BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
KEJORA KELUARGA SEBAYANG



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\=====================================================================================


Tok tok tok


Pintu kamar Aurel diketuk. Namun Aurel tak mendengarnya, dia masih sibuk dengan bayangan akan Radit. Karena menunggu lama tak ada respon dari anaknya, Wicaksono ayah Aurel memberanikan diri masuk ke kamar anaknya


“Mbak,” sapanya pelan.


Tak ada respon dari putri kesayangannya. Dilihatnya pandangan kosong dimata putrinya itu. Sang ayah mendekat dan memeluknya. Aurel yang tersadar dari lamunannya memeluk erat pelindungnya sebelum bertemu Radit. Dia meluapkan tangisnya. Dia merasa sangat kehilangan.


“Mbak enggak kuat Yah,” keluh Aurel pasrah sambil terus terisak dipelukan sang ayah.


“Kamu harus kuat, karena Aira dan Darrel membutuhkanmu. Apa kamu rela mereka diasuh orang lain yang enggak sesayang kamu pada mereka? Apa kamu mau mereka tumbuh tanpa cintamu sedang cinta Papanya sudah enggak ada?” nasihat ayah Aurel.


Aurel hanya menjawab dengan isakan dan gelengan. “Sekarang kamu wudhu dan pergi tidur. Cukup malam ini saja kamu terpuruk. Besok pagi kamu harus bangun dengan kaki yang kokoh untuk menopang kedua anakmu tanpa adanya Radit,” ayahnya memberi sugesti pada Aurel agar dia berani mengangkat wajah dan menunjukkan pada dunia kalau dia kuat.


Aurel berupaya tidur sesuai perintah ayahnya, dia menyetel lagu RAHASIA HATI dari ELEMENT diponselnya yang entah mengapa tanpa sengaja minggu lalu dia save lagu lawas itu di kumpulan musik diponselnya. Yang penasaran cari sendiri lagu itu di you tube ya.


Bila aku harus mencintai (mencintai)


Dan berbagi hati (berbagi hati), itu hanya denganmu (denganmu),  


dua kalimat itu seperti mewakili hatinya kali ini.


Namun bila ku harus tanpamu


Akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta.


Seperti itu lah yang Aurel rasakan saat ini. Dia akan mengarungi hidup tanpa bercinta lagi.


***


Esok paginya Aurel terbangun dan meraba tak ada Radit disisinya, dia mencari di kamar mandi, lalu teringat bahwa Radit sudah meninggalkan dirinya dan anak-anak mereka. Dia menangis dan membasuh tubuhnya untuk mandi sekalian berwudhu dan salat subuh. Sesudah itu dia bergegas menuju kamar Darrel dan Aira, sejak kemarin dia sama sekali tidak memegang kedua anaknya tersebut.


Aira tidur nyenyak di kamarnya, dengan mbak Nah yang menjaganya dan saat Aurel masuk mbak Nah sedang melipat mukena habis melakukan salat subuh. Aurel keluar kamar Aira dan memasuki kamar Darrel. Namun anak lelakinya tak ada disana, hanya ada mbak Yuni pengasuh Darrel yang sedang mengepel kamar tersebut.


“Bang Darrel tidur dengan Opung Bu,” sang pengasuh memberitahu keberadaan Darrel. Sejak Radit menyebut Darrel dengan paanggilan ABANG, maka seisi rumah pun ikut menyebut Darrel dengan panggilan penghormatan itu. Saat ini semua baru sadar, Radit menyebut Darrel dengan sebutan abang karena saat ini tahta Sebayang memang milik Darrel.


Aurel ingat kata-kata terakhir yang Radit sampaikan secara langsung face to face sebelum lelaki itu berangkat ke Bandung. Karena sesudahnya mereka hanya bicara melalui telepon saja. “Jaga anak-anak dan jangan pernah padam! Karena Mama adalah kejora keluarga Sebayang.”


Sekarang Aurel harus bangkit dan kuat seperti keinginan Radit. Dia tak boleh padam. Semua harus dia lakukan demi ibu, kakek dan kedua anak mereka. Mereka itu Sebayang, dan Aurel harus kuat demi mereka


***


Hari ini pengajian tujuh harinya Radit, Aurel masih banyak diam tapi sudah bisa menahan air mata bila didepan orang lain. Dia hanya menangis ketika dia sendirian atau saat dia memandang wajah polos anak-anaknya.


“Maaf, saya akan pamit. Esok pagi saya akan kembali ke Qatar,” Rajev pamit pada ibu dan Aurel yang duduk berdampingan. Rajev datang saat hari pemakaman Radit lalu dia langsung kembali ke Cilacap untuk menyelesaikan tugasnya. Dan baru kembali ke Jakarta kemarin.


“Terima kasih kamu sudah berkenan hadir saat pemakaman Radit,” jawab ibu Tarida pelan. Ibu berupaya tegar. Dia sudah tak punya suami dan anak lagi.


***


Hari ini Aurel sudah bersiap ke kantor, dia akan mulai full kerja. Terlebih dia mendengar laporan Wina dan Reza tentang proyek Cinangka. Dan Radit juga telah memberitahu kalau almarhum suaminya itu mulai curiga ketika dia melihat proyek itu stagnan.


Aurel mengenakan out fit jeans hitam yang dipadu dengan kaos pas body berwarna putih dan ditutup dengan blazer warna hitam tentu tidak akan ada yang menyangka dia seorang ibu, orang akan mengira dia masih mahasiswa. Masih bernuansa hitam. Karena dia masih tetaap berduka akibat meninggalnya suami tercinta.


Aurel sengaja memakai sneaker warna putih karena hari ini dia akan cek ke lapangan langsung. Wajahnya masih pucat, walau ada senyum ramah terhadap para karyawannya, tapi sekarang wajah itu juga sangat tegas dan dingin.


Dia tidak akan senyum terlebih dahulu pada lelaki walau itu karyawannya sekali pun. Karena Aurel statusnya adalah janda. Akan riskan bila dia senyum lebih dulu pada orang lain.


Aurel memang membentengi dirinya sejak kematian Radit  'Aku dengar hari ini kamu mulai kerja?' chat Rajev mengusiknya jam enam pagi tadi.


'Sekarang di Qatar sangat larut, apa yang kamu kerjakan? Dan dari mana kamu tau aku akan mulai kerja hari ini?”' tanya Aurel membalas chat Rajev.


Namun Rajev tak segera membaca apalagi membalasnya, mungkin Rajev sudah tidur.


“Mas Reza, siapa yang akan menemani saya ke Cinangka? Dan saya minta data spec bahan yang seharusnya kita siapkan serta spec yang terlihat di lapangan. Saya ingin melihat perbedaannya.” Aurel berkata dingin pada Reza.


“Saya juga meminta laporan perhitungan selisih harga real serta harga yang ada akibat perubahan spec tersebut sebelum saya meluncur ke lapangan,” perintah Aurel pada Reza.


“Dan mbak Wina, saya minta semua data personal yang terlibat pada keuangan dan pengadaan barang untuk  proyek Cinangka ya,” Aurel memerintah pada sekretarisnya.


Aurel meminta Wina pindah meja kerjanya menjadi satu ruangan dengan Aurel, karena dia tidak ingin sendirian diruangan untuk mencegah fitnah pada dirinya.


Selain itu Aurel selalu menghormati semua karyawannya. Dia akan selalu memanggil dengan sebutan awal pak, buk, mbak, mas. Tak pernah dia langsung menyebut nama pegawainya.


***


Aurel berangkat ke proyek Cinangka di temani Reza dan seorang keamanan wanita bernama Murti, yang hanya bertugas menemani Aurel untuk menghindari fitnah bila Aurel hanya bedua dengan Reza saja.


Reza yang mengemudikan mobil dan mbak Murti  duduk didepan. Aurel  duduk dibelakang sambil mempelajari semua data yang diberikan Reza.