
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
”Besok deh Mi, aku bilang ke Myrna kalau dia sudah agak tenang. Kemarin ada masalah di sekolah Xella. Anak itu dibully karena dia bilang sekarang punya papa Vino. Nah Myrna belum siap. Jadi lah Xella yang kasihan,” Vino menjelaskan sang mami tentang Xella yang memang dekat dengan Vino sejak A’im meninggal.
FLASH BACK OFF
Vino berupaya tidur. Dia cukup tenang saat mendapat izin dari kedua orang tuanya.
Bunyi panggilan telepon berulang terdengar mengganggu tidr Vino, dia lihat jam di dinding kamarnya pukul 02.46 dini hari. Siapa yang menghubunginya?
Vino bangkit dan mengambil ponsel di atas meja.
“Ya ada apa?” jelas Vino kaget karena yang memanggil adalah Myrna.
“Xella Vin. Xella,” isak Myrna.
“Ada apa dengan Xella. Sekarang kamu dimana?” tanya Vino cepat.
“Xella sejak aku pulang panas tinggi. Sudah aku beri obat. Sudah ada dokter datang, tapi panasnya enggak turun. Sekarang dia menggigil dan manggilin kamu,” isak Myrna.
“Taruh telepon ini ditelinga Xella. Sebentar aja, habis itu aku meluncur ke rumahmu,” sahut Vino.
“Anak Papa. Jangan sakit ya. Papa sayang Xella. Tunggu Papa ya sayang. Papa akan ke rumah Xella,” Vino memutus pembicaraan. Dia segera ganti baju dan mengambil kunci mobilnya.
“Mau kemana Vin?” sang mami yang keluar mengambil minum kaget melihat Vino terburu-buru keluar dari kamarnya.
“Xella panas tinggi dan menggigil. Dia panggilin aku terus Mi. Doain dia enggak kenapa-kenapa ya,” Vino mengambil tangan maminya untuk salim lalu dia cium pipinya.
***
Vino langsung masuk kekamar Xella. Dia sudah hafal kamar itu sejak A’im meninggal. Tadi dia sempat mampir apotek membeli kompres instant.
Vino memeluk Xella dan berbisik. Dia pasang kompres instant di dahi gadis kecilnya. Vino duduk diranjang, dia pangku Xella dan dia dekap erat agar gadis itu tidur dalam dekapannya.
Melihat hal itu Myrna hanya bisa menangis dalam hati. Bagaimana dia mau berpaling pada Mahesa? Sedang cinta Xella ada pada Vino. Tapi Vinonya tak mau menerima dirinya?
Jam lima pagi, Vino menidurkan Xella di ranjang dan dia melakukan kewajibannya di waktu Subuh. Myrna terbangun. Sejak semalam dia tidur di sofa kamar putrinya. Dia lihat Vino sedang salat.
Pelan Myrna keluar kamar untuk menyiapkan sarapan bagi Xella dan Axel juga Vino.
Myrna membuat bubur dari bahan beras. Dia beri santan agar gurih juga fillet ayam, yang dia cincang halus. Tidak dia suir. Dia tak bisa bikin masakan ribet karena Xella sedang sakit.
“Vin, sarapan dulu. Ini kopimu. Kalau butuh pedas aku enggak bikin sambal. Tapi ada kecap pedas di meja makan,” Myrna mengantar kopi ke kamar Xella. Dia lihat Vino masih saja mengusap kening Xella dengan lembut. Myrna meletakkan kopi di nakas. Biar Vino mudah mengambilnya.
“Sudah turun koq panasnya. Obat dokternya sudah bekerja. Tapi aku sarankan bawa ke rumah sakit aja biar bisa cek keseluruhan,” Vino memberitahu kondisi Xella. Sejak terima telepon semalam, eh sudah enggak malam ya, dini hari tadi, Vino tak lagi menggunakan kata lo ~ gue pada Myrna.
“Paaaa …,” Xella membuka matanya dan mencari sosok yang semalam memeluknya.
“Iya sayang,” Vino meletakkan cangkir kopinya dan memasukkan ponsel ke sakunya.
“Jangan tinggalin Xella,” Myrna yang baru masuk kamar putrinya jelas mendengar apa yang Xella katakan. Tadi Myrna keluar untuk mengambil bubur Xella.
“Siapa yang mau tinggalin Xella? Xella anak Papa kan? Papa sayang Xella koq,” Vino memeluk gadis kecil itu.
“Sekarang kamu pipis dulu biar enggak ngompol. Habis itu maem bubur, Papa akan suapin kamu,” Vino mengangkat putrinya dan mengajaknya ke kamar mandi.
***
Hari pertama mempunyai baby twins, Aurel masih belum ada kesibukan. Subuh tadi kedua bayi diantar bergantian untuk minum ASI lalu mereka kembali ke ruang bayi karena masih harus terus tidur di inkubator.
Ahisma sehabis salat Subuh sudah sibuk masak sayur kesehatan bagi ibu yang baru melahirkan, tentu saja masakan dengan resep asli India. Masakan yang dia buat mempunyai manfaat memperlancar ASI dan membuang kotoran perut.
“Uppa mau berangkat nanti atau bareng Umma?” tanya Ahisma pada suaminya.
“Tentu bareng Umma,” sahut Chander Kumar.
“Opung kami titip ini,” bi Eneng memberikan makanan untuk Rajev dan juga perlengkapan Aurel pada bu Tarida agar diberikan pada besannya dengan bahasa Inggris.
Tarida sendiri akan berangkat nanti habis sarapan dengan bapak mertuanya. Dia biarkan besannya berangkat lebih dulu diantar sopir.
“Apa tidak sarapan dulu?” tanya Tarida pada Ahisma.
“Biar kami sarapan bersama Rajev saja. Tadi maid membawakan kami sarapan,” walau tak mengerti bahasanya memang tadi Ahisma tahu kalau bi Eneng membawakan sarapan untuknya dan Rajev.
“Baiklah. Hati-hati. Ini keperluan Aurel. Dia selalu minum suusu coklat pagi dan malam. Juga ada susuu ibu menyusui dan telur setengah matang,” bu Tarida memperjelas apa yang bi Eneng titipkan.
Ahisma juga sudah agak tahu kalau Aurel tak pernah bisa lepas dari minum susuu coklat panas sejak Aurel menginap dirumahnya sebelum perempuan itu menikah dengan Rajev.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL THE BLESSING OF PICKPOCKETING YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL THE BLESSING OF PICKPOCKETING ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta