BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
LAMARAN DADAKAN VINO



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Vino menatap Myrna dengan lekat. Saat ini sedang lampu merah. ‘Aku harus selesaikan semua hari ini agar semua tak ada yang dirugikan. Kerjaan kantor juga bisa aku tangani dengan baik bila pikiranku tenang,’ batin Vino


“Sesuai dugaan dokter Kusno semalam Myr. Radang Xella yang membuat dia panas tinggi. Upayakan jangan makan yang merangsang tenggorokannya meradang seperti pemanis buatan, jajanan anak yang banyak mengandung pengawet, pewarna dan juga MSG. Dan upayakan jangan banyak berteriak,” nasihat Tarida.


"Iya Opung. Kakak Xella enggak akan banyak teriak lagi,” Vino yang mewakili Xella.


“Iya kan Kak?” tanya Vino. Dan gadis dalam pangkuannya itu mengangguk.


Tarida menambah obat lebih tepatnya vitamin untuk cucu keponakannya itu. “Obat dari dokter Kusno itu teruskan bila masih panas saja. Kalau sudah tidak panas hentikan. Kalau yang ini harus habis karena antibiotik. Yang lain hanya vitamin saja.”


“Baik Opung. Terima kasih,” Myrna mengucapkan terima kasih pada bibi nya. Didepan anak-anak dia memanggil opung karena kadang anak-anak mengikuti panggilan yang kita katakan.


“Kami permisi dulu nanboru ( tante ) biar Xella istirahat,” lanjut Myrna.


“Itu tadi ada obat nafsu makan. Dan anti biotiknya akan membuat dia ngantuk. Ini surat istirahatnya agar gurunya tahu kalau dia benar sakit,” Tarida melengkapi resep yang dia berikan dengan surat istirahat dokter.


Xella memang tertidur lagi saat pulang dari rumah sakit. Mungkin reaksi obat yang dia minum saat habis sarapan tadi. Obat dari dokter Tarida juga sudah Myrna tebus karena Xella tak mau lepas dari Vino kecuali saat Vino menyetir mobil.


Vino membaringkan Xella di ranjangnya. Baru saja selesai Axel sudah memeluk kakinya dengan manja.


“Papa ndong,” pinta lelaki kecil itu.


“Siap jagoan. Sini papa gendong,” Vino membawa Axel keluar kamar Xella. Myrna menyelimuti gadis kecilnya dan menyalakan pendingin ruangan agar putrinya lelap.


“Ayok aku antar beli kado untuk Aurel sekalian kita makan siang,” Vino mengajak Myrna keluar rumah. Axel sudah selesai disuapi Vino dan kini lelaki kecil itu sedang disuruh tidur siang bersama pengasuhnya.


“Mbak, kalau Xella bangun katakan saja kalau papanya sedang keluar beli kado buat bayi tante Aurel dan sebentar lagi bakal cepat pulang kalau Xella enggak rewel. Kalau tetap rewel telepon saya ya,” Myrna meninggalkan pesan pada pengasuh Xella.


“Baik Bu,” jawab si pengasuh dan bersiap menunggui Xella. Biasanya tentu tidak ditemani, karena begitu bangun tidur Xella akan keluar kamar. Tapi karena sedang sakit nanti Xella akan teriak bila bangun.


Vino sengaja memilih bicara dulu sebelum mereka membeli kado untuk Aurel. Dia memilih rumah makan yang nyaman untuk mereka bicara.


“Aku mau kita bicara,” jelas Vino sehabis mereka memesan makanan.


“Ingat aku pernah bilang kalau rasa yang ada diantara kita selama ini adalah rasa nyaman sebagai sahabat?” tanya Vino pada Myrna. Dia tatap wajah itu dengan lekat, tapi Myrna menundukkan tatapannya.


“Saat itu aku BUKAN MENOLAKMU. Aku hanya ingin kita berpikir dulu, apakah kita bisa mengubah rasa itu menjadi sayang sebagai pasangan? Menjadi cinta beda jenis bukan lagi sebagai sahabat yang selama ini kita jalani.”


“Sayang kamu berpikir pintas. Kamu langsung berpikir aku menolakmu karena kamu MERASA TAK PANTAS untukku, sebab kamu janda anak dua.”


“Kamu enggak tahu aku sedang mengolah pikir bagaimana bila aku langsung setuju usulmu, lalu orang tuaku menolak? Apa tidak berabe? Kalau aku tetap milih kamu, aku membuat orang tuaku kecewa. Dan kalau aku memilih orang tuaku, aku membuatmu kecewa.”


“Itu sebabnya aku mau minta kamu sabar. Tapi kamu langsung marah tanpa mau mendengar semua penjelasanku,” Vino meneguk lemon tea yaang baru datang sebelum pesanan makanan mereka datang.


“Berkaitan dengan sakitnya Xella. Aku yakin kemarin di sekolah dia menjerit-jerit karena dibully temannya lagi. Aku juga sudah konsultasi dengan mami dan papi. Sekarang aku hanya akan bilang padamu satu kali. Hanya satu kali. Tak akan ada penawaran kedua.” Vino menatap mata Myrna yang sekarang menatapnya karena memang Vino menghentikan kata-katanya sampai Myrna melihatnya.


“Aku ingin kita segera menikah. Tak perlu memikirkan pesta dulu. Aku hanya ingin kita sah dimata agama dan negara demi anak-anak. Sesudah itu baru terserah mau bagaimana pesta yang akan dibuat kedua orang tua kita,” tuntas sudah Vino bicara.


“Kamu serius?” tanya Myrna tak percaya.


“Apa masalah seperti ini bisa kita pakai untuk candaan?” Vino balas bertanya.


“Baik. Aku bersedia,” sahut Myrna. Dia tak ingin anak-anaknya menunggu terlalu lama.


“Oke. Besok malam aku dan mami papi akan ke rumah orang tuamu untuk melamarmu. Dan maksimal satu minggu dari besok kita harus sudah menikah


\===========================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta