BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
HADIAH SPECIAL UNTUK SUAMI SPECIAL



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Honey, terima kasih atas liburannya ya,” Aurel sedang dalam pelukan Rajev didalam kamar mereka.


“Terima kasih buat apa Love? Itu kan semua kamu yang atur. Dan liburan itu juga buatku. Aku juga merasa bahagia merasakan liburan special dengan keluarga,” jawab Rajev sambil memeluk tubuh Aurel yang malam ini bau minyak zaitun sehabis diurut. Rajev memang melarang Aurel mandi lagi karena sudah malam.


“Aku punya hadiah special untuk suami special yang sudah membuat liburan special buat keluarga kita,” Aurel memberi satu kotak kecil berwarna biru donker untuk Rajev.


“Love, mengapa harus ada hadiah?” Rajev terpaku melihat kotak kecil ditangan Aurel. Dia belum mau menerima karena rasanya tak pantas. Hanya karena liburan seperti itu dia mendapat reward dari istri tercintanya.


“Kamu menolak hadiah ini?” tanya Aurel dengan mata mulai berkaca-kaca.


“Bukan menolak Love. Aku hanya merasa tak pantas menerima cintamu yang tak pernah bisa aku ukur. Aku pasti menerima dengan ucap syukur,” Rajev menerima kado itu sambil mengecup bibir istrinya.


“Apa aku boleh langsung membukanya?” tanya Rajev penasaran. Aurel hanya menjawab dengan senyum manis dan anggukan.


Dengan hati-hati Rajev membuka hadiah Aurel.


“Apa maksudmu?” tanya Rajev memandang hadiah dari Aurel. Dia tak mengerti mengapa istrinya memberikan hadiah sepasang sepatu.


Tak masalah bila sepatu itu untuk dirinya. Tapi sepatu yang Aurel berikan adalah sepatu rajut! Lalu buat apa?


Belum lagi ini sepatu BAYI!


‘What?’


‘Baby’s shoes?


‘It’s mean …,’


Rajev mengeluarkan sepatu itu dari kotaknya. Dia lihat satu amplop kecil berwarna hijau ada disana.


‘Assalamu’alaykum Uppa,’ tulisan itu tertera dalam kertas hijau yang ditempeli oleh test pack bergaris dua.


"Wa’alaykum salam,’" jawab Rajev sambil menangis. Dia tak menyangka akan mendapat kejutan sangat manis seperti ini dari istri tercintanya.


Aurel memeluk Rajev yang terisak bahagia. Dia pun ikut menangis. Ya keduanya sangat bahagia tas kehamilan Aurel kali ini.


“Love … terima kasih. Kamu telah sabar menghadapiku satu tahun ini,” mereka bertunangan satu tahun lalu saat ulang tahun Darrel ke dua. Saat ini pernikahan mereka baru berjalan sembilan bulan.


“Love. Kita baru tiba sore tadi. Bagaimana kamu bisa siapkan hadiah ini?” tanya Rajev curiga.


“Itu aku ketahui lima hari sebelum kita berangkat. Aku tak mau memberitahumu saat itu karena aku yakin engkau akan membatalkan perjalanan kita ke India. Aku tak ingin Aira kecewa liburannya batal. Dan aku juga tak ingin umma sedih karena sudah mengundang kerabat untuk pesta ulang tahun Darrel.”


“Aku tak bisa membayangkan ternyata uppa mengundang semua orang lalu batal karena kamu membatalkan perjalanan,” jawab Aurel dengan senyum manisnya.


“Aku akan memberi khabar pada Umma,” Rajev memberitahu Aurel.


“Bagaimana bila besok saja? Sekalian kita kirim foto hasil USG?” tanya Aurel. Karena dia ingin periksa kehamilan.


“Astagfirullah. Uppa lupa, kita besok periksa ke dokter ya sayang,” Rajev mencium perut Aurel.


“Assalamu’alaykum adeknya kakak Aira dan abang Darrel,” sapa Rajev pada calon bayi diperut istrinya.


Aurel ingat bagaimana sabarnya Rajev menemani dia belajar padahal sedang sibuk di kantornya saat dia semester awal kuliah S2-nya di Jogja dulu.


Beda waktu Jogja ~ Qatar itu empat jam. Saat Aurel sedang sibuk belajar, Rajev sedang bergulat dengan berkas ditangannya. Kadang dia sedang sibuk di lapangan. Tapi lelaki itu akan setia menemani kekasihnya belajar. Selalu memberi attensi dan semangat walau saat itu sikap Aurel masih tak bisa menerima cintanya sepenuhnya.


Aurel tetap tak mau bila mereka LDR. Andai saat itu Rajev langsung memutuskan pindah ke Indonesia seperti saat ini, mungkin pernikahan Aurel dan Radit tak akan terjadi. Tapi itulah takdir. Hanya Allah yang tahu.


“Love. Jangan pernah satu kali pun kamu berpikir cintaku pada Aira dan Darrel akan berkurang karena kehadiran anak kita kelak. Aku tetap akan mencintai mereka seperti saat ini,” Rajev memberitahu Aurel lebih dulu. Dia tak ingin pikiran istrinya menduga yang tidak-tidak.


“Ya sudah, kita tidur ya? Besok mau periksa dede ke rumah sakit kan?” ajak Aurel. Dia sudah lelah dan ingin tidur.


“Tapi Honey, aku mau ke dapur dulu. Aku lapar,” Aurel batal tidur. Perutnya lapar. Dia ingin makan sesuatu dan minum sekoteng lagi.


“Baiklah. Ayok aku temani,” jawab Rajev. Dia pun memakai sandalnya dan ikut keluar dengan Aurel.


Aurel memanaskan makanan di micro wave. Dia juga merebus kembali air sekoteng dan meracik dua gelas besar. Satu untuknya satu untuk Rajev. Dia tak tahu apakah suaminya akan ikut makan. Yang pasti dia sediakan saja sekoteng.


Aurel makan sedikit nasi dengan dua potong rendang dan banyak gurame asam manis yang tersedia. Nasinya memang hanya sedikit tapi lauknya banyak. Itu ciri khas Aurel. Bahkan kadang dia makan tanpa nasi. Kebiasaan sejak dia SMP. Bukan karena diet.


Rajev memperhatikan saja Aurel makan. Dia cukup menemani dengan minuman sekoteng yang cukup mengenyangkan karena ada irisan roti kering dan juga menggunakan susuu kental manis.


Kali ini tumben Aurel tidak menyuapi Rajev. Biasanya walau suaminya tak ingin ikut makan, dia selalu menyuapinya.


***


Murti masih tak percaya mengingat ucapan Yon sore tadi sepulang mereka dari kantor. Sekarang mereka selalu berangkat dan pulang kantor bersama. Yon tak membolehkan Murti berangkat sendiri dengan motornya. Dan hubungan mereka juga sudah diketahui oleh rekan kantor.


“Jeng, kapan ibu dan bapak dari Jogja bisa bertemu dengan ayah ibumu untuk melamarmu?” demikian pertanyaan Yon di mobil sore tadi.


“Apa Mas serius? Apa enggak kecepetan?” tanya Murti.


“Enggak Jeng. Mas serius dan ibu bapak juga enggak ingin kita menunda karena sekarang kita satu kota dan satu kantor. Di kantor kita sering dapat tugas pergi keluar kota bersama. Mereka hanya tak ingin ada omongan tak baik tentangmu. Mereka ingin menjaga image mu,” jawab Yon dengan kesungguhan hati.


“Sebaiknya Mas matur dulu ke ayah dan ibu, biar mereka yang memutuskan kapan siap menerima bapak dan ibu. Aku siap kapan aja kamu lamar koq Mas,” jawab Murti menenangkan. Dia tak mau menunda niat baik kekasihnya.


“Kalau begitu katakan pada ayah dan ibu, aku akan menemui mereka lusa ya Jeng. Semoga mereka berkenan menerimaku,” jawab Yon. Lelaki ini memang membawa mobil miliknya dari Jogja. Mobil type lama. Tapi setidaknya dia tak perlu repot mencari ojol setiap pergi dan pulang kerja.


“Iya Mas. Akan aku katakan pada ayah dan ibu,” jawab Murti. Dia segera turun karena harus melatih pencak silat. Hari ini jadwalnya untuk melatih.


***


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  TELL LAURA I LOVE HER   YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta