
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Love, barusan Um’ma bilang bagaimana bila akad nikah kita pakai baju India dan pas resepsinya pakai adat Jawa. Atau sebaliknya. Akad nikah pakai pakaian adat Jawa dan resepsi pakai pakaian adat India,” Rajev menyampaikan permintaan ibunya dengan hati-hati saat mereka di mobil menuju Jakarta. Dia tak ingin Aurel keberatan lalu membatalkan pernikahan mereka. Yang ada dalam pikiran Tajev hanya ketakutan bila Aurel tak mau lagi dengan dirinya.
“Aku sangat setuju Honey, bilang umma I like it very much. Umma seperti mengetahui keinginan hati kecilku,” balas Aurel cepat seperti cahaya kilat saat hujan deras yang terlihat lebih dulu dari pada bunyi petirnya.
“Serius kamu setuju?” Rajev takjub ternyata penolakan yang ia bayangkan tidak terjadi sama sekali.
“Tentu aku sangat setuju, mengapa umma bicara padamu, tidak langsung padaku?” rajuk Aurel. Dulu dia menikah dengan Radit akad hanya menggunakan kebaya tak didandani paes Jawa, kalau kebaya tanpa paes artinya kan bukan khusus adat Jawa. Resepsi menggunakan pakaian adat Sumatera Utara asal Radit.
“Aku akan protes pada umma,” Aurel langsung mengambil ponselnya untuk menyampaikan protesnya secara langsung. Hubungan Aurel dengan Ahisma dan Amishaa memang selalu baik walau saat Aurel dan Rajev sedang bersitegang sekali pun.
Rajev terkekeh melihat kelakuan calon istrinya yang sangat ekspresif. Lalu sepanjang perjalanan Rajev hanya mendengarkan Aurel bicara dengan ibunya, sesekali dia menimpali, tapi sering diprotes Aurel bila ia ikut nimbrung.
***
Hari-hari selanjutnya Aurel dan Rajev sibuk mencari lokasi untuk rumah yang akan mereka bangun. Mereka sangat ingin segera mendapatkannya agar bisa segera mewujudkan rumah impian mereka, juga mempersingkat waktu mereka berpisah rumah dengan anak-anak sesudah mereka menikah nanti.
Email mereka pun sering saling kirim info, umumnya diskusi tentang design rumah yang mereka inginkan. Karena saling bertukar design lebih mudah di email dari pada melalui chat WA.
Dengan banyak debat dan adu argumentasi, dengan banyak pertimbangan akhirnya mereka mendapat tanah yang akan mereka jadikan rumah impian mereka. Tentu mereka berdua bersyukur satu step bisa mereka lalui lagi.
Hari ini mulai peletakkan batu pertama bagi pembangunan rumah mereka. Aurel dan Rajev sengaja mereka lah yang meletakkan batu itu. Karena mereka ingin mengawalinya dengan doa mereka masing-masing.
Mereka tak mengajak para orang tua. Karena Aurel bilang tidak adil bila hanya orang tuanya yanag ada. Tak ada orang tua Rajev. Jadi agar imbang, hanya mereka berdua saja yang melakukan hal itu. Doa mereka sebagai calon penghuni rumah itu. Rumah ang sejak pondasi akan mereka lakukan bersama dengan selalu berucap syukur pada Allah.
Sejak pembelian tanah, material bangunan, pengurusan surat menyurat Rajev yang menanggung biayanya. Dia sudah katakan itu adalah nafkah pertama yang ingin dia berikan untuk Aurel. Surat kepemilikan tanah dan seluruh kwitansi apa pun semua atas nama Aurel. Dan kali ini Aurel tak bisa mencegahnya.
Walau pekerja menggunakan team dari kantor Aurel, tapi semua dibayar oleh Rajev. Dia tidak ingin Aurel ikut mengalirkan dana bagi pembangunan rumah mereka itu.
Setiap hari sepulang dari bekerja Aurel selalu memantau pembangunan rumahnya. Rajev tak bisa setiap hari karena dia sedang sangat sibuk menjelang cuti pernikahannya. Aurel sebagai CEO tentu tak butuh mengajukan cuti. Kapan pun dia mau, dia bisa tak hadir di kantor.
***
“Kak, bisa kita diskusi?” tanya Aurel malam ini saat anak-anak sudah tidur. Mereka duduk bersama di teras belakang rumah.
“Sure, why not?” tanya Rajev. Mereka berdua memang sudah berkomitmen, semua persoalan akan mereka bahas hingga tuntas. Mereka tak ingin ada kesalah pahaman yang berlarut.
“Kalau setelah menikah kita tunda kehamilan dulu bagaimana?” tanya Aurel hati-hati.
“Bisa aku tahu apa alasanmu?” balas Rajev. Sesungguhnya kalau Aurel tak mau lagi punya anak pun dia tak masalah.
“Aku ingin hamil saat kondisi kita sudah tenang. Sudah pindah rumah. Jadi saat awal kehamilan aku sudah tidak kecapean karena harus mondar mandir. Pikiran juga tenang sehingga sudah siap untuk hamil. Aku ingin kehamilanku sehat sejak awal,” sahut Aurel.
“Aku setuju. Lalu dengan apa kamu ingin melakukan penundaan?” tanya Rajev. Dia sangat setuju dengan pemikiran Aurel. Rajev memang belum pernah menggunakan alat kontrasepsi untuk kaum lelaki. Tapi dari yang dia baca, penggunaan alat itu membuat rasa kenikmatan berkurang. Dia tentu tang ingin menggunakan alat itu.
“Dengan suntik KB saja Kak. Ada yang bisa untuk jangka waktu tiga bulan. Aku rasa satu kali periode saja cukup. Tiga bulan lagi kita pasti bisa selesai pindah rumah,” sahut Aurel.
“Oke. Kapan kamu mau lakukan? Aku mau antar. Enggak boleh pergi sendiri,” sahut Rajev.
“Satu minggu sebelum kita menikah aja Kak. Karena habis itu kita akan dipingit. Kita tidak boleh bertemu satu minggu sebelum pernikahan,” jelas Aurel.
“Itu yang masih aku sesalkan. Mengapa pakai adat seperti itu?” keluh Rajev. Dia tak bisa membayangkan tidak bertemu dengan Aurel dan anak-anaknya selama satu minggu nanti.
***
Sesuai rencana, maka disinilah sekarang pasangan calon pengantin ini. Di sebuah rumah sakit khusus ibu dan anak dekat dengan lokasi rumah baru mereka. Sengaja tidak ke rumah sakit Mekar tempat bu Tarida bekerja. Karena rumah sakit ini yang terdekat dengan rumah baru nanti.
Untuk selanjutnya pemeriksaan rutin juga akan dilakukan disini. Sehingga pemilihan rumah sakit yang sekarang memang sudah disesuaikan dengan lokasi tempat tinggal mereka yang baru.
“Anak sebelumnya usia berapa Bu?” tanya perawat yang mencatat data medik Aurel di meja depan poli kebidanan.
“Dua tahun empat bulan Suster,” sahut Aurel.
“Baik, saya ukur tensi dan suhu serta berat badan dulu ya Bu,” lanjut suster sambil terus mencatat data yang terlihat dari tensi meter, thermometer serta timbangan badan.
***
“Makasih ya Honey, ngebolehin menunda kehamilan,” Aurel mengecup pipi Rajev selintas begitu mereka keluar dari ruang periksa dokter kebidanan.
“Itu bukan untukmu, tapi untuk kita. Jadi tak perlu ada ucapan terima kasih. Justru seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu berniat hamil dalam kondisi siap fisik dan mental. Bukan asal hamil saja,” Rajev memeluk bahu calon istrinya.
Benar langkah yang Aurel tempuh. Dia sudah tahu akan super sibuk ketka awal pernikahannya. Kalau dia hamil tentu bisa menjadi beban, atau malah bisa jadi keguguran karena terlalu lelah diawal kehamilan. Itu yang dia cegah. Dia ingin hamil ketika dia dan Rajev telah siap.
\==============================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : OCYBASOACI, DENGAN JUDUL NOVEL CINTA BERSELIMUT DENDAM YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta