
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Darrel yang mendengar Aira akan ke timezonee tentu tak mau ditinggal.
“Abang itut,” pekik Darrel. Dia berlari memeluk Aurel dan menciumi pipi ibunya. Aurel memang sedang duduk di kursi mengamati Aira berganti pakaian sehingga Darrel gampang naik kursi dan menciuminya.
“Ih, ini siapa yang tahu-tahu datang nyiumi Umma?” goda Aurel.
“Abang Alleeeel,” sahut Darrel cepat.
“Emang Abang anak Umma?” goda mbak Yuni.
“IyaHH, anak Um’maH,” balas Darrel. Kalimatnya sering diakhiri huruf H. Aurel memeluk dan menciumi Darrel dengan gemas.
***
“Kita belanja dulu ya, habis itu baru kita akan main. Jadi saat Umma belanja kalian tidak boleh rewel, kalau rewel tidak jadi main,” Rajev memberitahu kedua buah hatinya. Mereka diajarkan saling mengerti. Kalau bermain dulu lalu mereka capek, nanti saat belanja mereka akan rewel.
Darrel yang belum bangun dengan benar hanya mengangguk pelan. Di mobil tadi dia tidur. “Kakak bisa bantu Umma?” Aurel mengajak Aira terlibat dalam kegiatan belanja mereka.
“Bisa!” jawab Aira dengan cepat. Putri kecil ini memang anak yang aktiv.
“Hebat. Ini catatan yang akan kita beli. Kalau Umma sudah ambil dan Umma masukkan ke keranjang, Kakak coret jenis itu. Biar kita bisa beli semua tak ada yang terlupa,” Aurel hanya ingin membuat Aira belajar teliti dan bertanggung jawab saja. Tadi dia sudah menyalin semua yang ada di kertas ke dalam ponselnya. Nanti barang yang sudah dia ambil akan dia hapus jadi dia sebenarnya tidak 100% menyuruh Aira.
“Siyyyaaap Umma. Kakak pasti akan lakukan,” dengan senang dan semangat mereka berdua bersiap mendorong keranjang karena Rajev duduk menggendong Darrel yang tertidur.
Butuh dua keranjang untuk belanja awal rumah tangga Aurel dan Rajev. Belum lagi kotak rice box. Untungnya Darrel sudah bangun sehingga Rajev bisa terlibat membantu istrinya dan Aira.
“Yeeeeaay selesai. Mau makan ice cream dulu atau mau main?” tanya Aurel pada Aira. Sebagai apresiasi ‘bantuannya’ tentu Aurel memberi hadiah bagi partisipasi putri kecilnya itu.
“Es klim duyuuuuuu,” Darrel yang cepat menjawab membuat Aurel dan Rajev tersenyum bahagia.
“Emang Abang bantuin apa koq mau dapat hadiah duluan?” goda Aurel.
“Bantu doyong,” jawab Darrel dengan pedenya. Padahal dia hanya berpegang pada keranjang saja.
“Ha ha ha hebat anak Umma. Sudah bantu Umma dan Uppa ya. Oke semua akan dapat hadiah ice cream,” sahut Aurel.
“Love, barang aku taruh mobil dulu aja ya? Kalian disini aja,” Rajev berinisiatif menaruh belanjaan mereka dulu. Dia meminta dua orang pegawai supermarket.
“Ya, Uppa langsung ke tempat beli ice cream yang biasa ya,” Aurel membawa Aira dan Darrel berpisah dengan Rajev.
***
“Mengapa kita kesini?” tanya Aira bingung. Buatnya ‘rumah’ ini kecil.
“Uppa dan Um’ma akan menginap disini sampai hari Senin pagi. Kalau kakak mau pulang, akan kami antar,” sahut Aurel. Dia tak mungkin memberitahu tak ingin tidur di rumah bu Tarida bersama Rajev.
“Kakak juga mau nginap sama Um’ma dan Uppa,” tentu saja putri kecil itu lebih memilih bersama kedua orang tuanya.
“Ok, Kakak bisa bantu Umma? Kita masukkan sayuran dan buah ke kulkas yok? Tapi kalau Kakak cape jangan dipaksain. Kakak duduk manis aja liatin Umma kerja,” seperti biasa Aurel mengajak putrinya ikut membantu tapi dengan kata-kata yang membuat si gadis kecil tidak merasa disuruh.
“Iya, Kakak bantu Umma,” dengan antusias Aira membantu Aurel. Sementara Rajev kembali ke mobil untuk mengambil barang, karena satpam yang biasa membantu sedang jaga sendirian sehingga tak bisa meninggalkan pos jaga.
“Abang Darrel habis ini di rumah aja. Uppa masih bolak balik angkat barang,” Rajev memberitahu jagoan kecilnya. Dia agak repot harus mengawasi Darrel tapi juga angkat barang.
“Baiklah Son. Abang memang hebat, bantu Uppa terus,” Rajev kalah kalau berdebat dengan pakar debat seperti Darrel.
Akhirnya, Aurel bisa memasak nasi, karena selain beli rice box dan majic jar, tadi dia juga membeli beras. Untuk makan malam anak-anak Aurel kali ini hanya menggoreng nugget dan sosis saja sebab terlalu lelah. Untuk dirinya dan Rajev masih ada banyak lauk yang kemarin dia beli di rumah makan Padang. Itu saja dia panaskan kali ini.
***
“Kak, nanti bobo disini ya, sama Umma, Uppa dan Dede,” Aurel mengajak Aira masuk kamar utama. Dia ingin selama menginap di apartemen mereka tidur berempat.
Soal urusan perang peluh dia dan Rajev sepakat akan menggunakan kamar kedua yang berisi bed kecil ukuran 120cm saja. Aurel dan Rajev ingin anak-anak merasa nyaman ketika menginap dengan mereka.
“Kita tidur bareng? Iya Kakak sukaaaaaaaaaa,” Aira sangat senang akan tidur bersama kedua orang tuanya.
***
“Mau tambah nasinya, atau lauknya?” tanya Aurel pada Rajev.
“Cukup Love. Nanti sehabis bertempur mungkin aku akan makan lagi,” bisik Rajev. Dan Aurel hanya menjawab dengan cubitan dilengan suaminya.
“Abang dan Kakak hebat nih ma’emnya. Enggak ada yang disuapin,” walau berantakan Aurel membiarkan Darrel makan sendiri. Sejak tadi dia hanya bantu mengawasi saja.
“Abang sudah besar jadi makin pintar. Kakak paling hebat enggak dibantu,” Rajev memuji kedua anaknya.
“Tadi Kakak yang pilih nuggetnya uppa. Sosis jumbo juga dia yang ambil saat di supermarket tadi,” Aurel juga menanamkan rasa percaya diri pada putrinya. Dia ingin Aira tahu semua yang dia kerjakan dihargai oleh kedua orang tuanya.
“Wah emang putri Uppa itu hebat,” balas Rajev yang makin lancar bahasa Indonesianya.
***
Rajev dan Aurel mengapit kedua anak mereka di kasur ukuran king size. Sebelum tidur Aurel membacakan cerita, tapi mata kedua anaknya tak juga mau terpejam. Keduanya sedang sangat bahagia bisa tidur berempat.
“Uppa nyanyi dan kalian tidur ya. Besok pagi kita berenang di kolam bawah. Yang enggak cepat bobo besok enggak boleh ikut,” Rajev memberi pilihan. Di apartemen memang tersedia wahana olah raga termasuk kolam renang.
“Kakak mau berenang Uppa,” Aira tentu ingin berenang di kolam renang, bukan main air seperti yang biasa dia lakukan di rumah opung Tarida.
Rajev pun bernyanyi twinkle-twinkle little star, lalu dilanjut dengan shalawat hingga kedua anaknya tertidur.
Malam ini Rajev menyerah. Dia tak melakukan agresi. Karena dia juga melihat musuhnya sudah sangat kelelahan belanja untuk melengkapi kebutuhan apartemen ini sebagai hunian orang berumah tangga. Selama ini memang karena dia sendiri tentu tak butuh semua itu.
Ya, sejak tadi Aurel sudah lebih dulu tidur. Membuat Rajev tak tega mengganggunya.
\===============================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : RIA AISYAH, DENGAN JUDUL NOVEL TERPAUT 20 TAHUN YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta