
Radit membantu istrinya packing, kemarin Aurel berhasil di wisuda dengan hanya butuh tiga semester untuk menempuh jenjang S2 nya. Sejak seminggu lalu barang-barang Aurel sudah di packing dan hari ini adalah packing terakhir lalu barang akan di kirim ke Jakarta menggunakan ekspedisi Herona.
Aurel dan Radit pamit pada ibu kost dan teman-teman Aurel. Orang tua mereka beserta Bagas dan Aira menunggu di hotel. Mereka akan berlibur beberapa hari di Jogja sebelum kembali ke Jakarta.
***
“Ini brosur rumah buat apa Pap?” tanya Aurel saat Radit memberikan beberapa brosur pemukiman mewah padanya saat mereka berada di kamar. Mereka sudah kembali ke rutinitas di Jakarta
“Mama pilih, yang mana yang Mama mau buat rumah tinggal kita,” kata Radit sambil membuka dasinya untuk mandi.
Aurel tidak menjawab, diletakkannya brosur itu, dia melanjutkan menyiapkan baju ganti suaminya dan memunguti baju serta dasi yang baru saja di buka oleh Radit, lalu dia keluar kamar untuk menyiapkan makan malam.
“Aira sudah ganti baju tidur Mbak?” tanya Aurel pada mbak Nah sambil memberikan baju kotor Radit.
“Sudah Mbak, sekarang sedang digendong Bapak,” jawab mbak Nah. Dirumah ini Aurel tak mau dipanggil Bu atau Ibu. Dia minta semua pegawai memanggilnya MBAK saja. Lebih enak didengar telinganya. Yang disebut Bapak oleh para pegawai adalah pak Iskandar. Karena mereka menyebut Radit dengan panggilan DEN Radit.
Aurel menyiapkan makan malam di meja makan, dia juga mengeluarkan puding sebagai hidangan penutup. Ayah dan Ibu mertuanya tak pernah protes masakan Aurel.
***
“Kamu mau pilih yang mana?” tanya Radit sambil mengusap lembut pipi Aira yang sudah tidur dipelukan Aurel.
“Aku enggak akan milih,” jawab Aurel lirih namun tegas.
“Kenapa? Enggak ada yang kamu suka? Atau lokasinya kejauhan?” selidik Radit bingung.
“Karena aku enggak butuh,” lugas Aurel menjawab. Dia sungguh tidak mengerti mengapa suaminya niat beli rumah untuk mereka tinggali. Aurel meletakkan Aira ditempat tidurnya lalu menutup pagar tempat tidur agar Aira tidak terjatuh.
“Mengapa?” tanya Radit masih bingung.
Aurel duduk di sofa kamar itu yang diikuti Radit dengan wajah bingung. “Apa alasan Abang mau beli rumah?” tanya Aurel lembut.
“Semua istri pasti pengen dibeliin rumah dan pisah ama mertuanya Dek,” jawab Radit menyebut Aurel dengan Dek karena Aurel memanggilnya Abang.
“Aku bukan istri seperti itu. Abang tau, Abang tu anak tunggal. Tugas Abang ngejaga dan ngerawat ibu dan ayah bukan meninggalkan mereka. Dan aku juga punya tugas itu karena mereka juga orang tuaku. Selain itu aku punya tugas mengawasi ayahku sendiri walau tugas utama ada di pundak Bagas nantinya. Apa Abang akan melalaikan kewajiban itu?” tanya Aurel mencoba membuka sudut pandang Radit agar sadar akan kewajibannya terhadap kedua orang tuanya.
“Astagfirullaaaaah, Abang salah Dek,” balas Radit sambil memeluk istrinya. Banyak perempuan lain minta pisah dari mertuanya. Namun peri kecilnya malah mencegah dan menyadarkan tugasnya sebagai seorang anak.
Perempuan lain mungkin dengan senang hati langsung memilih rumah termahal agar bisa untuk hartanya sendiri. Namun tinker bellnya menolak hal itu. Dia sangat bersyukur tidak salah pilih mencari istri.
“Sekarang aja kita sudah sulit bagi waktu. Kita hanya ke rumah ayahku dua minggu sekali dan menginap dua malam saja. Bagaimana kalau kita tinggal terpisah dari kedua orang tua kita Bang?” tanya Aurel.
“Maafin Adek kalau pendapat Adek salah, tapi Adek enggak ingin ibu jadi sedih karena kita ninggalin dia.” Aurel tertunduk. Dia takut Radit tak suka akan pendapatnya.
“Iya ke toko sebentar, aku tadi bawa Aira Pap, rasanya enggak betah kalau lama pisah ama dia,” jawab Aurel melaporkan kegiatannya.
Sejak menikah memang Aurel full yang memegang toko kue Mirasa milik bu Tarida. Sudah tiga cabang yang dia buka sejak management dipegangnya
“Asal kamu enggak kecapean dan Aira enggak rewel ya enggak apa-apa, Papap mendukung semua aktivitasmu,” bisik Radit dan mulai menyerang Aurel untuk berperang. Dan Aurel pun membalas serangan Radit. Dia tak mau hanya pasrah menerima nasib. Mereka bertempur hingga seluruh badan penuh peluh.
***
“Mbak, ada tamu digerbang, belum disuruh masuk sama pak Ujang,” beritahu bik Eneng istri pak Ujang. Bik Eneng sudah lama kerja ikut bu Tarida. Suaminya adalah satpam di gerbang depan rumah pak Sebayang ini.
“Coba tanya lewat intercom namanya siapa dan tujuannya apa. Saya ngerampungin bersiap sekalian mau ke toko cabang. Dan tolong bilang mbak Nah hari ini Aira enggak saya bawa karena jadwal saya full, saya takut Aira kecapean,” perintah Aurel sambil memasukan dompet serta HP-nya ke tas yang akan dia gunakan.
Dia memang biasa ganti tas sesuai warna busana yang dia gunakan sehingga isi tas juga harus pindah. Hari ini dia pakai celana jeans hitam dipadu dengan kemeja putih dengan sneaker putih dan tas putih. Diambilnya kunci mobilnya lalu dia mengunci kamarnya.
Bila siang Aira tidur dikamarnya di lantai bawah, kamar Radit dan kamar orang tuanya selalu dikunci rapat saat mereka pergi. Radit memang memberikan Aurel mobil agar mudah bergerak. Istrinya tak suka disopiri bila tak terpaksa.
“Mbak, kata pak Ujang nama tamunya Yulia, dia bilang pengen ketemu den Radit, mau liat anaknya,” beritahu bik Eneng saat Aurel sampai di lantai bawah.
“Bilang mbak Nah jangan bawa Aira keluar kamar sampai orang itu pulang. Bilang bi Siti dan pak Engkus suruh masuk dan perhatikan saya dari dekat ruang tamu. Bilang pak Ujang suruh perempuan itu masuk dan pak Ujang diminta antar sampai pintu ruang tamu dan tunggu di depan pintu sampai orang itu keluar rumah ini!” Aurel langsung memerintah semua penghuni rumah.
Dia tidak tahu apa maksud kedatangan Yulia setelah 23 bulan kelahiran Aira tanpa pernah datang. Bahkan tanya tentang Aira saja tak pernah.
Aurel mengambil satu telepon pribadinya dan meletakkannya di meja ruang tamu dengan kondisi on merekam saat Yulia masuk di antar pak Ujang.
“Pak Ujang tunggu depan pintu saja biar saya bicara dengan ibu ini sebentar sebelum saya berangkat kerja!” perintah Aurel pada satpam rumah mertuanya.
Aurel menghubungi Radit melalui HP BB nya dan membiarkan Radit menjawab tanpa dia membalasnya, dia ingin Radit mendengar percakapannya dengan Yulia.
“Selamat pagi mbak Yulia, saya enggak akan tanya kabar anda sebagai basa-basi, saya langsung to the poin saja tujuan Mbak kesini mau apa, karena waktu saya terbatas saya harus berangkat kerja!” Aurel membuka percakapan tanpa sopan santun.
=============================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta