BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
BERTEMU KEMBALI DENGAN TRIPLE ‘R’



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA YANKTIE MENYAMPAIKAN SELAMAT MEMBACA



“Lalu sehabis Mama belanja ternyata dia masih disana menunggu Mama selesai. Dia minta kenalan. Mama hanya menyebut nama tanpa tukar nomor telepon atau memberi tahu tempat kost dan kampus.” lanjut Aurel jujur.


“Sesudah itu Mama terus belanja. Makan siang dan masih muter-muter melihat peluang dagangan,” lanjut Aurel.


“Rupanya dia mengikuti Mama sampai tempat kost. Besoknya dia sudah memantau tempat kost dan bertanya ke teman-teman di kostan, Mama kuliah dimana. Sehabis itu dia menyapa Mama di kampus. Dan entah dari mana dia berhasil mendapat nomor telepon mama. Dia benar-benar pejuang tangguh walau Mama enggak pernah respon positive,” Aurel masih melanjutkan ceritanya.


Dia tak ingin ada yang ditutup-tutupi. Mereka berkomitmen tak ada perselingkuhan. Maka agar aman, mereka harus selalu terbuka dalam hal apa pun.


“Dua minggu menguntit, dia berhasil mendekati Mama yang sedang sendirian di kantin kampus. Lalu dia mengatakan suka ke Mama. Kebayang enggak, orang baru kenal. Belum pernah bertukar cerita apalagi ngobrol,  langsung bilang suka? Tentu mama menolak. Mama bilang mama sudah punya kekasih dan sedang di Qatar. Saat itu memang hanya Rajev yang bisa jadi tameng. Dia enggak percaya. Sampai akhirnya dia lulus dan kembali ke Bandung” Aurel menjelaskan siapa triple R yang sangat gigih ingin bertemu dengannya.


“Lalu, apa Mama akan bertemu dan melanjutkan kerja sama setelah Mama tau siapa yang meminta bertemu?” selidik Radit sedikit cemburu. Walau dia tahu Aurel adalah perempuan setia, tapi cemburu boleh kan?


“Kalau menurut Papap?” Aurel melempar pertanyaan, dia ingin tahu pendapat suaminya.


“Kita tetap bertemu, lalu bicara secara profesional. Bila memang enggak bisa ya kita putuskan pembatalan kerja sama,” Radit mengemukakan pendapatnya. Walau kalau harus jujur, dia ingin bilang mereka tak perlu bertemu. Tapi kalau dia bilang begitu, enggak profesional kan?


“Benar, setuju ! Papap tahu, enggak ada Papap pun mama enggak pernah mau bertemu client  hanya berdua. Harus dengan Wina dan Reza. Mama enggak pernah mau pergi hanya dengan Reza. Pernah sekali Wina sakit, dan Mama harus pergi keluar, maka Mama mengajak mbak Septi untuk menemani Mama dan Reza,” Aurel menjelaskan pada Radit kalau tanpa diminta pun dia selalu menjaga nama baik suaminya.


“Sejak Papap memimpin pun, Papap melakukan hal yang sama. Walau saat itu kita belum terikat,” jawab Radit senang, karena dia dan istrinya sama-sama menjaga nama baik pasangan dan juga selalu mencegah hal buruk terjadi bila hanya berdua an dengan lawan jenis.


***


“Selamat siang pak Rangga,” sapa Aurel pada rekanannya. Saat ini mereka bertemu di lobby kantornya sesuai janji yang dijadwalkan oleh Rangga. Aurel ditemani Radit dan Wina.


“Siang Aurel, apa khabar?” sapa Rangga tanpa menyebut bu sebelum nama Aurel.


“Khabar saya sangat baik pak Rangga. Perkenalkan ini pak Radit wakil saya dan ini mbak Wina sekretaris saya. Sambil menunggu pak Reza sekretaris pak Radit, silakan duduk Pak,” Aurel bersikap formal.


“Please Rel, kita teman ‘kan? Kenapa kaku gini sih?” tanya Rangga. Lelaki ini mencoba mengajuk hati Aurel agar bersikap layaknya teman. Karena mereka pernah kenal saat kuliah dulu.


“Kita memang teman, tapi saat ini kita bertemu untuk urusan pekerjaan kan pak Rangga?” balas Aurel cepat.


“Oke. Perkenalkan saya Rangga, pak Radit dan bu Wina. Ini sekretaris saya Eleanor,” balas Rangga setengah menggerutu.


Aurel memperhatikan sosok Eleanor yang diperkenalkan Rangga sebagai sekretarisnya. Berpakaian kerja blazer dan rok super mini dengan tank top yang memperlihatkan belahan dadanya. Sangat berbeda dengan mbak Wina yang juga menggunakan pakaian kerja tapi sangat sopan. Kemeja tangan pendek dilapis blazer dengan paduan celana kain.


Mbak Wina membuka laptopnya, dia membuka file yang ingin dibicarakan dan menyerahkan pada Aurel. “Oke pak Rangga, ini spec sheet dari perusahaan kami seperti yang kemarin sudah diperkenalkan selintas oleh pak Radit,” Aurel menyerahkan kertas yang baru saja diberikan oleh Reza .


“Dan ini mas Reza sekretaris pak Radit.” jelas Aurel lagi.


Sebenarnya tujuan utamanya meminta pertemuan dengan pemimpin perusahaan adalah untuk melihat sosok yang sejak dulu sudah mencuri hatinya saat mereka bertemu dikota gudeg Jogjakarta ketika dia kuliah mengambil S2.


“Kalau hanya butuh menawar, sebenarnya anda bisa ke mas Reza tanpa perlu bicara dengan pak Radit apa lagi dengan saya. Karena mas Reza sudah bisa tau harga penawaran berapa persen yang bisa disetujui oleh perusahaan,” jawab Aurel diplomatis.


“Honestly, I asked to see the head of the company because I saw your name. I want to see you again after our separation ( sejujurnya aku minta ketemu pimpinan perusahaan karena melihat namamu. Aku ingin melihatmu lagi setelah perpisahan kita ),” desah Rangga pelan dengan sedikit putus asa. Harus dia akui tujuan utamanya agar Aurel mengerti.


“Berapa penawaran anda?” tanya Aurel tanpa menghiraukan kata-kata Rangga barusan. Perempuan itu tak menggubris kata-kata yang tak ada kaitannya dengan pekerjaan.


“Beri saya diskon 10%,” pinta Rangga tanpa ragu. Dia ingin pembicaraan ini bisa berlangsung lama agar dia bisa puas memandangi Aurel.


“Saya hanya bisa memberi anda potongan 2%,” balas Aurel tegas.


“Tapi dari pak Reza saya bisa dapatkan potongan 4%, masa dari kamu malah lebih rendah!” kilah Rangga tak mau kalah.


“Ya itulah! Saya memang jarang memberi potongan lebih dari 2%. Karena saya tidak mau uang masuk ke perusahaan semakin kecil. Beda dengan para karyawan, mereka bisa memberikan diskon dengan patokan peraturan perusahaan. Berapa pun diskon yang mereka berikan tidak ada pengaruhnya untuk income mereka,” jelas Aurel sarkas.


“Aku enggak nyangka kamu sehebat ini,” balas Rangga kagum.


“Jadi bagaimana pak Rangga?” tanya Radit, dia baru melihat kemampuan istrinya bicara dan memutuskan suatu perkara. Pantas kakek tenang saja saat dia tidak bisa full memimpin perusahaan, ternyata Aurel lebih sadis dari dirinya.


“Deal dengan diskon 4%” jawab Rangga menyerah.


“Oke, selanjutnya MOU akan ditangani langsung dengan mas Reza, dan penanda tangan adalah pak Radit,” Aurel menutup pertemuan formal mereka. Reza langsung mengirim pesan agar makan siang segera diantar ke ruangan mereka.


“Aurel, bisa kita bicara berdua?” pinta Rangga.


“Off course we can, why not?” jawab Aurel, dia mengajak Rangga pindah ke meja sebelah.


“Jangan disini, aku ingin bicara berdua tanpa ada orang lain,” jawab Rangga dimeja itu.


“Kalau kamu mau bicara ya di sini, atau tidak sama sekali,” balas Aurel sambil duduk.


================================================================== 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta