
DARI SEDAYU JOGJAKARTA YANKTIE SAMPAIKAN SELAMAT MEMBACA
'Sejak kemarin serasa ada yang mengawasi setiap gerakku,' Radit mengirim pesan ini pada kakek Ikhlas dan Aurel saat dia akan sarapan di hotel pagi ini.
'*Serius? Bukan hanya perasaan Papap saja*? 'balas Aurel cepat. Dia khawatir akan keselamatan suaminya.
'Serius, karena orang-orang ini seperti mencari celah Papap sendirian, maka Papap enggak pernah berpisah dengan pak Saleh dan pak Yono,' balas Radit. Walau masuk ke WC umum sekali pun sejak kemarin memang Radit tak ingin sendiri.
'Bismillah, kami masuk tol,' itu pesan terakhir yang Aurel terima dari nomor Radit. Sampai siang tidak ada berita lagi. Aurel mulai resah karena seharusnya Radit sudah sampai Jakarta maximal jam satu siang ini.
Aurel langsung menghubungi ibu dan kakeknya. Dia mengabarkan kekhawatirannya. Hari ini Aurel tidak keluar rumah, karena Radit berjanji makan siang di rumah dengannya dan anak-anak.
Jam empat sore sore bu Tarida pulang dan berlari memeluk Aurel. Perempuan tua itu tak bisa berkata apa pun.
“Ada apa Bu?” Aurel tentu bingung mengapa ibu mertuanya bersikap seperti itu. Tidak lama ayahnya dan Bagas serta Mirna dan Vino berhambur memasuki rumah mereka. Belum ada yang berkata apa pun. Semua masih bingung bagaimana mengatakan fakta yang akan membuat Aurel terpuruk.
“Kamu yang sabar ya, Abang ada di rumah sakir UKI, dia tertabrak truk saat baru keluar tol,” bisik ibu Tarida terbata sambil memeluknya.
“Apa maksud Ibu? Lalu bagaimana kondisi Abang?” pekik Aurel tak percaya.
“Sebentar lagi papanya Mirna membawa Abang pulang kesini sayang,” balas ibu.
“Abang sudah bersama ayah.”
Aurel langsung pingsan, dia tidak kuat menerima cobaan ini. Cinta pertamanya, kekasih hatinya meninggalkan dirinya selama-lamanya. Aurel tersadar saat jenazah Radit sudah sampai di rumah. Wajah dan badan Radit terlihat utuh. Dia mengalami benturan di kepala belakang sehingga langsung meninggal saat kejadian. Ponselnya hancur sehingga tidak bisa dilacak nomor yang bisa dihubungi oleh petugas rumah sakit.
Untungnya ponsel pak Yono utuh sehingga pihak rumah sakit bisa menghubungi beberapa nomor di sana. Reza yang mendapat khabar dari keluarga pak Yono langsung menghubungi bu Tarida yang langsung meminta agar Reza jangan menghubungi Aurel.
Bu Tarida lah yang menghubungi pak Wicaksono, ayahnya Aurel serta Bagas dan keluarga lainnya termasuk kakek. Saat Aurel pingsan Rajev menghubungi ponsel Aurel karena tidak bisa menghubungi Radit. Bu Tarida langsung mengatakan tentang kematian Radit.
Rajev teringat pesan Radit saat mereka makan berdua hari Minggu diulang tahun Darrel “Bisa aku berpesan padamu?”
“*Of course*, kita sahabat. Apa pun bisa kamu katakan padaku,”
“Aku ingin kau menjaga Aurel dan anak-anakku setelah aku pergi!”
Lalu diingatnya pelukan hangat Radit sebelum dia meninggalkan rumah kawannya itu “Ingat, aku titip anak-anak dan istriku di pundakmu,” pesan terakhir Radit.
Juga jawaban pertanyaan Rajev saat dia bertanya apa maksud pesan Radit padanya “Nanti kau akan tahu apa maksudku!”
Rajev baru tahu mengapa kemarin Radit minta foto berdua dengan semua orang. Rupanya Radit ingin mereka punya kenangan dengan dirinya.
Rajev segera meluncur ke Jogja untuk terbang ke Jakarta, dia sangat kehilangan sahabatnya. Rangga yang mendapat telepon dari Reza juga langsung meluncur ke Jakarta. Rangga tak percaya dengan berita ini karena baru kemarin mereka bertemu saat tanda tangan MOU proyek mereka. Dan saat itu Radit memberikan hadiah pernikahan untuk dirinya
***
Aurel hanya diam termenung, dia baru saja melepas kepergian laki-laki tercintanya. Dia dan semua kerabat baru pulang dari pemakaman Radit. Aurel duduk termenung di kamar atas. Kamarnya dan Radit. Serasa kamar ini sangat kosong dan tak ada hangat kehidupan lagi. Duduk di pinggir ranjang Aurel mengingat pertama kali dia melihat Radit di acara perkenalan mahasiswa baru.
“Selamat pagi adik-adik, selamat datang di kampus tercinta, perkenalkan nama saya Raditya Putra Sebayang, kebetulan saya ketua senat kalian!” demikian kata-kata perkenalan cowoq ganteng di podium.
Aurel dengar dari bisik-bisik temannya kak Radit tak suka pada perempuan yang mengejarnya. Dan kak Radit adalah pacar kak Mirna yang selalu setia di sisinya kemana pun kak Radit melangkah. Sebagai mahasiswi baru tentu Aurel hanya menyimak semua info itu.
Aurel mengenang bagaimana cara Radit memintanya menjadi kekasihnya, tak ada segi romantisnya. Namun Aurel tetap sangat menyukainya “Kenapa chat aku enggak pernah di balas bahkan di baca pun sudah lama setelah aku kirim?”
“Aku sibuk, jarang pegang HP”
“Tapi saat di baca kan bisa balas.”
“Kenapa sih kamu ketus gitu!”
“Kenapa kamu ketus padaku Rel? Apa sejak kita kenalan aku pernah bikin salah ama kamu sehingga kamu begitu?”
“Engga Kak, enggak ada yang salah koq.”
“Mulai saat ini kamu enggak boleh enggak jawab chatku kalau memang benar aku enggak salah ke kamu seperti kamu bilang barusan.”
“Tapi Kak…….”
“Enggak ada tapi-tapian!” demikian cara Radit memaksanya menjadi kekasihnya, tanpa mengatakan cinta yang lebay.
Aurel mengingat saat Radit secara resmi mengenalkannya pada ibunya dan dari sanalah baru Radit memintanya untuk menjadi pacarnya, “Rel, aku kenalin kamu ke ibu karena aku mau ibu tau kalau aku punya pacar, aku serius sayang ama kamu Rel, mau ya jadi pacarku” ucap Radit kala itu.
“Abaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang, koq tega sih ninggalin Adek?” Aurel kembali terisak menyadari Radit sudah tak ada disisinya.
Aurel mengingat pertemuannya kembali dengan Radit setelah mereka dipisah terpaksa karena Radit dijebak agar menikahi ibu kandungnya Aira.
“Assalamu’alaykum Dek.”
“Wa alaykum salam, Abang…”
“Apa khabar?”
“Baik Bang, sangat baik, Abang ternyata ambil S2 juga.”
“Iya, tahun lalu Abang dan Mirna ambil S2, tapi yang terpilih seleksi kegiatan ini hanya Abang.”
“Owh sudah dari tahun lalu, apa akan selesai di semester ini?”
“Sepertinya enggak kekejar selesai semester ini, semester depan bisa nya. Maklum sekarang kan enggak full kuliah, tapi disambi kerja.”
Itu awal terjalinnya kembali kisah mereka, saat tanpa sengaja mereka bertemu di jambore khusus mahasiswa S2 di Malang.
Dan tanpa buang waktu Radit langsung memintanya kembali menjadi belahan jiwanya, “Mungkin ini terlalu cepat, tapi Abang mau jujur, rasa sayang dan cinta Abang ke Adek enggak pernah berubah atau berkurang. Kalau saat ini Adek sudah ada pengganti, Abang akan dengan senang hati mundur, yang penting Adek bahagia dan masih mau menyambung silaturahmi dengan Abang terutama dengan ibu. Namun bila Adek masih sendiri maka Abang mohon Adek bisa kembali menjalin kasih dengan Abang,” pinta Radit to the poin pada Aurel saat itu
\======================================================================================
SAMBIL NUNGGU CERITA INI DILANJUTKAN BESOK, MAMPIR JUGA KE NOVEL LAIN MILIK YANKTIE YA.
JUDULNYA I MARRIED MY DAUGHTER DAN WANT TO MARRY YOU
TENTUNYA HANYA DI NOVELTOON ATAU MANGATOON SAJA YA.
===========================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta