
HARI INI HARI SENIN LHO, AYO BERIKAN VOTE YANG KALIAN DAPAT GRATIS DARI NOVELTOON/MANGATOON KE NOVEL INI.
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Saya minta ke ruangan saya satu jam lagi ya mbak Aurel,” pinta dokter Santoso yang memeriksa ibu. Dokter ini sudah beberapa kali bertemu Aurel, yaitu saat Aurel menikah dengan Radit, saat Aira sakit, saat Ayah Radit meninggal, saat Radit koma dan saat Radit meninggal.
“Baik Dok,” jawab Aurel. Dia makin ketakutan karena dokter tak langsung menerangkan kondisi ibu di sini, di kamar rawat ibu. Tanpa sadar Aurel menggenggam tangan Rajev erat, seakan meminta perlindungan.
Rajev merasakan jemari Aurel sangat dingin, dia memeluk bahu Aurel dengan hangat. Ketika dokter dan perawat sudah keluar ruangan dia mendekap erat kekasihnya itu “Everything will be fine, you calm down my love,” support nya.
Aurel malah menangis mendengar bujukan itu. Segala bayangan buruk datang ke otaknya. Untung tadi Rajev lupa memberi tahu akan menjemput Aira, karena dia tak yakin untuk meninggalkan Aurel dalam kondisi seperti sekarang ini.
Mbak Nah dan pak Ujang datang membawa pesanan yang diminta Aurel. Mbak Nah dan pak Ujang bingung melihat Aurel menangis, mereka menduga tentu kondisi majikan mereka sangat mengkhawatirkan.
“Cukup nangisnya ya, kalau kamu sakit akan lebih repot lagi karena enggak ada yang akan urus ibu. Sekarang kamu makan dulu ya, sesudah itu kita ke ruang dokter. Biar mbak Nah dan pak Ujang menemani ibu selama kita tinggal,” Rajev berupaya menenangkan Aurel.
“Mbak ambilkan sarapan Ibu,” pinta Rajev. Mbak Nah melihat di meja makan ada nasi goreng jatah dari rumah sakit, juga ada fried chicken semalam juga roti yang sudah dibuat oleh Aurel.
Mbak Nah langsung ke meja kecil dekat kulkas yang berisi peralatan makan, dia menyalakan kompor gas yang tadi dia bawa dan memanaskan ayam untuk Aurel sambil membuat teh panas. Untung walau tak diminta oleh Aurel dia berinisiatif membawa minyak goreng botol super kecil. Karena Aurel memintanya membawakan wajan teflon kecil.
Mbak Nah menyerahkan nasi goreng dan ayam goreng pada Rajev yang masih memeluk Aurel di sofa, dia meletakkan gelas teh panas di meja lalu ke teras ruangan, dia tak tega melihat Aurel kembali bersedih.
“Nanti kita langsung ngejemput neng Aira aja Pak. Sepertinya pak Rajev enggak akan bisa ngejemput. Karena kondisi bu Aurel seperti itu,” mbak Nah mengatakan pikirannya pada pak Ujang.
Walau tadi pagi bu Aurel sudah mengatakan yang akan menjemput Aira adalah pak Rajev, tapi dia yakin itu tak akan mungkin. Dia tau bagaimana cintanya Rajev pada Aurel, sehingga tak akan membiarkannya sendirian saat seperti ini.
“Bapak pikir teh juga begituh,” jawab mang Ujang dengan logat Sundanya yang kental. Sejak semalam pak Ujang juga sudah tahu kalau Rajev sangat memperhatikan Aurel diatas segalanya.
Sementara di dalam ruangan Rajev terus membujuk Aurel untuk terus menerima suapan darinya. “Satu lagi ya” pinta Rajev dengan sabar.
“Habis ini minum tehnya dan kita ke ruang dokter.” Rajev terus membujuk Aurel agar kuat.
***
“Mbak Nah, nunggu di dalam aja ya, temani ibu, saya ke ruang dokter,” Aurel keluar ruangan dengan Rajev, mereka hanya membawa dompet dan ponsel mereka saja.
Sebelum mereka melangkah jauh, tanpa ragu mbak Nah memberikan satu bungkus tissue kecil pada Rajev. Dia tahu Aurel akan sangat membutuhkan itu.
“Silakan duduk Mbak Aurel dan Mas nya,” perintah dokter Santoso saat Aurel dan Rajev masuk keruangannya.
“Mbak Aurel ini hasil CT Scan ibu, di sini terlihat penyumbatan di pembuluh darah yang membuat fungsi otak ibu terganggu sehingga membuat ibu tak sadarkan diri kemarin. Kalau menurut perkiraan kami seharusnya semalam ibu sudah sadar, hasil rontgen thorax juga bagus, kami belum menemukan mengapa ibu belum juga bangun,” jelas dokter.
“Apa saat sadar beliau akan tetap normal Dok?” tanya Aurel, mengingat ada sumbatan di otak ibunya.
“Kita belum tahu Mbak, tapi semoga saja ibu tetap normal,” jawab dokter optimis “Saya rasa hanya itu yang bisa saya jelaskan saat ini. Kita berdoa saja mendapat yang terbaik untuk bu Tarida”. Dokter Santoso menutup keterangannya pagi ini.
Aurel dan Rajev keluar ruangan itu. Walau hanya sepotong-sepotong Rajev mengerti apa yang diterangkan dokter pada Aurel. “Can you explain in detail what the doctor just said?” pinta Rajev, dia ingin mengerti lebih jelas kondisi bu Tarida.
Aurel pun menjelaskan dalam bahasa inggris agar Rajev bisa mengerti keseluruhannya. Sesampainya di kamar Aurel lansung duduk di sebelah ibu dan memegang jemarinya. Dia mengangkat jemari itu lalu diciuminya dengan terisak. Mbak Nah dan pak ujang trenyuh melihat perlakuan Aurel.
Bahkan mbak Nah sudah mulai menangis tanpa bisa dicegah.
“Bangun Bu, kami mencintaimu,” bisik Aurel sambil terisak. Rajev yang melihat Aurel terisak tentu langsung menghampirinya. Dia memeluk Aurel dan membawanya menjauh dari bu Tarida.
“Kamu jangan menangis di depannya, walau dia sedang tak sadar tapi dia tahu kondisi sekitarnya. Rajev memberikan tissue pada Aurel.
“Sebaiknya kamu menghubungi keluarga ibu, agar kamu tak disalahkan bila terlambat memberi khabar,” Rajev memberitahu kewajiban Aurel.
Aurel baru ingat dia belum mengabari siapa pun, karena kemarin dia ingin kepastian kondisi ibu lebih dulu. Mbak Nah dan pak Ujang yang mendengar Aurel menelepon semua kerabat bu Tarida dengan menjelaskan kondisi bu Tarida semakin mengerti mengapa Aurel tampak down.
Sejak tadi mereka mendengar Aurel bicara dengan Rajev tapi mereka tidak paham karena kedua tuannya itu bicara dengan bahasa Inggris.
“Kamu enggak ngantor?” tanya Aurel pada Rajev saat mbak Nah sudah pulang untuk menjemput Aira.
“Apa kamu pikir aku bisa meninggalkanmu sendirian?” tanya Rajev pelan.
“Kamu enggak boleh seperti ini, besok kamu wajib ke kantor ya,” Aurel memegang wajah Rajev yang sedang duduk, dan mengecup kening Rajev. Rajev membalas perlakuan manis Aurel dengan memeluk perut Aurel, karena posisi Aurel berdiri di depannya.
“Bagaimana kalau siang ini kamu berangkat kerja?” saran Aurel.
“Bagaimana bisa aku meninggalkanmu siang ini, sedang jam dua nanti ibu akan diperiksa jantungnya?” tanya Rajev. Aurel malah lupa kalau siang ini akan ada pemeriksaan itu.
“Kalau tiap hari ibu mendapat tindakan medis, apa kamu juga akan selalu mbolos kerja?” Aurel sangat khawatir akan status Rajev. Dia tau tanpa kerja di perusahaaan minyak itu pun keuangan Rajev tak akan goyah. Tapi Aurel tak suka bila seseorang mendapat penilaian jelek karena mengutamakan dirinya.
\==================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta