BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
SURAT AHMAD UNTUK BUDE KURNIA



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 “Bu, ini oleh-oleh dari Semarang kemarin. Tapi semua tak jadi Ibu yang bayar,” Wina menyerahkan satu tas plastik besar berisi bandeng presto, moci dan lumpia basah mentah untuk Aurel. Ada tas lain yang ada nama penerima yaitu Murti dan Reza. Yon tak diberikan bagian khusus karena dia sendirian di kamar kostnya.


“Terus siapa yang bayar?” tanya Aurel curiga. Dia yakin semua pasti kerjaan Dennis.


“Pak Dennis Bu,” jawab Wina sambil membuka lumpia dan moci yang untuk dimakan di kantor.


Aurel langsung menghubungi Dennis. “Mas itu enggak salah oleh-olehnya?” Aurel langsung menegur Dennis setelah berbalas salam.


“Salah kenapa sih Rel? Kamu ‘kan lagi hamil. Enggak mungkin PMS,” godan Dennis.


“Salah lah,” jawab Aurel sambil mengunyah moci dengan senang hati.


“Kenapa?” tanya Dennis.


“Karena kurang banyak,” jawab Aurel.


“Kowe tu, aku kira kenapa,” Dennis keqi karena terjebak oleh godaan Aurel.


***


Dennis ingat saat dia mengantar Wina membeli oleh-oleh.


“Pak Reza, saya pergi sebentar untuk beli pesanan bu Aurel ya. Nanti saya balik lagi untuk merekap data ini,” Wina pamit pada Reza didepan Dennis yang juga sedang diruangan yang sama dengan Reza guna membahas proyek kerja sama mereka.


“Ok, pakai taksi online aja biar pasti sampai dan enggak diputer-puterin seperti taksi konvensional,” pesan Reza.


“Mau kemana?” tanya Dennis.


“Kami nanti malam mau kembali ke Jakarta, dan bu Aurel pesan lumpia serta bandeng presto dan moci. Ibu hamil kalau pesanan enggak dapat kan kasihan,” sahur Reza.


“Saya antar aja lah,” Dennis langsung berdiri. Dia minta sekretarisnya membereskan berkasnya.


Wina dan Dennis akhirnya jalan berdua mencari oleh-oleh. Wina tentu senang karena da guide khusus yang mengerti toko mana yang harus mereka tuju untuk membeli oleh-oleh itu.


“Belikan juga untuk kamu, pak Reza dan Murti serta Yon ya,” pinta Dennis kala itu.


“Koq jadi buat semua Pak?’ tanya Wina.


“Enggak apa-apa. Buat Aurel agak banyakan karena keluarganya kan jumlahnya besar. Enggak kayak kamu dan Reza apalagi Yon,” jawab Dennis kalem.


“Wah jadi ngerepotin Bapak nih,” walau berkata begitu Wina tetap memesan sesuai perintah Dennis kecuali untuk Yon. Jatah Yon dia gabung dengan Murti saja.


“Repot apanya? Selagi bisa koq,” balas Dennis. Sejak tadi dia selalu memperhatikan wajah manis Wina.


***


‘Ah Aurel, kamu telepon tentang oleh-oleh, aku jadi kangen ama Wina dan inget kedekatan kami saat belanja oleh-oleh itu,’ Dennis berupaya menepis bayangan Wina yang selalu hadir dalam benaknya.


‘Biar bagaimana pun aku tak mau mengganggu rumah tangga orang. Aku tak mau sama dengan sampah itu,’ Dennis benci pada orang yang suka merusak rumah tangga orang lain seperti ratna yang selalu dia sebut sebagai sampah.


***


“Kayaknya sih enggak akan ada kendala Bu. Semua jelas seperti ini,” Yon menilai hasil kerja Wina dan Reza selama di Semarang.


Team sedang di ruang Aurel sambil makan lumpia dan moci.


“Semoga aja. Dan seperti biasa semoga aja ada order lanjutan dari pak Dennis,” jawab Aurel yang sejak tadi terus mengunyah. Tumben dia makan lumpia dan moci. Biasanya hanya mau ngemil kue lapis legit saja.


Mereka juga sambil menelaah pekerjaan daerah lain yang di Jabodetabek, Lampung, Tegal serta Sukabumi.


“Saya malas keluar makan, kalau kalian mau makan diluar saya nanti titip saja ya?” Aurel meminta Murti kembali mendekatkan piring lumpia.


“Mau pesan online atau pesan ke office boy Bu?” tanya Murti.


“Enggak usah. Kalian kan pergi makan, saya titip kalian aja,” jawab Aurel.


“Baiklah,” sahut Murti.


***


“Belikan sedikit nasi dengan lauk rendang dan dua perkedel kentang serta lalap daun singkong ya. Tapi juga belikan ketoprak bumbunya yang banyak,” jawab Aurel.


Ha ha super banget kan porsi makan bumil itu. Padahal sejak tadi ngemilnya makanan berat lho.


***


“Ya hallo Mas,” Wina mengangkat telepon dari Ahmad.


“Koq tumben telepon?” tanya Wina.


“He he lagi kangen Yank. Kamu sudah makan?” tanya Ahmad lembut.


“Ini lagi pesan makan. Aku sama Murti dan Yon,” sahut Wina.


“Ya udah selamat makan ya. Kalau nanti Mas telat pulang, kamu buka laci di meja kecil di ruang tamu ya Yank. Mas titip surat buat bude Kurnia. Kamu kasihkan aja ke dia besok,” pesan Ahmad.


“Lha kalau besok ya Mas aja yang kasihkan,” jawab Wina.


“Ya kita lihat besok aja ya Yank. Udah dulu ya. I love you,” tanpa menunggu jawaban dari istrinya telepon sudah Ahmad putus.


***


Murti dan Wina sejak tadi sudah kembali ke ruangan mereka. Aurel sudah makan ketopraknya untuk ronde pertama.


Yon dan Reza sedang diskusi dengan team untuk proyek Majalengka yang akan digarap selanjutnya.


“Murti, jatah bandeng presto dan lumpia milik Yon aku masukin tas jatahmu. Kalau moci ada ditas kecil dalam tas jatahmu juga. Aku pikir Yon enggak bakaal masak kan?” Wina memberitahu soal oleh-oleh Semarang.


“Mas Yon masak koq Mbak. Dia enggak beli lauk matang. Dia sukanya makan aneka tumisan yang dia olah sendiri. Jadi pulang kerja dia masak buaat makan malam dan sarapannya,” sahut Murti.


“Ealaaaaah. Tiwas aku gabung ke jatahmu je. Ya terserah kamu lah,” Wina tak tahu kalau bujangan itu suka masak.


“Aku ke toilet ya, sekalian mau ke mushola,” Wina pamit pada Murti. Sudah masuk waktu salat Ashar.


***


“Mbak ponselmu bunyi terus,” Murti memberitahu Wina yang baru kembali dari mushola. Murti sedang tidak salat. Dan Aurel lebih sering salat di ruangannya sendiri.


Wina mengambil ponsel yang dia letakkan di laci meja kerjanya yang tidak ditutup rapat sehingga dering telepon bisa terdengar.


“Ada apa ya? Koq mas Ahmad telepon dari nomor kantornya,” Wina bicara pada Murti melihat ada tiga panggilan dari nomor kantor suaminya.


“Hubungi balik aja Mbak, atau telepon ke ponsel bojomu mungkin pulsa dia habis,” jawab Murti.


“Enggak mungkin nek pulsa habis. Nomor telepon kami kan pasca bayar bukan pra bayar,” sahut Wina. Dia coba hubungi nomor telepon gengam suaminya.


“Assalamu’alaykum Mas,” sapa Wina ketika sambungan diangkat oleh ‘suaminya;


“Maaf, ini dengan bu Wina?” tanya suara diseberang sana.


“Iya, mengapa bukan mas Ahmad yang angkat?” tanya Wina bingung karena suara yang menjawab bukan suara suaminya.


“Pak Ahmad ada. Ibu bisa ke rumah sakit Sejahtera?” tanya suara diseberang.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNREQUITED  LOVE   YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta