BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
KERJA RINGAN YANG DAPAT UANG BESAR



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\===================================================================================


“Ibu enggak apa-apa, kalian makan aja, enggak perlu sungkan,” bu Tarida rupanya juga mengerti watak menantunya itu.


‘Apa amang boru sedang di Jakarta? Apa ayah cerita kalau Aira sakit?’ pak Iskandar yang baru saja hendak terpejam di sofa ruang rawat inap kaget menerima chat dari Radit.


‘Ayah enggak tau dia datang ke Jakarta atau enggak. Nanti ayah tanya kakekmu. Kalau soal Aira sakit, enggak ada yang ayah beritahu dia sedang dirawat disini,’  balas pak Iskandar.


‘Barusan Abang lihat dia di lobby rumah sakit, sepertinya dengan perempuan ular itu, mereka pergi naik taksi’ chat Radit kembali masuk, dari kantin rumah sakit ke lobby memang agak jauh.


Pak Iskandar langsung keluar ruangan dan menghubungi nomor rumah ayahnya. Setelah berbasa basi menanyakan kesehatan ayahnya, pak Iskandar menanyakan apakah mantan abang iparnya datang mengunjungi ayahnya di Cisarua.


Jawaban ayahnya menguatkan dugaan Radit, karena ayahnya bilang mantan kakak iparnya dua malam yang lalu telepon bilang akan terbang ke Jakarta lalu akan menengok mantan mertuanya tersebut besok. Mungkin saja sejak dia telepon sebenarnya sudah ada di Jakarta.


YULIA POV


Aku tenang, setidaknya uang rawat mama sudah tercover. Mama sakit darah tinggi, kumasukkan dia rawat inap di kelas tiga, biar tidak terlalu membebaniku. Bisa habis uang hasil kerjaku untuk membiayai rumah sakitnya bila mama di rawat di kelas 2 atau kelas 1. Dari kantor papa biaya rawat mama tidak tercover karena papa hanya pegawai kontrak bukan pegawai tetap.Aku ingat menghubungi om Binsar saat kepepet seperti sekarang, dan om Binsar mau memberikan sedikit uang untukku asal aku mau kembali bekerja sama dengannya. Aku ingat pertama ketemu om Binsar tidak sengaja, dia belanja di supermarket tempatku bekerja, saat itu mesin kasirku sedang hang.


“Saya sedang buru-buru, bisa saya bayar manual aja enggak. Enggak perlu pakai mesin?” tanya pria paruh baya yang masih terlihat macho itu. Aku taksir usianya sepantaran dengan ayahku.


“Kalau Bapak mau bayar belanjaannya, Bapak tinggalkan nomor telepon karena saya takut ketempuan salah bila data input tidak sama dengan nilai barang keluar,” jawab Arief seniorku.


Dia membayar rokok yang diambilnya dan memberikan uang seratus ribuan, Arief memintaku untuk mengambilkan kembalian dan mencatat nomor HP yang diberikan. Rupanya dia tidak hafal nomornya sendiri sehingga aku terpaksa meminta dia misscall ke nomorku untuk aku catat nomornya.


Malamnya ada nomor yang menghubungi ponselku, nomor tak kukenal, namun tanpa ragu kuangkat “Malam” sapaku.


“Hallo,” sapa suara yang tak kukenal. Suaranya mendesah berat dan serak.


“Maaf dengan siapa ya?” tanyaku penasaran.


“Saya yang tadi kamu bantu bayar manual di supermarket saat beli rokok,” jawab pria tersebut.


“Oh Bapak, ada perlu apa Pak?” tanyaku.


“Saya ganggu kamu?” tanyanya lagi.


Akhirnya malam itu kami ngobrol beberapa saat. Sekedar bertanya nama serta alamat. Dua hari kemudian om Binsar menghubungiku, dia bilang akan menjemputku sepulang kerja, karena aku shift malam dan akan pulang jam 10 malam saat supermarket tutup.


“Temani Om ngopi dulu ya!” ajaknya, kami berjalan santai ke kedai makanan yang banyak di pinggir jalan


“Mau makan apa?” tawarnya padaku.


“Enggak ah Om, malas, saya minum teh panas aja, nanti saya ngemil gorengan aja. Om kalau mau makan silahkan gapapa,” jawabku.


“Iya saya makan ya. Maklum enggak punya istri dan di sini bukan di rumah sendiri,” jawabnya setelah memesan nasi goreng dengan satu telur dadar dan satu telor ceplok. Aku tahu dia memang tinggal di Medan, bukan orang Jakarta, dia bilang ke sini karena ada urusan dengan mantan mertuanya, orang tua almarhum istrinya.


Sepanjang menemani dia makan om Binsar banyak bertanya tentang mama dan papaku, serta bertanya mengapa aku tidak kuliah dan banyak pertanyaan lainnya. Bagaimana aku mau kuliah bila tamat SMA saja tidak, aku terpaksa berhenti sekolah ketika mama masuk rumah sakit selama satu bulan dan semua uang papa habis untuk membiayai perawatan mama.


Aku di antar om Binsar pulang, dia tidak turun dari taksinya. Tanpa aku tahu ternyata Jefri pacarku melihat dan mengira aku ada hubungan khusus dengan om Binsar.


Sudah satu bulan om Binsar kembali ke Medan, hubunganku dengan Jefri masih tetap hangat seperti biasa. Malam ini Jefri kuminta untuk menjemputku karena ada yang ingin kubicarakan dengannya.


“Maaf aku enggak bisa!” jawab Jefri pasti saat kuminta ia segera menikahiku karena aku telah hamil satu minggu, demikian keterangan bidan puskesmas yang tadi pagi kudatangi.


“Apa alasanmu? Kau bilang akan tanggung jawab bila aku hamil. Kamu yang pertama melakukannya!” desakku.


“Benar aku yang pertama. Namun aku enggak yakin itu anakku karena beberapa kali aku melihat kau sering pergi dengan om-om,” jawab Jefri tanpa ragu menuduhku telah berbuat dengan orang lain selain dirinya.


“Aku enggak pernah berbuat dengan siapa pun selain denganmu!” teriakku membuat semua pengunjung warung melihat kearahku. Dan Jefri langsung pergi meninggalkanku karena malu ditatap banyak orang.


Aku pulang dengan gontai, saat sampai rumah om Binsar menghubungi, aku ogah-ogahan menjawabnya.


“Hei … ada apa denganmu anak kecil? Kenapa suaramu tercekat seperti itu?” tanya om Binsar.


“Aku terpuruk Om, aku putus asa …” lalu kuceritakan kelakuan Jefri barusan.


“Aku menawarkanmu kerja sama mau? Kau enggak akan kesulitaan hidup karena akan ada pria muda kaya raya yang ganteng akan menjadi bapak anak yang kau kandung itu!” itu awal mula aku terlibat kerja sama yang menguntungkan dengan om Binsar.


“Om akan segera ke Jakarta. Nanti begitu Om sampai akan Om hubungi kamu. Sekarang kamu enggak usah sedih, pergi tidur dengan tenang,” bujuk om Binsar sehingga aku bisa tenang.


Tiga hari kemudian aku bertemu dengan om Binsar, aku hanya di minta untuk berphoto-photo dengan seseorang pemimpin perusahaan lalu menjebaknya agar segera menikahiku.


Om Binsar menyuruhku menghafalkan siapa ibu dan ayah pemimpin perusahaan itu, lalu om Binsar yang akan mengatur kapan aku menemui pemuda itu untuk memberitahukan kehamilan “anaknya”.


Anak yang kukandung ini. Selain aku akan di nikahi pria itu, dari om Binsar aku akan di beri uang lelah 2,5 juta rupiah.


Wooooow, kerja ringan langsung dapat uang sebesar itu, siapa yang tidak mau? Apalagi nanti anak yang aku kandung ini aman, akan punya bapak. Bahkan bukan sembarang bapak, tapi juga bapak yang kaya, bukan seperti Jefri yang hanya menjadi satpam di bank.