkan kalau hanya dirinya yang tidak kembaran dengan Darrel dan Aira dan Aurel.
Aurel menghampiri Rajev dan mencium sekilas pipi tunangannya, “Sudah lama?” tanyanya.
“Tadi sebelum adzan Maghrib sudah di sini,” balas Rajev. Sebenarnya dia ingin membalas kecupan pipi dari Aurel, hanya dia merasa malu pada kerabat yang ada di ruangan itu.
“Lalu bajumu dimana?” tanya Aurel cepat. Dia ingat Rajev bawa koper untuk tinggal disini sampai Senin Subuh dan koper untuk pakaian ganti selama di Bontang.
\=====================================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL UNREQUITED LOVE YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta