BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
DARREL KRITIS



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Apa yang terjadi?” tanya Ahisma pada Rajev.


“Darrel memanggil PAPA... its mean almarhum Radit. Aurel takut bila Darrel ikut Radit,”  Rajev mencoba menerangkan mengapa Aurel pingsan.


“Suster istri saya pingsan dan anak kami mengigau,” Rajev memberitahu apa yang terjadi. Sebelum pulang tadi Bagas meminta ada yang mengerti bahasa inggris bila kakak iparnya membutuhkan.


“Baik Tuan, sebentar lagi dokter akan datang,” suster langsung memberitahu.


Rajev langsung menghubungi kakek dan Bagas. Dia sengaja tak menghubungi pak Wicak karena tadi dia lihat ayah mertuanya kurang fit.


“Kakek sudah di lobby rumah sakit, sebentar lagi kakek sampai,” kebetulan memang sehabis istirahat kakek ingin melihat kondisi Darrel. Jadi sekarang dia sudah berada di rumah sakit kembali.


Kakek sangat mengerti mengapa Aurel sangat terpuruk kali ini. Walau ada Aira, tapi tetap saja peninggalan Radit yang asli adalah Darrel. Bukan mengecilkan arti Aira. Sama sekali tidak.


***


Binsar telah dimakamkan. Setidaknya kakek melihat langsung. Bahkan kakek meminta melihat wajah Binsar sebelum wajahnya ditutup kain kafan. Kakek tak mau kalau yang dimakamkan ternyata bukan Binsar si biang kerok.


Sekembali dari pemakaman, kakek menemui Reza di kantor. Dia membicarakan rolling besar-besaran di perusahaan. “Kamu bikin usulannya. Nanti biar Aurel periksa dia setuju atau tidak. Ini semua untuk mematikan bibit yang telah Yulia dan Binsar tabur.”


“Baik Jendral, saya akan segera lakukan. Mungkin saya akan susun bersama Murti. Dia bekerja lebih cepat dari Wina bila masalah seperti ini. Dia lemah di administrasi karena backgroundnya memang bukan sekretaris,” jawab Reza cepat.


“Kamu aturlah. Saya mau kembali melihat Darrel. Saya ada di hotel seberang rumah sakit. Kamu bisa temui saya disana bila ada keperluan,” kakek lalu keluar dari ruangan Reza.


Bagas langsung bersiap menuju ke rumah sakit mendengar dari Rajev kalau Darrel memanggil papa dan Aurel pingsan. Untuk jaga-jaga dia membawa pakaian bersih untuk ganti. Dia tak ingin buang waktu pulang dulu mencari baju bersih bila butuh ganti pakaian.


‘Aku kembali ke rumah sakit ya Yah, Darrel mengigau memanggil bang Radit dan Mbak Aurel pingsan. Ayah kalau enggak fit enggak usah maksain datang ke rumah sakit dulu,’ Bagas meninggalkan stick note dan dia tempel di pintu kulkas sesuai kebiasaan keluarga mereka sejak Aurel masih SMA.


‘Aku berharap Darrel kuat bertahan. Aku enggak bisa ngebayangin kayak apa jadinya Mbak Aurel bila Darrel enggak ada,’ dengan tergesa Bagas mengemudikan mobilnya.


Baru saja Bagas mematikan mesin mobilnya ketika chat Rajev masuk. ‘Darrel kritis. Kami mohon doanya.’


Rupanya kakak iparnya mengirim broadcast pada banyak nomor telepon yang dia tuju. ‘Astagfirullaaaaaaaaah. Kamu harus kuat Nak,’ Bagas seakan bicara pada Darrel. Lalu Bagas segera memforward pesan itu pada Vino dan Reza. Nomor Reza baru dia minta kemarin.


Reza yang baru mau tidur segera mengirim pesan itu pada Murti dam Wina. Dua perempuan itu sore tadi diminta pulang oleh Rajev.


‘Trus kita gimana Pak? Apa perlu ke rumah sakit malam ini?’ tanya Murti cepat.


‘Saya juga bingung. Disana kita ngapain? Kehadiran kita enggak merubah keadaan. Tapi kalau enggak hadir koq rasanya enggak pantes seakan enggak ngertiin kondisi sedih yang bu Aurel rasakan,’ jawab Reza.


‘Tidak perlu ke rumah sakit sekarang. Tunggu berita selanjutnya dari saya! Itu perintah pak Ikhlas. Kita tunggu komando Jenderal aja. Sekarang kita semua segera tidur agar bila sewaktu-waktu harus meluncur, kondisi kita fit. Ponsel jangan silent apalagi off. Selamat rehat,’ Reza memforward perintah kakek pada Wina dan Murti.


‘Baik Pak,’ jawab Murti.


‘Iya Pak,’ jawab Wina.


***


“Aurel sadar dari pingsan, dia memaksa Kakak untuk membawanya kedekat Darrel. Saat itulah kami  melihat Darrel kejang. Kakak langsung memencet bell, uppa dan umma menjaga Aurel yang kembali pingsan dan sekarang Aurel juga di dalam. Dia juga diinfus dan diberi alat bantu pernafasan. Sekarang di dalam ada dua bed orang sakit seperti di kamar ibu,” jawab Rajev lirih.


Sementara Rajev melihat Ahisma ummanya sedang menghubungi Amishaa kakak perempuannya di India. Ummanya menangis sedih bercerita pada sang putri.


Vino yang datang belakangan terlihat terengah-engah. Vino bersiap berangkat kembali ketika menerima khabar Darrel memanggil Radit dan Aurel pingsan. Dan saat khabar kedua yang memberitakan Darrel kritis dia terjebak macet karena ada pohon tumbang. Seharusnya dia tiba lebih dulu dari Bagas.


“Kita berdoa saja, semoga Darrel dan Aurel pulih,” pak Chander berkata pada Amishaa. Dia mengambil alih ponsel istrinya karena dia lihat istrinya juga terpuruk.


Kakek sejak tadi duduk diam di pojokan. Dia hanya berzikir berharap satu-satunya keturunan lelaki Sebayang dari dirinya bisa bertahan. Bila Darrel tak ada, maka garis Sebayang darinya punah.


Sopir kakek datang bawa banyak kopi panas dan martabak telur. Tadi kakek mengirimi pesan untuk membeli lima cup kopi dan tiga cup teh serta empat kotak martabak telur.


“Kalian isi perut. Tengah malam begini, dingin, kalau perut kosong bahaya,” kata kakek sambil mengambil satu cup teh dan dia buka satu kotak martabak telur.


“Uppa, sebaiknya istirahat dulu di hotel agar tidak sakit,” Bagas meminta mertua kakaknya untuk istirahat. Dan sejak pernikahan kakaknya memang kedua orang tua Rajev meminta Bagas memanggil mereka uppa dan umma.


“Kami menunggu dokter selesai memeriksa dulu. Bila hasilnya bagus, kami akan ke hotel. Tapi bila mengkhawatirkaan, kami akan bertahan disini,” jawab Chander tegas. Tak mungkin dia jauh-jauh datang dari India tapi malah hanya menunggu berita di kamar hotel, bukan di rumah sakit.


“Ya benar, Kakek juga seperti itu,” kakek Ikhlas Sebayang berpendapat sama.


“Mengapa lama sekali. Ada apa dengan anakku?” Rajev berkesah pelan. Dia takut suatu hal buruk terjadi pada Darrel lalu Aurel akan semakin terpuruk. Dia ingin masuk ke dalam ruang rawat untuk memeluk Aurel memberinya kekuatan pada istrinya tercinta.


“Kita harus bersabar. Karena dokter mengupayakan yang terbaik untuk Darrel,” sahut kakek mengingatkan Rajev.


“Astagfirullah,” gumam Rajev, dia sadar sudah tak sabar. Rajev berupaya menekan rasa tak sabarnya.


Team dokter keluar dan Bagas segera berdiri paling depan. “Bagaimana kondisinya dokter?”


“Jujur kami belum bisa memutuskan kesimpulan sekarang. Karena bila melihat hasil CT Scan, tak ada kerusakan di otaknya. Kejang yang dia alami kemungkinan karena faktor kejiwaannya. Dia sangat ketakutan sehingga berupaya melepas belenggu itu.” jelas dokter paling senior.


\==========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA :  RENI T, DENGAN JUDUL NOVEL  HASRAT TUAN KESEPIAN YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya. 


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta