BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
KITA BISA BERTEMU?



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\=============================================================================


Saat mobil berhenti karena menabrak, ayah masih sempat berpesan “Dit, Ayah enggak bisa bertahan, kamu harus fight. Jaga ibu dan istrimu, serta anak-anak kalian. Mereka segalanya buat kita.”


“Yah, jangan gitu, kita akan bisa keluar dari sini, ayo Yah, pegang tangan Radit kita keluar bareng,” pinta Radit.


“Kamu harus fight dan cari dalang kerusakan mobil ini Dit,” nafas ayah tersengal.


Radit langsung menuntunnya membaca syahadat secara perlahan. Begitu selesai baca Syahadat, ayah pun meninggal dan Radit baru merasakan sakit teramat sakit di kepalanya lalu dia tidak sadarkan diri.


FLASH BACK OFF


“Apa?” seru kakek saat mendengar cerita Radit barusan.


“Jadi Is ( panggilan kakek untuk anaknya -ayah Radit- ) menduga ada yang sengaja merusak mobilmu. Enggak usah diselidiki, Kakek tau siapa pelakunya, seperti saat Kakek tau siapa dalang yang menjebakmu hingga harus menikahi perempuan pelacur itu. Is memang maunya selalu berdasarkan bukti sehingga sejak awal Kakek enggak bisa bertindak sesuai insting Kakek,” lanjut sang kakek dengan geram.


“Maksud Appa ( bu Tarida memanggil mertuanya APPA ) apa?” tanya ibu pada mertuanya.


“Saat Is menduga Radit dijebak menikahi perempuan itu, Appa sudah bilang sama Is, pasti dalangnya dia. Namun Is berkilah enggak bisa gegabah karena enggak punya barang bukti,” demikian kakek menjelaskan apa yang dia duga saat itu.


“Appa akan segera mengusut persoalan ini, Appa enggak mau akan jatuh korban lagi. Is juga bulan lalu kasih tau fakta siapa yang jebak Radit dan itu tepat dengan dugaan Appa,” jelas kakek.


“Saat kejadian kan dia ada di rumah Appa. Appa curiga yang ngerjain mobil Radit itu orang yang dia bilang sopirnya dia. Kan pagi itu semua di dalam kecuali si sopir mobil sewaannya. Appa yakin itu jalan Tuhan mengapa Sairoh ( putri pertama kakek )  enggak umur panjang.  Pasti Allah enggak berkenan Sairoh punya suami serakah seperti Binsar,” saat ini kakek sudah menyebut nama oknum yang dia curigai sebagai dalang kecelakaan.


“Mulai saat ini kita harus berhati-hati terhadap apa pun, terhadap siapa pun dan dimana pun kita berada,” perintah kakek Ikhlas lagi. “Apa selama Radit sakit dia pernah datang kesini?”


“Enggak Kek. Selain keluarga dan staff yang memang biasa kesini, tak ada orang lain yang datang. Karena di perusahaan juga tidak diumumkan kalau Radit dirawat disini. Semua tahu Radit di rumah sakit PMI Bogor. Itu karena sudah diekspose media sehingga kita enggak bisa nutupi,” sahut Aurel.


“Kan waktu sedang makan dia akan bilang langsung pulang ke Medan sore itu Kek,” balas Radit mengingatkan kakeknya.


“Abang sambil sarapan ya,” Aurel mendekati Radit sambil membawa bubur sumsum yang ibu mertuanya bawa dari rumah. Disuapinya kekasih hatinya dengan telaten. Lalu dia berikan paket obat yang harus Radit minum pagi ini.


“Kakek mau sarapan roti atau bubur sumsum?” tanya Aurel dengan sopan.


“Bubur sumsum aja,” jawab kakek, memang mereka belum sarapan karena begitu habis salat subuh mereka bersiap berangkat ke rumah sakit


“Ibu enggak perlu kamu siapin. Sekarang kamu dan Kakek aja sarapan. Ibu gampang nanti ambil sendiri.” Bu Tarida senang Radit mendapat perempuan terbaik untuk dirinya dan diri anaknya. Dia tak ingin membuat menantunya yang sedang hamil muda malah repot mengurus dirinya


“Semalam Aurel pesan telur setengah matang dan bubur ayam buat sarapan penunggu, kalau Ibu mau, bubur ayam juga masih utuh,” jawab Aurel sambil memberikan mangkok bubur sumsum pada kakek Ikhlas Sebayang. Dia juga menyiapkan teh jahe panas untuk kakek, Radit dan Ibu.


“Kamu itu lagi hamil Mam, enggak usah kebanyakan gerak. Kamu sarapan aja ya?” pinta Radit, dia geram istrinya tetap tak bisa diam sejak tadi.


Radit kembali teringat kata-kata terakhir ayahnya : Jaga ibu dan istrimu, serta anak-anak kalian. Apa ayah sudah ‘tahu’ mengenai kehamilan Aurel? Jelas-jelas ayah berpesan jaga anak-anakmu. Bukan hanya anakmu.


“He he he he he, mulai nih Bu, pagar Aurel udah bangun,” goda Aurel pada Radit. Ya Radit memang pagar bagi Aurel. Membuat perempuan itu terbatas geraknya. Walau tentu saja tujuannya baik.


“Kamu tu yaaaa,” balas Radit yang tak suka disebut pagar oleh istrinya.


Baru saja Aurel selesai membereskan aneka peralatan makan, dokter datang untuk memeriksa kondisi Radit


“Sehabis botol infus ini, sudah tidak akan ada tambahan infus ya, hanya tinggal recovery melalui makanan dan obat,” kata dokter sambil menuliskan resep.


“Besok kita cek tulang panggul dan tulang ekor ya. Juga melihat tulang betis. Jangan duduk dulu sebelum kita lihat hasil pemeriksaan tulang panggul dan tulang ekor ya,” lanjut dokter mengingatkan Radit agar tak ada gerak tambahan yang belum boleh dilakukan pasiennya itu.


Radit kembali tertidur saat kakek dijemput oleh sopirnya untuk langsung pulang ke Cisarua. Sebelum pulang tadi kakek sempat bicara banyak dengan Aurel. Kakek meminta Aurel mulai bersiaga terhadap serangan pada dokumen mengingat kejadian kecelakaan yang kakek duga di rancang oleh mantan menantunya yang serakah.


Seminggu sudah Radit sadar. Hari ini pertama kali dia melihat berkas kantornya, karena saat orang kepercayaannya datang sebelum ini dia belum mau ikut terlibat urusan kantor. Namun melihat tiap hari Aurel menerima team nya dari toko kue, maka Radit mulai ingin mengambil alih kegiatan istrinya agar tidak terlalu cape. Mengingat Aurel sedang hamil


***


Sudah tiga hari Rajev berada di Jakarta, pekerjaannya mulai agak ringan sebab sejak dia datang dia bekerja keras agar cepat selesai. Karena agak senggang dia mencoba menghubungi Aurel.


Dering telepon Aurel berbunyi saat dia baru saja selesai mengambil piring bekas sarapan Radit dan sedang memberinya obat.


“Assalamu’alaykum,” sapa Aurel. Radit bertanya melalui kernyit alisnya, siapa yang menghubungi istrinya. Dan Aurel memperlihatkan tampilan layar ponselnya memberitahu caller id yang menghubunginya.


“Wa alaykum salam. How are you?” sapa Rajev sopan.


“Saya baik,” jawab Aurel, tentunya dengan bahasa inggris ya.


“Kita bisa bertemu?. Saya sudah tiga hari berada di Jakarta,” Rajev meminta izin pada Aurel


“Of course you can, I will introduce you to my beloved husband  ( tentu saja boleh, saya akan memperkenalkanmu pada suamiku tercinta )” jawab Aurel sambil menggenggam jemari Radit.


Akhirnya Rajev berjanji akan datang saat jam kunjung pasien sore ini sesudah dia selesai bekerja.