
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\=================================================================================
‘Dia jadi juru bicara UGM. Dia memperkenalkan dirinya. Masa Abang bisa lupa data diri dia?’ jawab Radit dengan semangat.
“Assalamu’alaykum Dek,” sapa Radit saat mereka sedang antri makan malam, Radit sengaja mencari kesempatan agar bisa kembali mendekati peri kecilnya.
‘Suara itu …’ batin Aurel. Perempuan itu sedang menunduk sehingga tak melihat siapa yang menyapanya.
Aurel menengadahkan wajahnya untuk melihat siapa yang menegurnya dan memanggilnya dengan sebutan sayang dek. Wajah yang dirindunya berdiri tepat di depannya. Ada tatapan rindu disana, wajahnya agak tirus sehingga garis rahang nya terlihat sangat jelas. Dia menggunakan kaos turtle neck salur berwarna putih dengan almamater kuning tempat Aurel dan sosok itu mengambil kuliah S1 dulu. Dengan celana corduroy coklat tua yang serasi dengan jaket almamater nya.
“Wa’alaykum salam … Abang …” Aurel tercekat melihat sosok itu berada satu lokasi dengannya. ‘Ternyata dia juga ambil S2 di kampus kami dulu,’ batinnya.
“Apa khabar?” tanya Radit sambil mengulurkan tangannya.
“Baik Bang. Sangat baik, Abang ternyata ambil S2 juga,” jawab Aurel gugup.
“Iya, tahun lalu Abang dan Mirna ambil S2, tapi yang terpilih seleksi kegiatan ini hanya Abang,” jawab Radit.
“Owh sudah dari tahun lalu. Apa akan selesai di semester ini?” selidik Aurel.
“Sepertinya enggak kekejar selesai semester ini, semester depan bisanya. Maklum sekarang kan enggak full kuliah, tapi di sambi kerja,” jelas Radit.
‘Ya benar, itu sebabnya aku enggak mau kerja formal, karena aku ingin focus kuliah agar bisa selesai 2 semester, paling tidak 3 semester saja,’ batin Aurel membenarkan keterangan Radit.
Mereka menyelesaikan makan dan kembali beramah tamah dengan sesama peserta, ada beberapa kenalan Aurel, baik teman SD, SMP, SMA dan S1 sehingga suasana akrab mudah tercipta.
***
“Capeeeeeknyaaaaaaaaaa,” keluh Aurel pada Siska teman satu kamarnya, Siska mahasiswa S2 semester tiga dari jurusan ilmu sastra. Mereka baru saja selesai kegiatan hari pertama Jambore mahasiswa S2.
Cape yang di maksud adalah cape otak karena mereka hanya berbagi ilmu dan diskusi saja, bukan cape physik, paling hanya pegal karena sepanjang hari duduk dan berdiri sesaat saat bicara di depan kelas saja.
“Nanti malam kamu mau ke mana Rel?” tanya Siska.
“Mbak Siska pasti mau jalan dengan mas Aji ya?” goda Aurel karena kebetulan tunangan Siska juga ikut acara ini, sebagai perwakilan dari jurusan peternakan.
“Aku bingung Mbak, karena ada teman yang juga ngajak keluar bareng, sesama iluni,” beritahu Aurel.
Saat istirahat siang tadi memang Radit mengajaknya keluar malam ini ketika tidak sengaja mereka ketemu di mushola.
“Ya wis have fun. Malam berikutnya kan kita bisa jalan. Kalau malam terakhir enggak bisa karena akan diisi acara api unggun,” jelas Siska.
“Iyo Mbak, aku ikut acara besok malam aja,” kata Aurel sambil merebahkan badannya dan mencoba tidur walau hanya sekejap.
Radit mengajak Aurel makan di rumah makan aneka kambing. Selain satenya yang super enak karena potongan dagingnya besar, gule dan sop di sini isinya kita pilih sendiri sesuai selera kita. “Abang mau gule apa sop?” tanya Aurel.
“Gule aja Dek, isinya sesuka Adek,” jawab Radit.
Aurel mengambil isi gule untuk satu mangkok saja dan menyerahkannya pada petugas serta memesan dua puluh tusuk sate serta memesan tiga gelas lemon tea, sementara Radit sudah mengambil satu piring nasi dan satu piring kosong.
Aurel memang hanya sedikit makan nasinya, maka Radit hanya mengambil sepiring nasi saja, akan dia ambilkan Aurel nasi dari piringnya. Itu kegunaan piring kosong tadi.
Sedang Aurel sengaja memesan 3 gelas lemon tea karena memang mereka berdua akan kurang bila hanya masing-masing satu gelas. Namun berlebih bila masing-masing dua gelas, sehingga nanti gelas cadangan adalah jatah tambah minum mereka.
Radit dan Aurel memang sudah hafal kebiasaan pasangan masing-masing saat mereka bersama dulu. Saat belum ada tragedi kantin yang menghempaskan semua harapan mereka.
“Abang boleh bicara serius enggak Dek?” tanya Radit saat mereka menunggu pesanan mereka diantar.
“Silakan Bang,” jawab Aurel yakin, karena dia juga ingin menuntaskan semua masalah yang ada antara mereka yang lost kontak tanpa penjelasan apa pun saat itu.
“Pertama Abang minta maaf atas kejadian itu, tapi sampai sekarang Abang dan ayah juga yakin kalau Abang enggak ngelakuin itu. Maka ayah enggak ingin pernikahan Abang di publish, bahkan saat akad nikah ayah menyita semua HP orang yang hadir agar tidak ada dokumentasi apa pun,” prolog Radit.
“Ayah terus menyuruh orang untuk menyelidiki apa motif perempuan itu selain harta Abang. Untuk masalah harta, ayah benar-benar memberi pagar sehingga pihak perempuan itu sama sekali enggak dapat apa pun. Ayah enggak memberi celah, karena ayah yakin mereka mengincar harta Abang,” lanjut Radit.
“Uang terbesar yang dia dapat adalah setelah AIRA, nama bayi yang dia lahirkan di serahkan pada Ibu. Ini sesuai kesepakatan. Bila dia ingin merawat bayi itu setelah lahir maka Abang akan memberi nafkah dua juta per bulan hingga bayi berusia tiga tahun dan dia akan dapat kompensasi 150 juta cash bila setelah bayi lahir dia memberikan hak asuh ke Abang,” Radit menarik napas panjang bersamaan pesanan mereka datang.
“Kita seperti biasa, cerita sambil makan ya Bang, enggak perlu nunggu makan selesai kan?” tanya Aurel.
“Iya, kita sambil makan aja,” jawab Radit sambil menuangkan sedikit kuah gule ke nasinya.
“Abang enggak ngerti, ibu seperti apa yang tega langsung ninggalin anak yang baru dia lahirkan seperti perempuan itu. Bahkan sampai saat ini 5 bulan usia Aira, dia enggak pernah ingin tau kondisi anaknya,” jelas Radit.
“Maksud Abang?” tanya Aurel.
“Kan Abang sudah bilang, ayah bikin perjanjian pra nikah bila memang dia ingin dinikahi. Nah poin tentang nafkah adalah dua juta per bulan hingga bayi berusia 3 tahun atau kompensasi 150 juta bila dia menyerahkan pengasuhan bayi ke abang.” Radit menambah sate untuk dirinya.
“Dia memilih poin kompensasi. Padahal maksud ayah kalau bayi diatas 3 tahun maka jatah bulanan tentu akan ditingkatkan. Sejak dia menandatangani penyerahan hak asuh bayi di hari ketiga setelah melahirkan, dia pergi dan surat cerai langsung Abang urus,” jelas Radit sambil kembali mengambil satenya.