BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
MENCARI TAHU SOSOK JENDERAL.



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA


\~\~\~\~\~


 “Bu, dulu saat di Medan kakek kerja apa selain mengelola kebun sawit?” tanya Aurel


“Kakek tidak pernah mengelola kebun sawit. Kakek itu sebenarnya TNI AD. Sejak muda dia selalu berpindah tugas. Saat diserahkan kebun sawit oleh orang tuanya dia tidak sanggup mengembannya. Maka dia serahkan urusan kebun sawit pada sahabatnya yaitu pamannya Ibu. Mereka kerja sama bagi hasil. Nah karena itulah Ibu kenal dengan ayah Iskandar. Karena kakek sering mengutus ayah ke rumah paman ibu sehingga kami saling jatuh cinta,” cerita ibu mengingat masa lalunya.


‘Pantas mas Reza menyebut kakek dengan panggilan jenderal. Ternyata memang kakek dari TNI AD. Tak diragukan lagi,’ pikir Aurel.


“Entah mengapa keluarga kakek sulit dapat anak lelaki. Saat ayahmu menikahi Ibu, kakek mengajukan pensiun dini dan membuat perusahaan.”


“ Rumah ini adalah rumah milik kakek. Ketika Radit SMP kakek membeli tanah di Cisarua karena saat itu nenek mulai sakit-sakitan, nenek butuh lingkungan yang tenang dan udaranya bersi,” jelas bu Tarida.


“Ibu tahu ada hubungan apa mas Reza dengan kakek?” tanya Aurel. Aurel curiga karena kata jendral pertama kali dia dengar dari mulut Reza.


“Ibu kurang tau pastinya. Kalau tidak salah Reza adalah salah satu anak asuh di panti asuhan milik nenek di Bogor. Dan Reza asisten kakek melatih bela diri. Saat Radit memegang pimpinan perusahaan kakek meminta Reza mendampingi Radit karena Radit tidak mau belajar bela diri. Kakek bilang Radit butuh Reza sebagai asistennya.” begitu penjelasan bu Tarida.


“Tapi penjelasan terakhir tentang Reza yang akurat adalah dia bukan anak panti asuhan. Di Cisarua Nenek membangun panti asuhan yang dipimpin oleh ulama daerah situ yaitu ayahnya Reza. Saat Radit SMA, nenek meninggal dan kakek meminta Radit mulai belajar memimpin perusahaan karena ayah tidak mau pensiun dini dari departemen kehakiman untuk melanjutkan usaha kakek,” jelas bu Tarida.


“Sejak itulah Reza selalu ada disisi Radit. Bahkan ketika kuliah pun Reza mendamping Radit dari jarak jauh. Usia Reza tiga tahun diatas Radit.


Sesungguhnya Reza bukan penghuni panti asuhan. Dia memang tinggal di panti asuhan milik nenek Radit. Karena ayahnya adalah penanggung jawab panti asuhan. Ayahnya juga merangkap sebagai pelatih bela diri bagi anak panti, selain sebagai pemuka agama di lingkungan panti asuhan.


***


Hari ini ulang tahun Aira ke lima, Aurel tidak membikin pesta, dia hanya menyiapkan paket untuk semua teman sekolah Aira. Orang tua teman Aira serta para guru tentu tidak menyiapkan kado karena tak di beritahu. Aurel hanya meminta kado berupa doa untuk Aira. Itu saja!


Aurel  juga menyiapkan paket makanan, kue dan alat sekolah untuk anak-anak panti asuhan. Semua hanya diantar tanpa pemberitahuan. Sekali lagi Aurel hanya meminta doa bagi Aira. Dia sengaja tidak mengundang anak panti asuhan karena kasihan bila anak panti berpikir kenapa mereka tak seperti Aira yang punya orang tua, punya rumah atau pikiran lainnya.


Sebenarnya membuat pesta di panti asuhan juga tidak baik bagi perkembangan jiwa anak pantinya. Aurel pernah mengundang anak panti saat ulang tahun Darrel yang pertama hanya karena permintaan Radit, rupanya itu adalah permintaan terakhir dari Radit.


Sore di rumah tidak ada tamu selain keluarga dekat, Mirna dan suaminya serta Vino, ibu dan beberapa temannya. Reza dan istrinya, Wina serta beberapa pegawai toko kue yang belum pulang.


Aira sedang terkekeh dengan Vino dan Darrel saat sapaan Rajev terdengar “Assalamu’alaykum cantik,” Rajev langsung memberikan salam pada Aira.


“Wa’alaykum salam om Rajev,” Aira langsung memeluk Rajev tanpa menerima uluran tangan Rajev.


“Rajev, when did you arrive in Indonesia?” tanya bu Tarida.


“Sudah sepuluh hari Mom. Besok saya kembali ke Qatar” jawab Rajev terbata dengan bahasa Indonesia.


“Saya belajar sedikit-sedikit,” balas Rajev, dengan dibantu bahasa tangannya. Telunjuknya dirapatkan dengan ibu jari memperlihatkan arti kalimat sedikit.


Sejak Rajev datang, Aurel berupaya tidak dekat, apa lagi menyapanya. Saat ini Aurel sedang menyuapi Darrel yang didudukkan di kursi makan khusus bayi atau high chair. “Anak hebat, ayo satu lagi ya,” Aurel terus mengajak Darrel bicara.


“Hallo jagoan, sedang makan?” tanya Rajev, dia sengaja duduk disebelah Aurel. Dengan posisi Darrel yang sedang dikursi tingginya, tidak mungkin Aurel pergi meninggalkan Darrel begitu saja. Maka dengan terpaksa Aurel tetap di sana dan terus menyuapi anaknya.


“Have I done anything wrong to you? Why can't we be good friends like before? ( Apa aku pernah berbuat salah padamu? Mengapa kita tidak bisa akrab seperti dulu lagi? ),” tanya Rajev sambil berbisik.


Aurel tak menjawab apa pun, karena dia bingung. Mengapa dia tidak mau akrab lagi dengan Rajev seperti saat masih ada Radit, atau bahkan saat awal mereka kenal dulu?  Padahal Rajev sama sekali tak bersalah padanya.


“Oke selesai maemnya, sekarang kita cuci mulut yok,” Aurel mengangkat Darrel dari kursinya dan mengajak ke wastafel untuk mencuci mulut Darrel agar tidak bau amis. Setelah itu wajah Darrel dia lap dengan tissue agar wajah anaknya kering. Aurel menurunkan Darrel untuk kembali bermain.


Rajev sadar diri, Aurel masih menghindarinya. Dia akan menunggu hingga para tamu pulang. Rajev tak ingin merusak suasana. Dia lalu fokus bermain dengan Darrel dan tak mau mendekati Aurel.


***


Saat makan malam, Aurel tidak bisa menghindar dari Rajev. Semua karyawan sudah pulang. Di meja makan hanya ada Mirna dan suaminya yang berniat menginap disini, ibu serta Rajev dan Aurel.


“Kamu mau ini?” tanya Aurel basa basi menawarkan ikan goreng pada Rajev. Karena sejak tadi dia menawarkan Mirna dan suaminya lauk.


“Boleh,” balas Rajev. Aurel mengambilkan sepotong ikan untuk Rajev.


“Ibu sayurnya lagi?” Aurel mendorong piring capcay agar lebih dekat ke arah ibu.


“Ibu, saya minta izin ingin bicara berdua dengan Aurel sebelum saya pulang kembali ke Qatar,” tetiba Rajev membuat kejutan bicara didepan ibu dan Mirna di meja makan, meminta izin untuk bicara. Aurel tersedak dan Ibrahim  atau yang biasa dipanggil A’im suami Mirna sigap memberikan air putih untuknya.


RAJEV POV


Sejak sepuluh hari lalu aku berada di Indonesia. Negeri indah tempat pujaan hatiku berasal. Dua hari pertama aku di Jakarta, satu kota dengannya. Namun aku berupaya menahan diri untuk tidak menemuinya. Walau aku ingin sekali melihatnya dari jauh, tapi aku tahan keinginanku,agar pekerjaanku cepat selesai dan aku bisa segera mengecek kondisi di lapangan di Cilacap, lalu baru aku kembali ke Jakarta menemuinya.


\===============================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta