
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Murti membelalakkan matanya. Dia menoleh pada Wina dan Reza. ‘Bagaimana mungkin lelaki ini ada disini?’
‘Aku harus bagaimana? Baiklah. Aku harus profesional. Bisa dipites kakek bila aku meloloskan dia dengan nilai istimewa karena hubungan kami. Aku akan profesional,’ batin Murti.
‘Mengapa dia malah diam dan tidak menyuruhku duduk?’ Sriyono diam berdiri. Tak mungkin dia langsung duduk. Itu akan membuat nilainya berkurang.
‘Aku akan berupaya menjawab pertanyaan darinya dengan jawaban terbaik. Aku akan profesional,’ batin Sriyono.
“Selamat pagi dan silakan duduk. Pertanyaan pertama, dari mana anda mendapat info tentang lowongan pekerjaan di perusahaan kami?” tanya Murti datar. Ekspresi yang sama dengan ekspresi untuk peserta lainnya.
“Dari iklan loker ( lowongan kerja ) sebuah perusahaan yang khusus untuk merekrut tenaga kerja Bu,” jawab Sriyono.
“Mengapa anda tertarik bergabung dengan perusahaan kami?”
Lima pertanyaan Murti bisa Sriyono jawab dengan baik. Lalu Sriyono dipersilakan lanjut ke meja Reza.
***
“Jawaban untuk semua peserta harus kita berikan malam ini. Agar peserta yang dari luar daerah bisa mengatur waktu. Mereka pasti harus kembali ke kota asal mereka dulu, baru bisa kerja di kantor kita,” ucap Reza saat mereka bertiga sedang diskusi sambil makan siang yang terlambat. Mereka berada di ruangan Reza yang cukup besar, karena dulu ini adalah ruangan almarhum Radit.
Tentu ruangan Aurel sekarang lebih besar, karena sudah dirombak oleh Rajev. Ruang kerja Aurel sekarang diubah menjadi ruang depan dan ruang dalam. Ruang depan adalah ruang untuk Murti dan Wina.
Ruangan dalam khusus untuk Aurel. Diruang dalam ada kamar untuk sang nyonya istirahat, atau anak-anak istirahat. Jadi walau Aurel sendiri di ruang dalam, tapi ada Murti dan Wina yang menjadi penjaga di ruang depan.
Dulu ruang Wina diluar dan Aurel sendirian. Ketika Radit meninggal Wina diminta masuk ke dalam ruang Aurel. Sekarang dengan Rajev semua diubah. Tentu Rajev tak enak bila dia masuk lalu Wina malu dan memilih keluar ruangan. Itu sebabnya dia mengusulkan ruang baru yang sekarang ini.
“Kemaren pak Reza bilang sesungguhnya yang hari ini dipanggil dipastikan sudah diterima sebagai pegawai. Katanya wawancara adalah pemantapan seleksi fisik saja?” tanya Wina.
“Iya Win. Aku enggak ingin yang perempuan berbakat jadi pelakor atau ulat bulu. Walau enggak ada pak Radit, kita tetap menjaga hal itu. Jangan sampai ada perusak rumah tangga masuk sebagai bibit di kantor ini.” jawab Reza.
“Apa?? Aku koq enggak tahu kalau mereka sudah pasti lulus? Tahu gitu tadi aku menilai sak karepe ( semau sendiri ),” protes Murti.
“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Reza penasaran.
Murti tak mau ada salah paham nantinya. Dia ingin semua transparan sejak saat ini. “Jujur aku kaget. Peserta nomor tujuh itu pacarku. Aku tidak tahu dia melamar kesini dan datang ke Jakarta. Jujur aku takut kalau dibilang dia diterima karena aku memberi nilai untuknya bagus,” jawab Murti.
“Siapa namanya?” tanya Wina penasaran. Dari mereka berempat ( termasuk Aurel ) hanya Murti yang masih single dan mereka memang menganggap Murti adik bungsu mereka.
“Sriyono, sarjana managemen UGM, dan tinggal di Jogja. Selama ini dia bekerja jadi driver di pak Dennis,” jawab Murti.
“Ah aku ingat dia, jawabannya bagus koq. Dia memang cerdas dan sangat kritis,” jawab Reza tak merasa terganggu.
“Pengen ta kepruk endase Mbak. Aku serius enggak tahu dia ke Jakarta juga enggak tahu kalau dia ngelamar disini,” jawan Murti. [ Pengen ta kepruk endase Mbak = ingin saya pukul kepalanya Mbak ]. Dalam bahasa Jawa kata ganti aku sering menggunakan kata TA’
“Kalau dia mau, dia bisa lho minta tolong pak Dennis bicara dengan bu Aurel buat nerima dia disini,” cetus Reza.
“Iya bener pak Reza. Saya yakin bu Aurel enggak keberatan nerima titipan pak Dennis. Terlebih bu Aurel sudah kenal dengan driver yang dua kali menemaninya selama di Jogja. Tapi saya yakin dia tidak mau. Karena dia ingin bekerja dengan kemampuannya sendiri,” jawab Murti yang hafal karakter mas Yon nya.
“Panjang umur, lagi dibahas dia malah nelepon. Sik ta angkate telepone ( tunggu, saya angkat telepon dulu ),” Murti mohon izin mengangkat telepon dari mas Yon.
“Iya, Assalamu’alaykum Mas,” sahut Murti.
“Maaf yo Jeng. Bukan enggak mau kasih tau soal aku ngelamar kerja di kantormu. Aku enggak tahu pengujinya termasuk kamu. Aku ingin diterima sebagai diri pribadiku. Bukan karena bu Aurel mengenalku,” Yon langsung minta maaf dan memberitahu alasannya dia menyembunyikan keikut serta’annya di lowongan kerja ini. Dia juga baru wisuda dua bulan lalu jadi memang sedang cari pekerjaan sesuai ijazahnya kini.
“Enggak apa-apa Mas. Dan kalau nanti Mas diterima kan bukan aku penentunya. Semua dibahas di team. Enggak mungkin aku bisa ngelawan dua orang penguji lain bila hanya nilai dari ku yang baik dan dua penguji lain nilai Mas jelek,” jawab Murti jujur.
“Yo wis, nanti malam bisa ketemu? Mas enggak mau ganggu waktu kerjamu. Sekarang Mas sudah di penginapan,” Yon pun berniat menutup telepon dengan kekasihnya itu. Mereka memang langsung sama-sama tertarik ketika menemani Aurel dan Rajev di Jogja dulu.
“Iya Mas, nanti aku kabari bila aku sudah pulang kerja. Sekarang baru mau bahas siapa aja yang diterima. Assalamu’alaykum,” Murti lebih dulu menutup pembicaraan. Dia sudah ditunggu Reza dan Wina.
***
“Jadi dari 24 peserta tadi, tiga yang gugur Pak?” Wina mencatat semuanya. Setelah makan selesai mereka kembali melanjutkan diskusi.
“Nah ini data yang kamu harus segera print, berikan ke anak HRD untuk menghubungi telepon mereka secara langsung. Ingatkan besok pagi jam sembilan pagi harus sudah standby semua disini. Dan katakan pada HRD, selain ditelepon mereka juga harus dikirimi panggilan lewat email. Saya tak ingin ada kesalahan. ” Reza memberi Wina nama peserta yang dia coret tiga orang.
“Dan data yang sudah diprint itu kita masing-masih harus pegang. Disana ada nama lengkap, NIK, nomor ponsel dan email.” Reza menutup pertemuan mereka siang ini.
Wina langsung mengerjakan tugasnya, lalu dia minta surat yang dia buat ditanda tangani oleh Reza. Baru akan diantar Murti ke bagian HRD.
“Murti besok pagi kamu ikut saya ke rumah sakit untuk mendiskusikan jabatan atau posisi bagi semua karyawan baru dan yang di rolling. Karena tak mungkin kita putuskan tanpa diskusi dengan bu Aurel.” Reza memberitahu Murti besok harus siap menemaninya.
\==========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : ENI PUA, DENGAN JUDUL NOVEL GAIRAH CINTA KAKAK ANGKAT YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta