
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Baiklah, aku enggak akan ganggu waktu istirahatmu. Aku hanya mau bilang besok pagi aku berangkat ke Cilacap ya,” Rajev menjawab masih dengan lembut. Saat itu bik Siti mengantarkan minuman yang diminta Aurel.
“Aku enggak ingin kamu marah, aku hanya enggak ingin kamu cape kalau harus menjemputku. Itu saja pemikiranku. Jangan salah sangka,” rajuk Rajev. Dia tak ingin kekasih hatinya marah seperti ini.
“Apa pun pemikiranmu, silakan saja. Saya tidak perduli,” jawab Aurel sambil mulai menyesap coklat susu panasnya.
“Sekarang sudah cukup larut, dan kamu akan berangkat pagi besok. Jadi sebaiknya kamu segera pulang,” saat ini Aurel jelas mengusir Rajev.
“Tapi Love, aku enggak bisa pulang kalau kamu masih marah seperti ini,” tolak Rajev.
“Maaf, saya sudah ngantuk. Selamat malam,” Aurel langsung meninggalkan Rajev tanpa peduli. Sikap seperti ini yang Rajev belum tahu. Sikap keras kepala Aurel. Karena selama ini mereka memang jarang bertemu. Tidak seperti Radit yang sejak awal tahu bagaimana keras kepalanya Aurel kalau marah. Dan Radit pun pernah tak bisa konsentrasi karena Aurel marah.
Rajev masuk ke dalam untuk pamit, karena di ruang keluarga tak ada orang setelah Aurel meninggalkannya.
***
Pagi-pagi sekali Aurel segera menghampiri kamar Aira, dia akan mengurus putri kecilnya sebelum berangkat ke sekolah karena kemarin sore tidak sempat bermain dengannya.
“Cantiknya Mama bangun yok, kita siap-siap sekolah,” Aurel membangunkan putri sulungnya dengan lembut.
“Kakak maunya sekolah diantar Uppa,” rengek Aira yang baru terbangun, mungkin dia bermimpi sehingga punya keinginan seperti itu.
“Uppa pagi ini keluar kota, dan kalau pun dia ada disini enggak bisa minta ngedadak, nanti kamu terlambat sekolah,” bujuk Aurel sambil membuka baju anak gadisnya.
Aurel memandikan juga mendandani putri sulungnya dengan mengajaknya bernyanyi dan bercerita.Sehabis Aira siap dia temani menuju meja makan,
“Kakak Aira sarapan dulu ya. Mama mandi,” Aurel menyerahkan Aira pada pengawasan mbak Nah. Aurel pamit untuk bersiap, sehingga bisa mengantarkan Aira sekolah sekalian dia berangkat kerja.
“Hallo gantengnya Mama, sudah bangun ya sayang?” Aurel mengecup kening dan pipi Darrel yang berada dalam gendongan mbak Yuni lalu dia bergegas ke kamarnya untuk mandi.
“Pagi Bu,” sapa Aurel yang berpapasan dengan ibu mertuanya yang sudah rapih menggunakan snelli, baju kerja nya.
“Pagi sayang. Kamu mau antar Aira?” tanya bu Tarida. Tadi dia mendengar cucunya bersorak karena akan diantar Aurel.
“Iya Bu” jawab Aurel agak teriak karena dia takut mertuanya tak mendengar. Dia bergegas mandi dan bersiap berangkat kantor.
“Assalamu’alaykum cantiknya Uppa,” sapa Rajev lembut pada Aira. Dia mencium puncak kepala Aira. Dan bergegas memberi salam pad bu Tarida.
“Uppaaaaaaaaa,” Aira bahagia melihat kedatangan Rajev pagi ini. Wajahnya berseri-seri.
“Wa’alaykum salam, ayo sarapan,” ajak bu Tarida pada Rajev.
“Iya Bu” jawab Rajev, dia mencari sosok Aurel yang tidak ada di ruangan itu.
Bu Tarida tahu arti pandangan Rajev. Lalu dia memberitahu Rajev. “Aurel baru mandi.”
Aurel kaget ketika melihat sosok Rajev di meja makan, dia masih di tangga. ‘Bukankah seharusnya pagi ini dia sudah terbang ke Jogja untuk kerja di Cilacap?’ pikir Aurel bingung.
Rajev melihat wajah segar Aurel yang baru turun, dia bahagia bisa melihat wajah pujaan hatinya di pagi hari. Wajah segar wanita itu merupakan mood booster untuknya.
Aurel meminum sussu coklatnya sambil menyendok sedikit bihun goreng sea food kegemarannya. “Kakak cepat habiskan sarapannya,” perintah Aurel pada Aira, karena dia melihat oatmeal di mangkuk Aira belum habis.
Aurel merasa tidak enak saat dilihatnya Rajev belum makan apa pun “Kamu mau sarapan apa, bihun goreng, nasi goreng atau roti?” tanyanya pada Rajev.
“Ibu berangkat duluan ya,” bu Tarida pamit pada Aurel. Dan Aurel langsung menghampirinya memberi salim pada mama mertuanya itu.
“Kakak habiskan makannya, Opung berangkat duluan ya sayang,” pamit bu Tarida pada cucu tercintanya.
“Iya Opung … selamat jalan,” jawab Aira, gadis kecil ini mengerti opungnya setiap hari berangkat kerja sangat pagi..
“Makasih sayang,” sahut bu Tarida tulus sembari mengecup puncak kepala cucunya.
“Roti saja,” jawab Rajev sambil memandangi Aurel tanpa pernah mengalihkan fokus matanya. Rajev baru mengalihkan pandangan matanya ketika Aira memanggilnya.
Aurel melapis roti dengan mentega dan selai kacang, lalu meletakkannya di piring kecil dan disodorkan ke depan Rajev. Dia pun membuatkan Rajev kopi panas, lalu melanjutkan makannya. Didengarnya pembicaraan Rajev dan Aira tentang gambar yang disukai Aira di sekolah.
Sebelum berangkat Aurel menghampiri Darrel yang sedang sarapan pagi di halaman belakang sambil berjemur. Putra bungsunya memang sarapan sendiri, tidak bersamanya dimeja makan. Memang sejak dulu Darrel dijemur sekalian makan pagi. Bila hanya di jemur saja dia akan marah dan menangis.
“Hallo sayangnya Mama, Mama berangkat kerja ya sayang. Sini salim Mama dulu,” panggilnya. Mbak Yuni tidak mendudukkan Darrel di high chair. Pengasuh itu membiarkan Darrel bermain bola di rumput.
Darrel mendekati mamanya, badannya sudah basah keringat karena mbak Yuni memang tidak memakaikan baju. Saat itu Darrel hanya pakai diapers tanpa baju dan celana. Aurel mencium wajah Radit dalam bentuk kecil. Darrel memang miniaturnya Radit almarhum suaminya.
“Dede, Kakak berangkat sekolah dulu ya,” pamit Aira pada adiknya, yang dibalas anggukan oleh Darrel. Seakan pria kecil ini mengerti bahwa kakaknya memang harus selalu pergi setiap pagi.
“Sayang, Uppa berangkat kerja ya,” Rajev pun ikut pamit pada anak lelakinya itu. Diangkatnya tubuh jagoannya tinggi-tinggi dan dia berputar sehingga Darrel sangat senang.
“Ndak uyun … ndak uyun,” tolak Darrel tidak mau diturunkan. Dia berkata sedikit berteriak dan kepalanya digelengkan menguatkan kata tak mau yang dia ucapkan.
“Sore nanti Uppa gendong lagi ya, sekarang Uppa kerja dulu,” pamit Rajev. Dia tahu, Darrel sangat butuh sosok ayah sepeninggal papapnya. Rajev dan Aurel paham kebutuhan Darrel saat ini.
Tetap saja Darrel tidak mengerti dan dia menangis. Aurel meminta handuk Darrel lalu menggendong putranya setelah di lap badannya.
“Gantengnya Mama enggak boleh nangis begini dong. Jagoan Mama harus kuat seperti papap kan?” bisik Aurel dengan lembut.
“Sekarang Mama dan Uppa antar kakak Aira sekolah dulu. Nanti sore kami main lagi sama Dede ya?”
Darrel yang mendengar bisikan Aurel seperti biasa langsung tenang dan dia menurut untuk berhenti menangis.
“Sekarang Dede cium Mama dulu,” pinta Aurel pada Darrel setelah lelaki kecilnya tenang dan dipakaikan baju.
==============================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL WANT TO MARRY YOU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta