BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
KAMU BIKIN AKU KALANG KABUT



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 Sejak keluar kamar hingga dalam lift Rajev tidak ingin melepas tangannya dari pinggang Aurel. Mereka duduk di lobby, karena Murti belum berada di sana maka Aurel menghubunginya “Masih lama Mbak? Saya sudah di lobby ya” pesan Aurel.


“Iya Bu, ini baru mau keluar kamar. Saya pikir Ibu lama” jawab Murti dengan rasa bersalah.


***


Saat Aurel bekerja, Rajev sama sekali tidak mengganggunya, dia sibuk dengan note booknya sendiri. Dan Aurel pun tidak pernah memikirkan Rajev saat  dia sibuk kerja. Dia benar-benar focus.


Setelah selesai Aurel hendak langsung pulang tanpa mengingat dia ditunggu oleh Rajev.


“Bu, pak Rajev enggak diajak pulang?” tanya Murti heran, karena mereka langsung menuju tempat parkir mobil, bukan menghampiri bedeng tempat Rajev menunggu.


“Astaga Mbak, saya lupa kalau dia ikut,” jawab Aurel. Dia pun menelpon Rajev “Kami sudah selesai, kamu langsung ke parkiran ya.”


‘Bu Aurel memang benar-benar fokus bila bekerja. Sampai pacar seganteng itu aja enggak dia ingat,’ batin Murti.


“Malam ini kita mau ke mana Mbak?” tanya Aurel pada Murti.


“Wah saya buta Jogja bu,” jawab Murti polos.


“Kalau begitu, malam ini kamu saya ajak ke Malioboro ya, makan malam di lesehan Malioboro aja. Gimana?” tanya Aurel.


“Wah nanti saya ganggu Ibu,” Murti tentu tidak enak pada boss nya itu.


“Ha ha ha, kami bukan anak muda yang pacaran Mbak. Kami sudah lebih focus ke anak-anak. Walau dia memang lebih posesive dari pak Radit. Namun kami enggak keganggu. Di rumah juga dia lebih banyak ke anak-anak koq,” jelas Aurel.


“Malam ini kamu mau ke mana?” tanya Aurel, dia bertanya pada Rajev, siapa tahu kekasihnya ingin punya tujuan lain.


“Saya tidak punya tujuan, saya ikut kamu aja,” balas Rajev.


“Saya mau ajak mbak Murti makan di lesehan Malioboro, sekalian  melihat-lihat siapa tahu mau beli oleh-oleh. Kalau kamu mau kamu boleh ikut,” jawab Aurel.


“Kemarin sore saya ke Malioboro beli mobil-mobilan kayu untuk Darrel. Lalu saya juga makan di Malioboro” cerita Rajev.


“Mbak, kalau mau beli batik jangan di Malioboro, besok kita ke pasar Beringharjo aja,” Aurel yang biasa belanja untuk jualan ( kulakan ) saat kuliah dulu memberi info pada Murti.


“Baik Bu,” jawab Murti. Memang bagi wisatawan yang sempat berkunjung siang ke Jogja lebih enak belanja di pasar Beringharjo. Tapi bila datangnya sore hingga malam ya pasarnya sudah tutup dan memang alternative belanjanya di Malioboro.


“Mas, satu jam lagi di lobby ya, malam ini kita makan di lesehan Malioboro, lalu kita jalan sepanjang Malioboro aja. Besok malam kita ke Alun-alun kidul,” Aurel memberi tahu driver nya.


“Siap Bu,” balas si driver yang emmang bertugas menemani kemana pun Aurel pergi selama di Jogja.


***


Aurel pun ingin bergegas ke kamarnya karena dia sudah tidak tahan ingin mandi. Namun Rajev menariknya untuk menemani pesan kamar bagi dirinya.


“Mbak Murti duluan aja, kami mau pesan kamar untuk pak Rajev,” Aurel memberitahu Murti. Ternyata kamar hotel penuh karena ada rombongan anak sekolah yang menyewa kamar-kamar hotel tersebut juga beberapa hotel sekitar situ


“Sudah, kamu pakai kamarku saja. Aku bisa tidur dengan mbak Murti,” Aurel memberi solusi pada Rajev yang kebingungan hendak mencari hotel lain. Aurel menarik Rajev untuk ke lift. Dia ingin mandi karena sudah merasa gerah


“Apa kamu tidak percaya padaku? Kita bisa satu kamar, bukankah di kamarmu ada dua kasur terpisah?” Rajev bertanya pada Aurel. Kamar Murti pun sama dua bed karena saat pesan dari Jakarta memang  sudah full booking. Bahkan untuk Aurel pun tak ada kamar dengan kasur besar.


Aurel sudah siap dengan kaos turtle neck tangan panjang berwarna putih dengan celana jeans hitam juga sneaker hitam. Dia sedang bingung, pakai pasmina atau jacket ya? Riasan wajahnya natural, hanya terlihat lipstiknya lebih terang.


Rajev yang baru selesai mandi, dengan rambut basahnya keluar dengan santainya hanya memakai celana pendek dibawah lutut tapi masih bertelanjang dada


“Kenapa keluar kamar mandi enggak pakai kaos?” protes Aurel


“He he he, sorry, kaosku jatuh dan basah, aku kucek lalu aku gantung di kamar mandi” jawab Rajev sambil mengambil kaos didalam ranselnya. “Semoga laundry hotel tepat waktu karena aku kehabisan baju,” doa Rajev.


“Salah sendiri, harusnya pulang malah jadi ngikutin aku,” ejek Aurel


“Kamu sih pakai ngambeg, jadi bikin aku kalang kabut,” balas Rajev tak mau kalah


“Harusnya laundry selesai jam berapa?” tanya Aurel


“Jam tujuh malam ini” jawab Rajev


“Nanti sepulang makan kamu jangan lupa ambil” balas Aurel. Sekarang ayok kita keluar agar mas Yon dan mbak Murti tidak kelaman nunggu kita”


“Beri aku spirit dulu sebelum keluar,” pinta Rajev dengan manjanya.


“Kebiasaan ah,” Aurel menolak, tapi tangannya berhasil ditangkap Rajev. Hanya kecupan sekilas yang Rajev berikan. Lalu mereka segera keluar. Kali ini Aurel membawa sling bag berisi ponsel dan dompetnya. Sedang Rajev tak bawa apa pun karena dompet dan ponsel ada di sakunya. Tangan Rajev hanya untuk memeluk Aurel sejak mereka keluar kamar.


Ternyata mereka lebih dulu tiba di lobby daripada mbak Murti. Hanya mas Yon, driver dari perusahaan Dennis sudah standby di depan.


Kali ini Aurel makan didepan pasar Beringharjo. Kalau malam ada penjual gudeg dan oseng-oseng mercon milik simbah-simbah. Duduknya di tikar yang digelar sepanjang trotoar. Kalau hujan maka pengunjung tak bisa makan dan kasihan pedagangnya.


Aurel meminta nasi separo serta gudeg dengan ceker dan dua kepala ayam serta sambal krecek untuk dirinya. Untuk Rajev dia pesankan sama hanya nasinya satu porsi dan ditambah ayam bagian paha atas.


Aurel juga meminta satu porsi oseng-oseng mercon bagi dirinya berdua Rajev.


“Mbak, dan Mas Yon pesan sendiri ya,” Aurel meminta keduanya memesan sesuai selera mereka.


“Kamu mau tambah apa Babe?” tanya Aurel pelan.


“Sate usus dan kerupuk,” sahut Rajev menunjuk yang dia mau. Untuk minumnya Aurel memesan satu teh panas dan satu lemon tea dengan sedikit es. Rajev tak terlalu suka lemon tea seperti Radit.


Sehabis makan di lesehan serta berjalan sepanjang Malioboro, Aurel mengajak Murti untuk ke ujung jalan Malioboro menuju titik nol. Disana ada Mirota batik yang terkenal. Rupanya Rajev juga belum pernah kesitu.


\=====================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL WANT TO MARRY YOU  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta