BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
PENGEN CERITAAN



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Lah …, koq saya. Kan tadi kamu hubungi saya, kamu bertanya saya mau enggak kalau lokasi makan diubah. Nah dari pertanyaan itu saya jawab, tanya ke bu Aurel mau enggak kalau lokasi makan di abuba steak,” Dennis me-merinci langkah awal pembicaraan kali ini.


“Baik, saya akan tanya bu Aurel dulu. Ponsel Bapak jangan off, sebentar lagi saya akan hubungi lagi bila saya sudah dapat jawaban dari bu Aurel,” Wina akhirnya mengalah. Dia tutup pembicaraan dan segera masuk ke ruangan Aurel.


***


“Lagi dimana Love?” tanya Rajev.


“Aku, Dennis, Reza dan Wina sedang on the way ke Abuba steak Honey. Bagaimana meetingmu?’ tanya Aurel.


“Lho, Abuba steak mana? Ini kami baru sampai ke Abuba steak di cabang Cipete,” Rajev dan rekanannya juga bertujuan makan steak siang ini.


“Sama Honey, memang itu tujuan kami,” sahut Aurel.


“Ya sudah, kita makan sendiri-sendiri karena bawa rekanan. Nanti pulangnya saja yang bareng ya,” dengan bijaksana Rajev memutuskan tidak menggabungkan dua kelompok mereka karena pokok bahasannya berbeda.


Wina sedih mendengar Aurel menerima telepon dari Rajev. Karena hari-hari terakhir Ahmad juga setiap saat mengabsent dirinya.


***


“Saya langsung pulang aja ya mas Reza. Wina kamu kalau mau pulang cepet juga silakan. Mau ikut saya atau ikut mobil mas Reza?” tanya Aurel yang sudah ditungggu Rajev di mobil mereka.


“Saya balik kantor aja bareng pak Reza Bu,” sahut Wina. Mau ngapain dia balik cepat ke rumah? Hanya ada bi Ratmi saja. Lagipula dia bawa mobil di parkir di kantor karena tadi ikut mobil Reza.


“Mas Dennis, jangan bosen traktir ya. Aku pamit duluan,” Aurel pamit pada Dennis.


“Siyyaaaaap. Ayok kita jadwalkan lagi,” sahut Dennis dengan senang hati.


“Nunggu team ku lengkap. Enggak enak makan tanpa ada Murti,” sahut Aurel.


“Kabarin aja kapan mau ngumpul.” sahut Dennis yang sebenarnya home basenya memang di Jakarta. Semarang dan Jogja malah cabang usahanya.


Saat Ahmad meninggal Dennis terpaksa menginap di hotel karena tak mungkin masuk ke rumah ibunya tengah malam. Yang ada malah nanti ibunya terbangun lalu mengajaknya ngobrol sampai pagi.


Tadi mobilnya dia taruh di kantor Aurel karena dia tak mau kehilangan moment satu mobil dengan Wina.


***


“Hallo Ti,” sapa Wina saat mendapat telepon dari Murti.


“Ih, bukan jawab salamku dulu Mbak,” rajuk Murti.


“Ha ha ha, wa’ alaykum salam adikku yang bawel,” balas Wina.


“Kata ibu ( Aurel ), Mbak sudah masuk kantor?” tanya Murti penasaran.


“Iya say, aku bete di rumah. Kamu kapan balik. Aku kangen ama kamu,” Wina bicara tanpa rem.


“Senin lah. Sekarang baru sampe Jakarta. Besok dan lusa kan libur,” jawab Murti.


“Aku dan bulek Ratmi besok ke rumahmu ya. Ada beberapa peralatan ibumu yang tertinggal. Sekalian aku mau bilang terima kasih ke ibu yang udah bantu aku,” balas Wina cepat.


“Kalau pulangin alat monggo, tapi kalau terima kasih itu enggak perlu. Kita memang harus saling tolong ‘kan. Aku tunggu besok ya. Kasih tau pas on the way biar aku gelar karpet merah,” goda Murti.


“Yeeee …, aku yang telepon dia, kenapa dia yang nutup telepon?” Murti memandang ponsel yang layarnya masih terang tapi sambungan pembicaraan sudah terhenti.


***


Wina dan bulek Ratmi bersiap main ke rumah Murti. Sekarang sudah jam sembilan. Wina membawakan Murti banyak sirop. Banyak kerabat yang bawa gula, kopi, teh, sirop selain beras saat takziah. Banyak yang Wina berikan pada beberapa orang yang dia kenal mulutnya tak comel.


Bahkan gula, kopi dan teh juga dia bawakan untuk beberapa office girl dan office boy  serta satpam di kantornya karena Wina tak mengerti kapan semua akan habis sedang dia hanya berdua dengan bulek Ratmi dan tak ada yang suka minum kopi.


“Ngapain sih repot-repot Mbak?” Murti menyambut Wina dengan senang.


“He he he, bantu aku ngabisin. Di rumah juga masih nayak dan aku kan jarang pakai. Kalau disini mungkin bisa ibu gunakan sebagai pemanis kue atau apalah,” sahut Wina.


Bulek Ratmi langsung ngobrol dengan ibunya Murti, kemarin memang mereka akrab di dapur.


“Bulek, aku bawa oncom Majalengka, cicipin deh. Ini juga ada KALUA JERUK khas sana,” Murti menyodorkaan toples isi keripik oncom dan kalua.


Kalua  jeruk di kota lain lebih dikenal dengan nama manisan buah jeruk. Manisan ini terbuat dari daging kulit buah jeruk Bali yang diolah dengan gula. Kalua jeruk mempunyai tekstur yang keras di bagian luar. Namun saat digigit, kalua ini akan terasa sangat lembut. Soal rasa, manisan ini memiliki cita rasa manis dan lezat.


“Nanti bulek bawa kecap asli sana juga, aku cuma beli sedikit sih, biar pada ngerasain aja. Besok aku bawakan untuk mbak Lusi ( istri Reza ) sama buat bu Aurel. Aku enggak sempat kemana-mana. Mas Yon reseh kalau aku mau pergi sendirian. Padahal disana dia enggak sempat ninggalin lokasi sama sekali,” Murti bercerita tentang kegiatannya di Majalengka.


“Mbak, aku beli MOBI. Sandal dari karung goni. Buat seru-suruan aja karena sandal enggak boleh basah atau kotor sih. Semoga aja ukurannya pas buat mbak Lusi dan Bu Aurel,” Murti memberika sandal yang untuk Wina.


Buat ngilangin penasaran, eyank kasih gambar kalua dan mobi ya.



Wina mengunyah keripik oncom yang Murti sajikan. “Aku pengen ceritaan,” bisik Wina. Wina tak ingin ibunya Murti dan bulek Ratmi mendengar apa yang dia bicarakan.


Murti menarik Wina masuk ke kamarnya. Wlau kamarnya tak kedap suara, tapi bila mereka bicara berbisik tentu tak ada yang mendengar.


“Ada apa Mbak?” Murti tahu pasti ada beban yang Wina rasakan.


“Baca ini,” Wina malas cerita dari awaal. Bila Murti sudah tahu pokok persoalan, mereka tinggal berdiskusi saja.


Murti mbaca ulang surat Ahmad. Agar dia tak salah tangkap. “Kalau menurut aku yang orang luar, akan ada banyak pesan yang bisa disalah artikan oleh yang baca surat ini, bila tidak hati-hati menela’ahnya Mbak  .”


“Pertama, Mas Ahmad membuat pesan ini karena dia teramat cinta pada mbak Wina. Dia akan sedih bila mbak terlalu lama sendiri.”


“Kedua dia merasa bersalah karena selama ini tak mampu melindungi Mbak dari tekanan ibunya. Maka dia buat mandat seperti itu. Agar Mbak punya kekuatan hukum. Karena di surat hibah dengan notaris disebut, semua hasil penjualan rumah atau mobil 100% milik mbak Wina. Sebab jatah mas Ahmad sudah dia hibahkan pada Mbak. Kalau tak ada surat hibah itu, keluarga mas Ahmad akan merongrong Mbak untuk membagi dua.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  UNREQUITED LOVE  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta