
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Sabar. Kalau Mbak enggak kuat, bagaimana Darrel mau bersandar?” Bagas memang yang paling mengerti kondisi Aurel. Mereka sangat dekat, sehingga saling mengerti.
Rajev hanya bisa diam memandang wajah kuyu jagoannya. Wina dan Murti menunggu diluar ruangan. Mereka tak ikut masuk agar tak mendapat teguran pihak rumah sakit.
“Love, aku ke ruangan ibu dan mbak Nah, lalu bayar administrasi mereka dulu ya. Tadi malam aku minta Vino bilang aku akan bayar saat ini,” Rajev pamit pada Aurel yang masih didampingi oleh Bagas. Bukan mengabaikan Aurel. Tapi tak enak bila mereka ditegur pihak rumah sakit bila belum melunasi administrasi yang sudah dijanjikan ajan dia bayar hari ini. Terlebih mbak Nah langsung di jahit.
Aurel tak menjawab. Dia hanya mengangguk hampir tak terlihat. Bukan dia tak peduli pada ibu dan mbak Nah. Tapi dia sangat terpukul melihat kondisi Darrel. Anak sekecil itu telah mengalami hal buruk.
“Bagaimana dengan pelaku?” tanya Aurel yang tak ingin menyebut nama Binsar.
“Sudah ditembak mati di TKP, karena target Binsar ingin membunuh Darrel,” jawab Bagas cepat. Rupanya Rajev belum menceritakan apa pun pada kakaknya.
“Untunglah, kalau tidak ingin rasanya aku yang membunuh dia,” cetus Aurel dengan geram. Dia duduk di brankar putranya. Aurel tak membayangkan bila dia juga harus kehilangan Darrel setelah kehilangan Radit.
“Assalamu’alaykum jagoan Umma. Kamu kuat seperti Papa dan Uppa. Umma yakin kamu akan kuat bertahan,” bisik Aurel pada Darrel. Tak lepas diciuminya wajah dan kening Darrel. Dia bisiki kata-kata doa dan afirmasi. Walau Darrel masih teramat kecil. Tapi Aurel yakin, Darrel mengerti apa yang dia katakan.
Hingga malam Darrel belum juga sadar. Aurel makin cemas. Kedua mertuanya yang baru tiba dari India tak kuasa menahan sedih melihat kondisi Aurel seperti itu.
Tak jauh dari rumah sakit ada hotel. Walau tak besar tapi sangat membantu keluarga yang jauh seperti kakek dan pak Chander Kumar. Mereka memilih menyewa kamar disana agar mudah bila ingin ke rumah sakit.
Terlalu jauh, buang waktu dan cukup melelahkan bila mereka harus pulang pergi tiap hari dari rumah sakit ke rumah. Ketiganya memilih menginap di hotel itu.
“Love, sejak tadi makanmu enggak bener, sekarang makan dulu atau kamu pulang aja tak boleh menunggu di rumah sakit,” Rajev sedikit keras pada Aurel.
Istrinya hanya sebentar meninggalkan ruang Darrel, yaitu saat menjenguk bu Tarida dan mbak Nah sore tadi.
“Radja, jangan keras begitu pada istrimu,” Umma menegur Rajev dengan bahasa Malayalam agarmenantunya tak mengerti.
“Aku hanya mengajuknya Umma. Agar dia mau makan sedikit agar tidak sakit. Kalau sedang seperti ini dia tidak bisa dibujuk lembut,” Rajev berkilah bahwa dia bukan memarahi istrinya.
“Radja tentu lebih tahu bagaimana membuat Aurel kuat,” pak Kumar membela anak lelakinya. Dia mengecup puncak kepala istrinya agar tidak terus memarahi Rajev yang sedang sangat kalut.
“Sayang, kamu makan dulu dengan Umma ya? Uppa tidak ingin kalian berdua sakit. Kamu lihat Umma. Dia sedih melihatmu,” Chander Kumar menyuruh Aurel makan bersama istrinya.
Aurel yang memang sangat welas asih pada siapa pun merasa sangat bersalah ketika melihat mertuanya sedih memikirkan dirinya.
“Umma, ayok makan bersamaku. Tadi ada nasi rendang dan gado-gado,” Aurel mengajak Ahisma mertuanya untuk makan malam.
“Apa suamimu sudah makan? Kalian tidak boleh sakit,” Ahisma senang Aurel mendengar kata-kata suaminya untuk makan bersama dengannya.
“Ini aku ambilkan dia makan berdua denganku. Umma ambil saja makan untuk Umma. Aku akan panggil Uppa makan juga,” Aurel bergegas mengajak papa mertuanya untuk makan. Ayah dan Bagas serta kakek sedang keluar sejak makan siang tadi.
“Honey kita makan yok. Uppa dipanggil Umma disuruh makan,” Aurel mengajak Rajev menuju meja makan diruang itu.
“Ya ampuuuun. Dia begitu perhatian dan cinta padamu. Bahkan Umma belum pernah melihat Ahismaa melakukan hal itu pada Vijay. Ini dia lakukan didepan kami. Apa memang dia seperti itu atau hanya agar terlihat baik didepan kami?” tanya Chander dengan bahasa Malayalam tentunya.
“Dia memang selalu seperti ini Uppa. Dia tak pernah mau kopi yang aku minum dibuat oleh pembantu rumah tangga. Harus dia yang bikinkan. Padahal untuk minumnya sendiri dia minta pembantu yang bikinkan,” jawab Rajev memberitahu bagaimana keseharian Aurel.
“Umma, ini salad asli Indonesia. Kami membuat bumbunya dengan kacang tanah yang dihaluskan. Ada gado-gado seperti ini, sayuran dicampur bumbu saat bumbu sudah halus diulek. Ada gado-gado siram, yaitu bumbu dibuat terpisah dan disiram di sayuran. Ada juga yang menyebutnya pecel . Ada juga yang menggunakan sayuran mentah disebut karedok,” Aurel makan sambil menyuapi Rajev, tapi juga sambil menerangkan apa nama makanan yang terhidang pada ibu mertuanya.
“Umma suka, dan akan mencoba membuatnya bila pulang nanti,” sahut Umma dengan senang hati.
“Katakan bisa dimakan dengan ketupat atau lontong sebagai pengganti nasi Love,” Rajev memberitahu Aurel soal lontong.
“Besok aku akan minta dikirim lontong sayur untuk sarapan, selain bubur sumsum. Siang biar aku minta karedok serta tahu guling,” jawab Aurel.
Tanpa diminta Aurel membelikan Murti dan Wina makan. Dia juga meminta satu cabang toko kue terdekatnya untuk mengantar beberapa box kue sesuai pesanannya.
“Mbak kalian makan dulu kalau pesanan makan siang datang ya. Lalu kue tolong kamu terima, dan taruh di kamar ibu sesuai nama di box,” pesan Aurel pada Wina dan Murti. Dia memang sudah minta agar di box ditulis namanya. Karena ada box untuk Murti dan Wina selain untuk di kamar rawat ibu dan di kamar rawat Darrel.
***
“Papaaaaaaaaaaaaa …,” terdengar Darrel memanggil PAPA, bukan UPPA.
“Abang Darrel …,” Aurel berlari menuju tempat tidur setelah dia meletakkan piring. Dia lupa tangannya masih kotor karena tadi menyuapi Rajev dengan tangan, tidak dengan sendok.
“Bssuh tanganmu dulu,” Rajev menyerahkan tissue basah pada Aurel. Dia juga mengambil untuk mengelap mulut Aurel, takutnya perempuan itu langsung menciumi Darrel.
“Papaaa …,” kembali Darrel memanggil Radit.
“Papa pergi sayang. Jangan ikut Papa ya Nak. Darrel disini aja dengan Umma dan Uppa,” Aurel terisak. Dia sangat takut bila Darrel ikut dengan Radit.
“Honey, say something,” Aurel putus asa dan tak lama dia pingsan. Aurel sangat ketakutan Darrel menyusul Radit. Dia tak kuat menahan beban ini.
“Love …,” panggil Rajev. Dia membantu Aurel. Diangkat dan dibaringkan di bed penunggu. Lalu dia tekan bel memanggil petugas medis.
\===============================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : ALYA LII, DENGAN JUDUL NOVEL KAGET NIKAH YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta