BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
MBAK NAH PINGSAN DI KEBUN BELAKANG



KETEMU LAGI DI UPDATE BAB KE DUA HARI INI


SELAMAT MEMBACA


\~\~\~\~\~


“Mbak Wina, sudah tau ya soal sakitnya anak kepala pengadaan barang di Cinangka?” tanya Aurel.


“Sudah Bu, kami dapat data dari rumah sakit tempatnya dirawat,” balas Wina cepat.


“Tolong cover semua biaya pengobatan dari uang pribadi gaji saya ya, jangan dimasukkan ke pengeluaran perusahaan. Lalu tanggung biaya sekolahnya hingga SMA dari dana bantuan untuk keluarga karyawan,” perintah Aurel. Karena akibat perbuatannya kepala pengadaan barang proyek saat ini ditahan polisi. Bukan Aurel mengizinkan kecurangaan yang dia lakukan, tapi dia melihat alasan kecurangan adalah kondisi kesehatan putrinya.


“Semua uang keluar jangan diberikan cash pada keluarga. Semua uang keluar langsung di bayarkan ke rumah sakit dan sekolahan ya Mbak. Saya enggak mau orang yang merawatnya mencari keuntungan dari sumbangan yang kita berikan.” Aurel memperjelas apa keinginannya saat ini.


“Sekarang ubah peraturan perusahaan mengenai bantuan. Tidak diberikan uang cash melainkan langsung dibayarkan ke rumah sakit dan sekolah!” sekali lagi Aurel megubah kebijakan perusahaan agar meminimalisir kebocoran.


Tok tok tok


“Masuk,” Aurel menjawab suara ketukan di pintu ruang kerjanya.


Reza masuk lalu bediri didepan meja Aurel “Ada apa mas Reza?”  tanya Aurel.


“Ini Bu, baru saja polisi menghubungi saya, mereka sudah menangkap tiga orang yang ikut menyerang Ibu saat itu. Dan polisi juga sudah mengetahui siapa yang menyuruh mereka, namun belum bisa menangkapnya. Saat ini oknum tersebut sudah menjadi DPO ( daftar pencarian orang ),” Reza memberi laporan yang baru dia terima.


“Kita tunggu sampai orang tersebut ketangkap aja baru kita ke sana mas. Percuma juga kita ngurusin enam orang yang hanya suruhan kan?” jawab Aurel. Mereka ‘kan tak perlu mengurusi orang suruhan itu.


“Iya bener Bu,” Reza setuju dengan pendapat Aurel. “Kalau begitu saya pamit Bu.”


“Audit keuangan proyek sudah selesai?” tanya Aurel sebelum Reza keluar dari ruangannya.


“Sedang direkap Bu, siang ini staff saya akan melaporkan hasilnya. Nanti saya akan langsung berikan ke Wina” balas Reza.


“Baik saya tunggu ya,” Aurel pun langsung kembali menekuni data yang sedang di pelajarinya.


“Mbak Wina, kerja sama berikutnya dengan pak Rangga silakan dilanjut ya,” Aurel sudah ACC berkas dimejanya dan mengangkatnya untuk diambil oleh Wina.


“Baik Bu, akan saya atur waktu pertemuan antara pak Reza dengan pak Rangga,” balas Wina cepat. Setelah Radit meninggal Rangga terus bekerja sama dengan perusahaan Aurel. Reza yang menangani, tapi diskon yang diberikan sesuai dengan kesepakataan awal yaitu mengacu pada keputusan Radit.


***


“Bu, ini laporan kecurangan pak Didu sebagai bendahara proyek Cinangka,” Reza menyerahkan berkas laporannya.


“Kamu bisa tahu enggak mengapa pak Didu sampai seperti itu? Setahu saya track record dia selama ini sangat baik. Sholeh dan bersih,” Aurel sungguh tidak menyangka perubahan karakter orang kepercayaan almarhum Radit.


“Pak Radit juga saat itu bilang enggak percaya ketika mulai tahu ada ketidak beresan penggunaan uang proyek oleh pak Didu Bu,” Reza memberitahu soal kebingungan Radit kala itu. Karena memang Didu selama ini bersih dan sangat taat beragama.


“Mungkin ada hal mendesak seperti pak Dodo kepala pengadaan barang, yang terdesak kebutuhan dana untuk berobat anaknya,” Aurel mencoba mencari alasan para pekerja yang menyalahi aturan.


Walau tetap saja tidak ada keringanan hukuman untuk penyelewengan, setidaknya dia bisa memberi attensi seperti uang berobat Lara -anak pak Dodo- dan uang sekolahnya.


Istri pak Didu memang tidak dibawa pak Didu ke lokasi proyek, karena biasanya pak Didu tinggal di rumah kontrakan untuk beberapa saat di dekat lokasi proyek yang dia tangani, sehingga selalu berpindah sesuai proyek.


Alasan utama pak Didu tidak membawa istrinya karena kasihan anaknya yang mulai sekolah bila setiap empat atau enam bulan harus pindah sekolah sesuai pekerjaan pak Didu. Pak Didu tak ingin anaknya repot selalu harus menyesuaikan dengan lingkungan baru.


Selain itu biaya uang pangkal saat mendaftar ke sekolah baru juga harus diperhitungkan dengan cermat. Belum lagi proses adaptasi anak-anaknya dengan lingkungan baru.


***


Mbak Nah sedang menunggu Aira di ruang tunggu penjemput. Masih 30 menit lagi bell pulang berbunyi. Dia kebelet buang air kecil.


“Ibu-ibu, saya titip sebentar ya. Takutnya Aira keluar cari saya, saya ijin ke toilet sebentar,” mbak Nah memberitahu para penunggu siswa TK di sana.


“Iya Nah, nanti kalau Aira nyariin saya akan tahan dan kasih tau kalau kamu sedang ke toilet,” jawab teman akrab sesama penunggu siswa pada mbak Nah.


Namun sampai bell berbunyi mbak Nah tidak kembali ke ruang tunggu. Para penunggu lainnya tentu langsung sibuk dengan anak yang mereka jemput sehingga melupakan mbak Nah.


Saat tukang kebun sekolah mau ambil serok sampah di kebun belakang dia melihat mbak Nah yang tergeletak di sudut kebun. Dia langsung berlari ke ruang guru dan mengabari temuannya, tukang kebun tidak mau langsung mengangkat mbak Nah karena takut disalahkan.


***


“Bawa ke tempat yang kita tentukan dan kasih dia makan. Juga  jangan sampai lecet,” suara Yulia jelas didengar Binsar yang baru akan masuk rumah yang dia belikan untuk Yulia.


Memang hanya rumah kecil type 21. Namun itu sudah lebih dari cukup, dari pada Yulia tinggal di kamar kost sepetak atau mereka mengontrak rumah.


“Apa yang kamu maksud?” gelegar suara Binsar mengagetkan Yulia. Dia tidak menyangka suaminya datang. Yang dia tahu suaminya baru akan datang dari Medan minggu depan.


“Eh Abang datang,” Yulia menghampiri Binsar dan menyalami suaminya. Yulia mulai ketakutan. Ini benar-benar diluar perhitungannya.


“Katakan, apa yang kamu lakukan!” Binsar menunggu jawaban Yulia dengan tidak sabaran.


“Enggak koq Bang. Enggak ada apa-apa,” jawab Yulia terbata. Dia lalu ke dapur untuk membuatkan kopi bagi suaminya.


“Jawab dulu pertanyaanku, atau akan kuusir kau dari rumah ini. Jangan pernah kau bermain di belakangku!” ancam Binsar dengan tegas. Lelaki ini paling tak suka dibohongi.


Binsar bukan pria sadis kalau dengan perempuan. Walau licik, dia bukan tukang jajan kebutuhan pokoknya. Di Medan sejak istrinya meninggal dia tak suka jajan, tapi dia licik meniduri istri adik sepupunya yang bekerja di kebun sawit miliknya.


Dia minta pada adik sepupunya seminggu sekali atau sesuai kebutuhan agar istrinya menolong bebersih rumah dan membelanjakan keperluan dapurnya. Karena sering bersama maka Binsar menyukai adik iparnya dan hubungan mereka terjadi karena dasar suka sama suka bukan paksaan.


=================================================== 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta