BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
AMANAT SUKRI



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Nurul hanya diam rahasianya dibuka almarhum suaminya.  Lastri telah meninggal tiga tahun lalu.


“Aku tak percaya, Krismi satu type dengan ibunya, dia juga penjaja. Ini aku sertakan foto yang aku buat sendiri mengikuti kemana saja anak itu berjualan,” Gembong membaca kalimat itu sambil meletakkan beberapa foto yang memperlihatkan Krismi berjalan dengan pasangan berbeda ke banyak losmen atau hotel di tikar tempat duduk mereka.


“Aku tidak suka Nurul dan Krismi membodohiku dengan mengatakan Krismi dapat beasiswa dan Nurul mengolah uangnya padahal motor yang dia bilang dibeli dari uang beasiswa adalah uang Ahmad berhutang dikantornya tanpa sepengetahuan Wina, karena Ahmad tak tega istrinya dirongrong oleh Nurul,” Gembong berhenti disitu.


“Berdasar kebohongan itu maka aku juga bisa berbuat sesuka hatiku. Aku sudah membuat surat mandat dan mengurus semua dikantorku. Yang bisa mengurus tunjangan kematianku adalah Raodah. Dia bukan siapa-siapa bagiku. Jangan anggap kami ada hubungan khusus. Raodah hanya office girl, janda anak satu yang biasa membantuku bila aku kerja. Semua uang tunjangan kematianku aku berikan untuk dia,” kembali Gembong berhenti. Dia ingin melihat wajah Nurul dan Krismi.


“Sampai sini jelas ya. Nurul dan Krismi tak ada hak satu rupiah pun dari uang kematian kantor Sukri.”


“Selanjutnya, akan saya teruskan,” Gembong melihat kertas surat ditangannya.


“Lalu uang pensiun bulanan saya, sudah saya alihkan ke rekening panti asuhan yang telah ditetapkan oleh notaris. Tak akan ada uang pensiun milik saya untuk Nurul,” semua terdiam mendengar keputusan Sukri. Rupanya dia sudah sangat terluka mengetahui Nurul menipunya.


“Dan rumah serta mobil saya minta mbak Kurnia menjualnya segera. Hasilnya bagi menjadi tiga sama rata. Sepertiga untuk Nurul. Sepertiga untuk Ahmad yang akan diterima Wina dan sepertiga lagi untuk panti asuhan yang alamatnya telah ditetapkan oleh notaris. Surat notaris saya sertakan,” semua yang hadir jelas mendengar kalau Krismi sama sekali tak dianggap oleh Sukri.


Nurul dan Krismi sangat malu karena ditelanjangi didepan umum oleh Gembong dan banyak kerabat termasuk para sepupu Krismi mendengar dan melihat semua fakta tentnag kelakuannya selama ini.


“Jadi dimuka forum ini saya minta Nurul segera menyerahkan surat-surat rumah dan mobil. Antar ke rumah saya disaksikan oleh mbak Fitra, karena saat ini yang jadi saksi pembicaraan ini adalah mbak Fitra.”


“Saya rasa cukup sekian dan saya mohon maaf bila kami ada salah karena habis ini saya dan suami saya serta Wina akan pamit,” bude Kurnia menutup pertemuan dan dia dengan jelas meminta agar Wina juga meninggalkan rumah ini bersamanya. Tujuannya agar Wina tidak ditekan selepas dia pulang.


“Ayok bulek, kita bersiap beberes barang buat pulang,” Wina yang mengerti alasan bude Kurnia pun mengajak bulek Ratmi membereskan tas pakaian milik mereka.


“Enggak nyangka ya kelakuan Krismi persis seperti ibu kandungnya.”


“Lagian kenapa bulek Nurul selalu membela Krismi? Apa karena mereka sama?”


“Hati-hati nanti dia dengar.”


”Dengar lalu mau protes? Bukankah itu kenyataan? Kalau tidak nyata, sebagai ibu harusnya dia mengarahkan anak perempuannya kejalan yang benar. Bukan membiarkan.”


Suara para keponakan bergumam disana tak bisa Nurul cegah. Karena memang itu yang sebenarnya. Dia beruntung karena Sukri mau menerimanya padahal sejak mereka pacaran Sukri tahu dia sudah bukan gadis.


Bodohnya dia menunjang saat Krismi sang keponakan yang dia dan Sukri angkat anak merasa tak mau dikalahkan oleh saingannya. Jadilah Nurul selalu mendukung putrinya itu.


***


Dennis tak sabaran menunggu jawaban dari Wina. Sejak sehabis salat Subuh dia sudah mengirim pesan. Tapi perempuan itu tak juga meresponnya.


Dddrrrrrtt ….. drrrrttttt, ponsel Wina bergetar. Ada panggilan video call. Ini hari kerja. Bagaimana mungkin lelaki itu melakukan panggilan video call.


Karena sudah tiga kali panggilan terus saja terjadi, maka Wina mengangkatnya.


“Assalamu’alaykum,” balas Wina santai.


“Eh … wa’alaykum salam sayankku,” balas Dennis lembut.


“Ada yang bisa saya bantu Pak?” tanya Wina.


“Kalau aku sedang video call, itu artinya aku bukan rekanan kantormu. Aku pria yang akan jadi imammu. Jadi jangan pasang wajah kaku seperti itu apalagi dengan kata-kata resmi,” protes Dennis.


“Maaf Pak. Saya baru sampai kantor dan saya bersiap kerja. Kalau Bapak mau ngomel dan bikin saya bad mood sepanjang hari, saya tidak ada waktu ngeladenin kelakuan Bapak,” Wina menjawab  demikian saat Murti baru saja masuk ruang kerja mereka.


“Siapa yang mau bikin kamu bad mood sayankku? Aku malah pengennya jadi spirit buat kamu mengawali harimu,” gombalan Dennis terus saja dia lontarkan.


“Terima kasih Pak. Tapi bukan spirit yang saya dapat dengan perlakuan Bapak seperti ini. Selamat pagi dan Assalamu’alaykum,” Wina langsung menutup sambungan video call itu.


“Cie … cie … pakai sayankku segala,” goda Murti yang langsung menyalakan computer kerja di mejanya. Harusnya hari ini dia berangkat ke Tangerang. Tapi Aurel kemarin minta Reza reschedulle jadwal proyek Tangerang.


“Bikin bete Ti. Kalau enggak diangkat dia bakal nelepon terus dan bisa jadi dia langsung kesini. Maka setelah tiga kali barusan aku angkat aja. Dari habis Subuh dia chat aja belum aku baca,” Wina memang jadi bad mood.


“Aku pesan kopi dulu deh ke pantry. Buat ngilangin bad mood,” Murti menghubungi pantry kantor dan memesan vanilla latte dua cangkir. Murti mengeluarkan singkong goreng renyah yang dia buat tadi pagi.


Wina dan Murti langsung menekuni pekerjaan mereka. Reza dan Yon sedang tak ada di kantor. Sesuai jadwal kedua pentolan kantor itu sedang di luar kota. Sedang Aurel hari ini tidak ke kantor karena kemarin habis ke pemakaman. Rajev tak membolehkan istrinya keluar setiap hari, karena Aurel sangat cepat lelah.


Rajev tak ingin istrinya sakit. Padahal kehamilan ini sangat dinanti Aurel. Rajev tak ingin Aurel kehilangan bayi yang sangat mereka dambakan.


Tapi Wina dan Murti memang bukan bermental kuli, yang hanya bekerja bila ada mandornya saja. Mereka tetap bekerja walau tak ada Reza atau Aurel. Karena mereka sadar, bila mereka bermalasan dan besok ditanya, mereka sendiri yang akan kerepotan bila belum selesai.


“Masuk,” Murti menjawab saat ada yang mengetuk pintu ruang kerja mereka.


“Bu Wina, ada kiriman dari ojek online,” Suzy dang resepsionis mengantar paket yang dikirim oleh ojek online. Memang tak sembarang orang boleh ke ruangan ini. Maka kiriman untuk ruang ini hanya bisa diantar satpam atau resepsionis.


“Teriima kasih mbak Suzy,” jawab Wina. Dia tak mungkin bilang tidak pesan karena memang paket itu untuk dirinya. Suzy langsung keluar ruangan.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI\, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL   **UNCOMPLETED STORY ** YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL  UNCOMPLETED STORY  ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta