BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
ORDER DIAM-DIAM



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Dennis baru akan keluar ruangan ketika Rajev dan tiga rekannya datang. Assalamu’alaykum Bharrya. Kamu masih sibuk?” tanya Rajev sambil mengecup kening Aurel dan mengusap perut buncitnya.


“Wa’alaykum salam Bharthave, enggak sibuk koq. Dennis datang hanya karena kangen ama aku aja,” jawab Aurel santai.


“Yeee, aku mah cuma kangen ama Wina,” balas Dennis pada Aurel.


“Saya langsung pamit ya. Kalian pasti butuh waktu untuk bicara kan?” Dennis pamit pada Rajev.


“Ha ha ha, kemana kekasihmu?” goda Rajev. Dia tahu Dennis sedang menjalin hubungan dengan Wina.


“Istrimu menugaskan kekasihku pergi keluar kantor agar aku tak bisa menemuinya,” Dennis mengadu pada Rajev mencari pembelaan.


“Hus hus hus, pergi sana …, bikin ribut saja di ruanganku,” Aurel mengusir Dennis. Semua tertawa dan Dennis langsung pamit.


Aurel lalu berkenalan dengan orang yang datang bersama suaminya. Mereka ingin membangun sebuah apartemen khusus. Tanpa kesulitan Aurel merinci persyaratan yang harus merekaa miliki. Lalu dia bertanya apa sudah ada bayangan lokasi dan semua aspek yang berkaitan dengan pembuatan keinginan mereka.


‘Dia kan kuliah A1 nya hukum internasional dan S2 nya ambil managemen perusahaan. Mengapa dia begitu menguasai masalah bahan bangunan, izin dan lain-lain?’ Rajev makin kagum terhadap kemampuan istrinya.


Belum lagi kemampuan masak terutama membuat kue. ‘Memang kamu perempuan istimewa. Aku sangat beruntung memilikimu sebagai teman hidup.’


Cukup lama mereka bicara. Dan sejak tadi semua disuguhi snack dan sirop oleh Aurel. Dia sendiri ngemil lapis legit miliknya yang tak pernah boleh kosong.


***


Vino menunggu rekanan Myrna pamit. Saat mereka berdiri Vino menghampiri Myrna. Dia ingin mereka bicara sebelum Myrna pulang.


“Aku ingin kita bicara,” bisik Vino saat Mahesa sedang pamit. Tentu saja Myrna menjaga wibawa didepan rekanannya.


“Mari Bu,” Gilang mengulurkan tangannya.


“Terima kasih kehadirannya pak Gilang. Semoga lain kali saya bisa berkunjung ke pengrajin anda di Kalimantan” Myrna membalas jabat tangan Gilang.


“Saya tunggu lho Mbak Myrna. Tidak usah menginap di hotel, tidur di gubuk saya saja,” Rukmi senang bila Myrna bisa berkunjung ke Kalimantan.


“Saya berharap bisa keliling daerah, langsung melihat proses pembuatan kerajianan yang saya jual Bu,” jawab Myrna.


“Kita berdua bertemu lusa ya. Janga lupa share lock. Biar saya lebih mudah mencari kantormu,” Mahesa menggenggam erat tangan Myrna dengan kedua tangannya.


“Siap. Besok begitu tiba di kantor akan saya share lock,” jawab Myrna dengan ramah pada Mahesa.


Akhirnya ketiganya keluar resto dan tinggalah Myrna dan Vino.


“Ada perlu apa?” tanya Myrna pelan. Dia sudah lelah. Bukan lelah karena baru saja bicara dengan rekanannya. Tapi lelah hatinya berkaitan dengan hubungan dirinya dan Vino.


“Elo dengerin dulu. Gue enggak bermaksud njatuhin harga diri lho sebagai janda dua anak. Maksud gue dasar hubungan kita selama ini adalah sahabat. Kita nyaman dengan hubungan itu. Lalu kalau kita tingkatkan jadi menikah, apa kita enggak kagok?” Vini menjelaskan apa pemikiran dalam otaknya.


“Justru sejak seminggu lalu aku bilang : udah enggak usah dipikirin lagi. Biar kita enggak mumet apalagi kagok. Anggap aja yang kemaren itu enggak pernah kamu dengar,” jawab Myrna.


“Sudah ya. Aku mau pulang. Cape,” Myrna ingin bangkit.


“Kita harus clear in semua Myr. Jangan nge gantung seperti ini,” pinta Vino.


“Kamu yang bilang kita sahabat kan? Sebagai sahabat, aku minta kamu enggak perlu lagi pikirin apa yang pernah aku ucapkan. Anggap saja sudah aku hapus menggunakan tipp ex. Tak pernah ada perkataan itu. Oke Assalamu’alaykum,” Myrna langsung berdiri dan menuju mobilnya.


“Wa’alaykum salam,’ lirih Vino menjawab salam yang Myrna sampaikan.


***


Waktu pernikahan Yon dan Murti kian dekat. Dua minggu lagi mereka akan resmi menjadi pasangan halal. Murti mulai cuti satu minggu lagi sedang Yon mulai cuti sepuluh hari lagi.


Usia kandungan Aurel sudah masuk bulan ke tujuh, jalannya semakin sulit. Dan Dennis telah resmi ‘melamar Wina pada tetua keluarga Wina.


‘Melamar’ yang dimaksud Wina adalah Dennis dan ibunya dia perkenalkan dengan para pakde dan budenya lalu minta restu, mereka tidak meminta Wina seperti proses melamar pada umumnya.


Nanti kapan Wina akan menikah juga tak melibatkan mereka. Mereka hanya akan diundang. Karena selama ini mereka juga tak peduli pada keberadaan Wina.


Dennis mulai memepersiapkan pernikahan yang ia inginkan tentu dengan saran yang Wina berikan. Sebagai lelaki dan sebagai pemimpin perusahaan tentu pernikahan Dennis tidak bisa yang ala kadarnya.


Baju pesta, gedung dan cattering semua Dennis yang urus. Wina hanya boleh duduk manis. Tak boleh capek.


“Kamu mau honey moon kemana Yank?” tanya Dennis.


“Ke kepulauan Maluku ya? Terutama ke Haruku,” jawab Wina. Jawaban yang sama sekali diluar dugaan Dennis.


Kalau Wina mau ke Paris, ke Australia, Belanda atau Maldives pun Dennis sanggup. Tapi calon istrinya malah ingin tahu kampung halaman ibunya. Hal yang sangat diluar ekpektasinya. Itulah specialnya Wina.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL THE BLESSING OF PICKPOCKETING  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL  THE BLESSING OF PICKPOCKETING  ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta