BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
AKU MELIHAT PERSELINGKUHANNYA



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 “Mamaaaaaaaaaaa,” Aira tetap tak mau. Dia menggeleng tak mau merubah panggilannya pada Aurel.


“Ya sayang,” jawab Aurel lembut.


“Kakak ingin ice cream,” rengek Aira.


“Nanti ya, kita baru aja makan. Tunggu agar makanan kita turun baru kita akan beli ice cream,” jawab Aurel.


“Apa kakak Zayn dan kakak Hiyaa juga boleh dikasih ice cream?” tanya Aira. Rajev memang mengajarkan Aira menyebut Zayn dan Bahiyaa dengan sebutan kak, karena mereka anak kakaknya


“Mereka juga akan makan ice cream,” jawab Rajev dengan manis.


***


Aurel sedih berpisah dengan calon kakak iparnya, dia memeluk erat kak Amishaa saat melepas kepergian keluarga Rajev kembali ke India. Rajev memeluk pundak perempuan terkasihnya “Cukup, kita kan akan ketemu lagi saat pernikahan kita. Kalau kalian saling rindu, kalian bisa saling mengunjungi,” hibur Rajev.


“Jaga diri baik-baik,” nasehat Uppa pada Rajev dan Aurel.


“Kamu adalah wanita pertama yang Raja minta pada kami. Dan kami setuju dengannya, kamu istimewa. Terima kasih telah menerima anak Umma. Umma titip dia di tanganmu ya,” pamit bu Ahisma lirih dan lembut.


“Iya Umma, aku pun berterima kasih, umma dan uppa telah menerimaku menjadi calon pendamping Rajev,” balas Aurel sambil memeluk erat calon ibu mertuanya itu dengan kasih.


Sehabis dari bandara Rajev dan Aurel langsung kepemakaman Radit, dua hari lagi adalah tepat dua tahun hari kematian Radit. Sudah sejak sebelum ulang tahun Darrel mereka ingin ke makam Radit, tapi karena kondisi yang tak memungkinkan maka baru hari ini mereka bisa kesana. Niat awal Rajev ke makam Radit sebelum hari lamarannya.


Aurel dan Rajev tertunduk membaca doa untuk Radit, mereka sudah menabur bunga. “Assalamu’alaykum Abang, maaf lama enggak kesini, terakhir kesini pas ulang tahun Aira ya. Ade sibuk Bang, alhamdulillah kantor berjalan baik. Anak-anak sehat, dan Ade selalu ajarkan mendoakan Abang setiap mereka akan tidur, sambil melihat photo Abang. Ade enggak mau mereka melupakan papapnya. Semoga Abang tenang disana,” Aurel berbisik seakan ada Radit didepannya. Tanpa bisa dibendung airmatanya mengalir deras.


Rajev paham Aurel pasti menangis setiap dia kemakam Radit, karena ini bukan pertama kali dia menemani kekasihnya datang kesini.


“Assalamu’alaykum saudaraku, aku kembali datang padamu. Sesungguhnya niat kami datang sebelum hari Jum’at lalu sebelum Darrel ulang tahun, tapi maaf kami agak sibuk. Kami datang kesini memberitahu kemarin Jum’at aku sudah melamar Aurel secara resmi. Semoga langkah kami selanjutnya berjalan dengan tanpa hambatan. Doa kami engkau selalu berada ditempat terbaik disisi Allah,” bisik Rajev.


“Abang, Ade dan kak Rajev pulang ya. Kasihan anak-anak ditinggal sejak pagi, karena tadi kami mengantar orang tua Rajev ke bandara. Assalamu’alaykum Bang,” Rajev membimbing Aurel berdiri setelah kekasihnya pamit.


***


Siang ini Aurel ingin memperlihatkan design undangan yang ditawarkan pihak WO. Dia pamit ke Wina pulang lebih dulu untuk mampir ke kantor Rajev.  Sesampainya di kantor Rajev dia melihat mobil kekasihnya ada. Artinya Rajev sedang di kantornya, tidak pergi keluar kantor


“Selamat siang Bu” sapa resepsionis lantai tujuh dengan ramah ramah. Sejak pertama Aurel datang memang Rajev sudah mengingatkan tak boleh ada yang tahan Aurel masuk keruangannya


“Siang pak, pak Rajev ada?” tanya Aurel basa basi


“Ada Bu” jawab resepsionis tanpa ragu


Aurel langsung melangkah menuju ruangan Rajev. Dia mendorong pintu yang tidak rapat tertutup. Namun dia menemui kejutan yang sangat menyakitkan. Dia melihat Rajev sedang berpelukan dengan Aashita. Aurel langsung menghempas pintu dan dia berlari kencang ke arah lift. Beruntung dia masih bisa masuk lift yang pintunya hampir tertutup untuk turun.


Aurel mengemudikan mobilnya segera meninggalkan kantor Rajev. Dia mematikan ponselnya. Dia berhenti di rumah sakit ibu mertuanya. Dan duduk lama dalam mobil di area parkiran.


‘Apa itu sebabnya sejak tadi sebelum aku berangkat ke kantornya ponsel Rajev tak aktiv? Apa karena dia sedang asyik pacaran dan tak ingin diganggu?’ Segala praduga berkecamuk di pikiran Aurel


Saat sedang mengunyah kue, pelanggan kantin di sebrangnya sedang mengganti kartu telepon di ponselnya. Aurel mendapat ide untuk membeli kartu perdana agar dia bisa berbicara dengan Bagas atau ayah dan ibu ke nomor rumah. Bukan ke ponsel agar tak bisa diketahui oleh Rajev.


Aurel menyebrangi jalan, menuju counter pulsa yang juga menjual kartu perdana. Dia mengganti nomornya lalu menyalakan ponselnya. Untung dia menyimpan nomor telpon di ponselnya sehingga saat dia ganti nomor tak bingung mencari nomor yang dia tuju. Semua nomor ada di ponsel saat dia aktivkan ponsel itu.


Sudah dua kali Aurel menghubungi nomor telepon Bagas, tapi adiknya tak juga mengangkat hubungan telepon darinya. Akhirnya dia mengirim SMS 'Angkat telpon Mbak Dek.'


Dia memberi jeda agar Bagas membacanya. Namun belum sampai dia menekan nomor Bagas, adiknya malah lebih dulu menghubunginya.


“Assalamu’alaykum De, kamu dimana?” tanya Aurel tanpa basa -basi.


“Wa’alaykum salam Mbak, ni baru mau pulang, habis dari sanggar,” jawab Bagas.


“Sanggarmu kan dekat rumah sakit ibu. Kita ngobrol di sanggarmu atau kamu kesini. Mbak lagi di rumah sakit ibu,” Aurel memberi info posisinya.


“Siapa yang sakit Mbak?” tanya Bagas cemas. Mereka hanya dua bersaudara. Dan sejak di SD, kakak sulungnya itu bertindak sebagai ibu bagi dirinya. Tentu saja dia sanagt cemas bila kakaknya sedih.


“Enggak ada yang sakit, mau gimana? Aku ketempatmu atau kamu kesini?” desak Aurel lagi.


“Aku ketempatmu” jawab Bagas cepat.


“Jangan beritahu nomorku ini pada siapa pun,” pesan Aurel sebelum dia memutus hubungan telpon dengan Bagas. Dia lalu menghubungi telepon rumah ayahnya. Dia tak ingin ayahnya khawatir bila ibu atau Rajev menanyakan dirinya pada ayahnya itu.


“Assalamu’alaykum Yah,” sapa Aurel dibuat setenang dan secerah mungkin.


“Wa’alaykum salam,” jawab Ayahnya.


“Bagas sudah pulang Yah?” tanya Aurel berbasa basi. Dia ingin tahu bagaimana kondisi hati ayahnya saat ini.


“Belum, malam ini kan dia jadwalnya ke sanggar lukis. Mungkin sebentar lagi.” jawab sang Ayah.


Aurel bingung mau menyampaikan ke ayahnya dia takut ayahnya kepikiran, tapi bila tak disampaikan kalau sampai Rajev datang atau telepon kan juga bahaya.


\=============================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL WANT TO MARRY YOU  YOK!


 



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta