BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
KAMU ENGGAK CERITA PADAKU?



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 “Masih di mobil. Nanti malam saja diturunkan bila sudah sepi,” balas Rajev.


Tamu pengajian mulai berdatangan, Aurel meminta mbak Nah dan mbak Yuni menjaga anak-anak agar tidak mengganggu jalannya pengajian. Di meja penerimaan tamu semua yang hadir sudah mendapat buku pengajian sehingga semua yang masuk ruangan sudah memegang buku mengenang meninggalnya pak Iskandar Sebayang.


“Bikin photo berdua dan berempat ya,” pinta Rajev pada Aurel saat mereka duduk berdampingan sambil mengawasi Darrel yang sedang disuapi mbak Yuni.


“Untung tidak salah warna kan?” goda Aurel.


“Kalau salah warna gimana?” Rajev balas menggoda.


“Enggak ada photo berdua apalagi berempat lah,” balas Aurel cepat.


“Aku yakin kalau kita kirim photo pada kak Amishaa, dia akan merengek minta dikirim lagi baju seperti ini,” Rajev nyeletuk ingat kakaknya yang selalu saja terkagum-kagum pada perhatian Aurel pada keluarga intinya.


“Terlambat, sudah aku kirim sejak minggu lalu,” jawab Aurel santai.


“What? Dan kamu enggak cerita padaku?” Rajev terkejut, rupanya ada rahasia para istri. Sedang Aurel hanya membalas dengan senyuman manisnya.


Sesuai keinginan Rajev, mereka membuat banyak foto, baik dengan kamera digital mau pun dengan kamera ponsel.


Ada foto mereka berempat dengan berbagai pose, Aira dan Aurel saja, Darrel dan Rajev saja. Atau Darrel dan Aira berdua, dan Rajev dengan kedua anaknya tanpa Aurel. Yang tak mungkin ketinggalan tentu saja foto Rajev dan Aurel berdua.


***


Setelah para peserta pengajian pulang maka tinggallah para kerabat makan bersama. Lalu satu persatu pamit. Dan ada yang berjanji besok akan datang kembali. Malam ini para opung menginap.


Saat yang tersisa hanya keluarga inti maka Rajev mulai menyampaikan niatnya pada ayah dan kakek. Tentu ayah dan kakek tak keberatan karena memang seharusnya pernikahan mereka sudah terjadi sejak bulan lalu.


“Hanya ada sedikit kendala Yah, Kek,” Aurel melengkapi keterangan Rajev.


“Ada apa Rel?” tanya kakek dia tak ingin cucunya mendapat kesulitan.


“Aku tidak enak bicara ke Ibu, aku takut Ibu sedih dan tersinggung. Ini masalah tempat tinggal Kek,” Aurel memberanikan diri bicara dengan kakeknya Radit.


“Ada apa dengan rumah ini?” tentu kakek bingung karena rumah ini sudah dia serahkan untuk anaknya dan tentu turun pada cucunya.


“Bukan tidak menghargai rumah ini. Namun rumah ini penuh dengan kisahku dengan Radit. Aku tak ingin kisah kami tercampur dengan kisahku berikutnya. Di rumah ayah pun, aku dan Radit sering menginap di sana, sehingga aku tak bisa tinggal dengan pasangan baru di rumah yang pernah aku tinggali dengan Radit.” Aurel mulai memaparkaan alasan tentang rumah tinggal.


“Jadi kami memutuskan sejak hari pertama pernikahan kami, kami tinggal di rumah yang berbeda dengan rumah yang aku tempati dengan Radit,” walau berat akhirnya Aurel bisa menjabarkan keberatannya tinggal di rumah ini.


“Kakek mengerti soal itu. Tidak jadi masalah kalian mau tinggal di mana, karena kakek pernah mengalaminya, itulah mengapa kakek pindah ke Cisarua sejak nenek meninggal, karena sangat banyak kenangan di rumah ini dengan nenekmu,” jawaban kakek di luar ekspektasi Aurel.


Setahu Aurel kakek pindah sejak nenek sakit, bukan sejak nenek meninggal. Apa maksud kakek sejak nenek meninggal lalu kakek memutuskan tak mau kembali ke rumah ini? Entahlah.


“Lalu rencananya kalian ingin tinggal dimana? Apa kalian sudah punya rumah sendiri?” kini giliran ayah yang bertanya.


Akhirnya Aurel dan Rajev menerangkan rencana mereka soal rumah yang akan mereka bangun dari nol, bukan beli jadi. Kalau beli jadi tentu mereka bisa langsung pindah dan tak perlu tinggal di apartemen.


“Baik, besok Kakek yang akan bicara dengan ibumu, dia pasti akan mengerti. Dan pindah rumah juga akan bagus untuknya agar tidak terpuruk dengan kenangannya bersama Is dan Radit,” kakek berjanji akan membahasnya dengan ibu besok sebelum pengajian. Sejak tadi ibu sudah masuk ke kamar dan beristirahat ditemani opung yaitu ibunya bu Tarida.


Rajev dan Aurel tentu senang, ternyata persoalan yang mereka pikir akan sulit di sampaikan pada ibu malah akan dibantu oleh kakek.


***


Aurel juga memperhatikan persiapan sarapan. Sarapan memang mereka siapkan sendiri tidak ambil cattering.


“Bikin apa buat sarapan? Ada yang kurang?” tanya Aurel pada beberapa orang asisten yang berada di dapur termasuk mbak Nah dan mbak Yuni karena dua anak asuhan mereka belum bangun. Aurel memastikan sarapan yang mereka siapkan tidak mengecewakan para tamu.


“Seperti biasa ini kopi dan teh, juga gula sudah tersedia disini bu,” mbak Yuni menerangkan minuman yang sudah dia siapkan.


“Menu makanannya bubur ayam dan nasi goreng Bu,” jawab bik Eneng.


“Krupuk dan emping enggak ketinggalan kan?” Aurel mencoba mengecek ulang.


“Sambal untuk bubur ayam ready ya, karena enggak enak kalau pakai sambal lain.”


“Mbak Yun, tolong buatkan sussu coklat panas saya dong,” pinta Aurel. Dia memang tak bisa lepas dari minuman itu pagi dan malam menjelang tidur.


“Bu, itu kue sudah datang,” bik Siti melaporkan kedatangan team dari toko kue nya.


“Diatur di lokasi yang udah disiapkan aja Bik, kotak besar yang untuk orang rumah diatur di piring ya,” perintah Aurel. Memang semua dibawah kendalinya, karena nyonya rumah sekarang sedang sakit.


“Mau minum apa Honey?” tanya Aurel saat Rajev menghampirinya.


“Kopi seperti biasa aja,” jawab Rajev sambil mencium pipi Aurel. Dan Aurel langsung membuatkan kopi dengan sedikit gula yang biasa Rajev konsumsi di pagi hari.


Sejak dulu saat bersama Radit, kalau untuk membuatkan kopi atau menyiapkan makan memang sebisa mungkin Aurel mengerjakannya sendiri. Tidak menyuruh pembantu.


Padahal untuk minum dirinya tadi dia minta mbak Yuni yang melakukannya. Tapi bila untuk pasangannya dia tak mau pembantu yang membuatkannya. Aurel menganggap itu merupakan baktinya pada suami atau pasangannya.


“Pagi ini sarapan tidak usah saling tunggu, jadi siapa yang sudah siap ya makan duluan aja. Kakak mau sarapan sekarang?” tanya Aurel sambil menyerahkan kopi yang sudah dia buat.


“Nanti saja, aku nanti bareng kakek dan ayah,” jawab Rajev sambil menerima kopi yang Aurel berikan.


“Love, jangan lupa hari ini kita bikin foto berempat lagi,” pinta Rajev, karena hari ini baju yang mereka kenakan beda warna dan motif dengan baju kemarin.


“Baik Honey, aku siapin makan anak-anak dulu habis itu baru mereka ganti baju. Kalau ganti baju sebelum makan bisa kotor baju mereka,” balas Aurel cepat.


***


\=====================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL   WANT TO MARRY YOU YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta