
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Aku memang menyayangimu dan anak-anak. Apa hubungannya dengan aku belum makan?” tanya Rajev bingung.
“Hubungannya sangat erat,” tukas Aurel cepat.
“Tell me please?” pinta Rajev. Lelaki ini memang jujur tak tahu hubungan rasa sayang dengan tuduhan bohong yang dilontarkan tunangannya itu.
“Kamu tidak sayang badanmu sendiri, bagaimana kamu bisa bilang menyayangi orang lain?” tanya Aurel pelan sambil menatap tajam Rajev.
“Forgive me please, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu,” Rajev memeluk dan mengecupi pipi serta kening Aurel berulang-ulang lalu memeluk tubuh mungil kekasihnya. Sekarang dia mengerti apa maksud perempuan manis ibu dari anak-anaknya itu.
“Aku janji tidak akan terlambat makan lagi sejak hari ini. Aku janji akan menjaga kesehatanku dengan baik agar bisa mendampingi kalian,” janji Rajev dengan tulus. Dia sadar selama ini tidak pernah berpikir sampai ke sana.
“Kamu tidak pernah telat salat Dzuhur, maka ingatlah sehabis salat adalah jam makan siang mu. Jangan tunda,” Aurel membuka box kue dan mengambil lemper serta mengupasnya, lalu menyuapi Rajev. Rajev menerimanya dengan sangat bahagia, ada binar di mata coklatnya.
“Bagaimana kalau kita makan siang sekarang?” tanya Rajev sambil beranjak ke meja kerjanya untuk mematikan laptopnya.
“Apa kamu bisa meninggalkan pekerjaanmu, bukankah hari Senin depan kamu harus berangkat ke Bontang?” tanya Aurel. Dia sungguh tak berniat mengganggu waktu kerja Rajev. Dia akan sabar menunggu hingga waktu kerja selesai.
Rajev mengemasi berkasnya, memasukannya ke ransel laptop miliknya lalu dia mengajak Aurel keluar tanpa menjawab pertanyaan tunangannya. “Ayok” ajaknya santai tanpa beban.
Aurel membawa box kue yang memang dia siapkan untuk Rajev dan anak-anak di rumah. Dia ingin mampir ke rumah melihat anak-anak. Banyak mata memandang iri pada pasangan itu, yang perempuan tentu iri pada Aurel, bisa menggandeng lelaki tampan pujaan mereka di kantor itu. Dan yang laki-laki iri pada Rajev melihat dia sanggup menggandeng wanita mungil nan cantik alami bukan karena hasil dempulan make up tebal.
Rajev memarkir mobilnya di rumah makan Padang sesuai permintaan Aurel. Mereka makan dengan santai sambil bercerita soal cuaca. “Kamu mau langsung ke rumah sakit?” tanya Rajev saat mereka selesai makan dan sedang menghabiskan juice yang mereka pesan.
“Bukankah biasanya kamu pulang kerja bermain dengan Darrel?” Aurel membalas dengan melempar pertanyaan kembali.
“Jadi kamu mau menemaniku bertemu jagoan kecilku?” tanya Rajev semangat. Sekarang gantian Aurel yang tak menjawab, dia hanya tersenyum saja.
‘Enak benar dia bilang jagoan kecilnya? Padahal jelas itu anakku.’
“Kalau bukan di tempat umum, sudah kukulum bibirmu,” bisik Rajev gemas melihat senyuman kekasihnya.
“Iiih, aku senyum salah, menangis apalagi,” keluh Aurel.
“Ha ha haa,” Rajev hanya tertawa sambil mengusap puncak kepala Aurel dengan gemas. “Ayok ah, biar anak-anak puas bermain dengan Umma nya,” ajak Rajev sambil mengambil dompet dari saku celananya.
“Kak, belikan aku rendang,” pinta Aurel sambil berdiri mengikuti Rajev menuju kasir. Aurel ingin rendang untuk lauk makan malam nanti di rumah sakit.
“Apalagi?” tanya Rajev. Rajev tahu Aurel membeli lauk untuk makan di rumah sakit nanti malam.
“Kakak mau peyek udangnya? Atau yang lain?” Aurel balik bertanya.
“Aku hanya butuh kamu,” jawab Rajev tanpa ragu.
‘Ah, untung pakai bahasa Inggris, enggak terlalu malu lah aku,’ batin Aurel mendengar ungkapan yang Rajev katakan barusan.
***
“Assalamu’alaykum,” sapa Aurel saat dia masuk ke rumahnya. Dilihatnya Aira sedang mengerjakan pekerjaan rumah didampingi mbak Nah.
“Um’maaaaaaaaaaaaaaaaa,” pekik Aira dengan bahagia melihat Aurel masuk ke rumah. Aurel terkejut mendengar Aira sudah merubah panggilan untuknya. Rupanya setiap hari dia dicekoki ajaran merubah panggilan untuknya.
“Cantiknya Um’ma koq enggak balas salam yang Um’ma berikan?” tanya Aurel lembut. Dia mengikuti sapaan Aira, dia tak ingin membuat anak-anak bingung bila dia bersikeras dengan panggilan mama seperti dulu saat dia bersama Radit. Dipeluknya putri kecilnya dengan penuh kasih sayang.
“I miss you too,” balas Aurel sambil mengecupi pipi putrinya.
“Wah ada Um’ma, Uppa enggak dipeluk nih?” goda Rajev saat dilihatnya Aurel sedang menciumi Aira.
“Uppaaaaaaaaaa,” pekik Darrel yang baru keluar kamar karena baru selesai mandi. Rajev menanti Darrel yang berlari ke arahnya, dia sudah berdiri dengan lututnya agar bisa sejajar dengan Darrel.
“Jagoan Uppa sudah harum,” Rajev tak henti menciumi Darrel. Diangkatnya jagoannya dan dibawa ke arah Aurel yang tak berkedip menatap mereka berdua.
“Kiss dan hug um’ma dulu,” Rajev menyodorkan badan Darrel pada Aurel. Aurel hendak mengambil Darrel dari gendongan Rajev tapi lelaki kecil itu menarik badannya, dia hanya mencium Aurel selintas, tapi tak ingin turun dari gendongan Rajev.
“Wah, anak Um’ma enggak mau di gendong Um’ma ya?” goda Aurel. Ada sedikit cemburu pada Rajev yang lebih dipilih Darrel dari pada dirinya.
“Um’ma masuk kamar dulu ya Kak, mau ambil baju dan alat-alat Um’ma. Kakak mau ikut?” tanya Aurel pada Aira.
“Kakak di sini aja, maem kue sama Uppa,” jawab Aira. Dia lebih suka makan kue dari pada mengikuti ke kamar Aurel.
“Kamu mencuri hati anak-anakku,” bisik Aurel pada Rajev lalu dia bergegas naik ke kamarnya.
“Our kids, not yours,” ralat Rajev sambil membantu Darrel membuka plastik kue yang di inginkannya.
Aurel mengambil cadangan pembalut, serta beberapa baju ganti juga parfumnya yang hampir habis. Dia masukkan ke dalam tas pakaiannya. Lalu kembali ke luar dan mengunci kamarnya lagi.
Hampir Maghrib, Aurel bergegas ke rumah sakit, dia tak ingin ibu cemas, walau sejak tadi dia sudah mengabari kalau dia sedang menengok anak-anak di rumah.
***
Sudah dua hari sejak kunjungan ke rumah sakit tempat istri pak Cahyo dirawat, Reza belum mendapat info lanjutan dari pak Cahyo mengenai kesiapannya kembali ke proyek.
Wina sudah mendapat info sangat mengejutkan yaitu istri mas Eko sekarang sangat konsumtif setelah ikut arisan dengan group baru yang diprakarsai oleh sus Meylan, dan ternyata dia adalah sepupu Yulia.
Meylan bekerja sama dengan Ifa istri siri Didu mantan bendaharawan proyek Cinangka yang bermasalah. Ifa tidak terjerat hukum sehingga dia bebas bergerak. Beda dengan Yulia yang terkena hukumandua tahun, Didu enam tahun dan bang Binsar tujuh belas tahun.
Untuk memenuhi kebutuhan Wiwin sang istri, maka Eko mulai bermain dengan menyalah gunakan wewenangnya mengelola keuangan proyek. Reza meminta Wina terus memperdalam penelusurannya tentang kegiatan Wiwin dan Meylan serta Ifa.
Saat sedang bersiap untuk pulang, ponsel Reza bergetar, dilihatnya nama pemanggil adalah pak Cahyo.
“Assalamu’alaykum Pak, ada perkembangan?” tanya Reza to the poin.
“Wa’alaykum salam pak Reza, saya besok siap ke lapangan,” jawab pak Cahyo.
\=============================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL WANT TO MARRY YOU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta