
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\====================================================================
“Mau maem , apa mau mik tutus?” tanya Aurel pada Aira.
“Iyaaa, tutus” jawab Aira ambil mengangguk pelan. Aira bilang sussu itu tutus.
Radit yang mendengar jawaban Aira langsung berkata “Sebentar ya, Papap bikinkan.” Radit bergegas menaruh tas bajunya dan segera membuat susu hangat untuk Aira. Anak perempuan yang entah siapa ayah biologisnya karena ternyata Aira bukan anaknya. Tapi untuk dirinya dan Aurel, Aira anak mereka.
Radit memberikan botol susuu pada Aurel untuk di berikan pada Aira. Aira meminum susunya sambil memandangi wajah Aurel, wajah yang ia tahu sebagai ibunya. Tangan kanan Aira memegang botol susuu dan tangan kirinya mengusap wajah Aurel
***
“Ayah dan Ibu keluar makan siang dulu ya, nanti kalian gantian bila kami sudah selesai makan siang,” pamit bu Tarida, dia tahu anak dan menantunya butuh waktu untuk bicara berdua.
“Iya Bu. ibu juga istirahat aja. Sejak kemarin Ibu enggak bisa istirahat,” jawab Aurel. Dia sangat menyayangi ibu mertuanya itu.
Sepeninggal kedua orang tuanya Radit mendekati tempat tidur dan mencoba memeluk Aurel, tapi Aurel menepis tangannya.
“Mam,” sapa lembut Radit. Namun tak digubris oleh Aurel.
“Please love, jangan hukum Papap seperti ini. Papap enggak bisa kamu giniin. Kalau tadi pagi Bagas enggak bilang kamu ada di rumah ayah. Papap enggak akan bisa tidur sama sekali,” jelas Radit, dia memang sangat khawatir akan keberadaan Aurel sejak malam tadi.
“Papap minta maaf kalau kembali Papap salah, tapi serius katakan salah Papap dimana? Kamu boleh pukul Papap. Kamu boleh tampar Papap, tapi jangan pernah diem begini,” desah Radit putus asa.
“Kamu enggak salah dan enggak akan pernah salah. Tapi mohon menjauh atau saya akan pergi dari sini,” jawab Aurel lirih. Dia tidak ingin membuat Aira terbangun.
Radit memegang dagu Aurel dan mengarahkan wajah istrinya agar bisa menatap matanya “Coba lihat mata Papap dan ucapkan apa yang barusan kamu bilang,” pinta Radit.
Tentu saja Aurel tidak sanggup melihat mata orang yang sangat dia cintai itu. Dia sudah sangat takut. Namun dia merasa tak sanggup untuk terus berada disisi Radit bila terus di bayangi perpisahan dengan Aira.
Terlebih dia tahu, Radit tak ada hubungan darah apa pun dengan Aira. Sehingga tanpa adopsi dia tidak punya kekuatan hukum apa pun terhadap putri kecilnya itu. Aurel hanya memejamkan matanya karena begitu matanya terbuka akan langsung melihat wajah suaminya. Tangan suaminya masih memegang dagunya
“Kamu ji-jik lihat wajahku sehingga enggak mau lihat aku lagi?” tanya Radit. Aurel hanya menggeleng menjawab pertanyaan itu.
“Lalu kenapa?” desak Radit.
“Please love, kita bisa bicarakan semuanya,” lanjut Radit lagi saat melihat istrinya masih membisu. Dikecupnya selintas bibir istrinya penuh sayang.
Bagi Radit, dia hanya mencintai satu perempuan sebagai cinta pertama yaitu Aurel. Tidak ada perempuan lain. Begitu pun bagi Aurel, dia hanya mencintai satu laki-laki sebagai cinta pertamanya yaitu Radit.
“Kamu satu-satunya perempuan yang aku cinta dan kamu telah membuatku putus asa,” keluh Radit sambil meneteskan air mata.
Dilepaskannya tangannya dari dagu istrinya dan dia duduk di sofa. Dipandanginya dari sofa sosok perempuan yang sejak melihat sosok itu pertama kali telah membuatnya jatuh cinta.
Aurel menarik nafas panjang, diliriknya suaminya duduk tertunduk di sofa, ingin dia menghampiri dan memeluk sosok yang saat ini terlihat sangat lelah.
‘Pasti Abang lelah dengan kelakuan burukku’, pikirnya.
‘Bagaimana bila Abang marah dan enggak mau memaafkanku?’ pikirnya lagi. Aurel tentu saja ketakutan bila Radit marah, karena sejak mereka kenal Radit sama sekali tak pernah memarahinya, bahkan berkata keras pun tak pernah.
Aurel tak ingin Radit marah, Aurel tak ingin Radit membentaknya karena pernah dua kali Aurel melihat Radit marah ketika di kampus dulu.
Pertama saat ada seorang perempuan yang sengaja membully Aurel untuk menjauhi Radit dengan mengatakan Radit adalah kekasihnya
Dan kedua saat Vino terlambat memberitahu Radit kalau Aurel akan terlambat datang ke kampus sebab urusannya belum selesai, saat itu Aurel titip pesan via pacarnya Vino karena Aurel lupa bawa ponsel.
Hanya dua kali itu Aurel penah melihat Radit marah, selebihnya walau Radit marah tak akan diumbar dengan berteriak. Radit pria paling sabar yang Aurel tau.
‘Apa aku samperin ya, apa aku minta maaf karena kelakuanku ngambeg sejak kedatangan Yulia kemaren? Kan emang bukan Abang yang salah padaku,’ pikiran Aurel makin bingung.
Antara takut, marah, kesal tapi kangen karena sejak mereka serius akan membina rumah tangga tidak pernah sekali pun mereka tak berkabar sampai lebih dari 2 jam.
Akhirnya Aurel memutuskan menghampiri suami tercintanya yang sejak tadi memandanginya dengan mata yang mulai terlihat ada sedikit genangan air mata.
‘Sejahat itukah aku menyakitinya hingga dia terluka?’ pikir Aurel. Dipeluknya suaminya yang masih duduk sehingga kepala Radit berada diperutnya.
“Maafin Adek,” pintanya lirih.
Radit memeluk erat istrinya, tanpa malu dia terisak. Lebih dari 24 jam istrinya tidak mau menjawab chat dan mengangkat telepon darinya. Semalam bicara sebentar dikamar pun istrinya marah dan tak mau dipeluknya.
“Jangan pernah hukum Abang seperti ini. Abang enggak sanggup,” pinta Radit lirih
“Adek minta maaf, dan enggak akan ulangi lagi,” jawab Aurel sambil duduk sehingga bisa meletakan kepalanya didada suaminya, dadaa yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman.
“Abang salah apa sampe Adek marah begitu?” tanya Radit setelah tangis mereka berdua reda.
“Abang enggak salah. Adek cuma ketakutan kalau Aira sampe diambil dari Adek. Adek enggak mau kehilangan Aira,” keluh Aurel cemas.
“Siapa yang bakal ngebiarin Aira diambil dari kita? Kan ayah juga udah kasih tau kamu hari Senin kita bakal mulai urus proses adopsi Aira,” bujuk Radit mengusap lembut puncak kepala Aurel. Mereka memang tak pernah lama marah tanpa penyelesaian masalah. Mereka selalu diskusi bila ada masalah tak sependapat.
“Trus tadi malam ngapain pergi tanpa bawa dompet dan ponsel? Bikin Abang kalang kabut aja,” desak Radit lagi.
“Adek kesinggung ama Abang. Mentang-mentang Aira bukan anak Adek, Abang enggak ngebolehin Adek gendong Aira!” ketus jawaban Aurel ingat kekesalannya semalam.
“Tu gitu ‘kan, sukanya buruk sangka ke Abang. Abang ambil Aira biar kamu engga kkecapean, kan dari poli anak kesini jauh,” Radit menerangkan alasannya mengapa mengambil alih Aira dari gendongan Aurel.