BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
RITUAL RINGIN KEMBAR



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 Aaaahhhhhhhhhhhhhh … Murti tadi sempat berpikir buruk, bossnya pasti sedang asyik dengan pak Rajev. Ternyata pak Rajev malah tidak berada dikamar. Murti segera pamit untuk ke lobby menemui team kerja dan akan mengatakan boss mereka sedang bersiap dan akan salat dulu.


“Love, bangun dulu yok,” bisik Rajev lembut. Dia juga menggusel pipi dan leher Aurel agar kekasihnya segera bangun.


“Aku masih ngantuk Kak,” tolak Aurel.


“Tapi staffmu sudah menunggu di lobby,” Rajev kembali menggoda Aurel.


“Kaaaaaaaaaak …,” Aurel mendorong Rajev yang semakin nakal.


“Makanya bangun, barusan Murti datang menjemputmu,” Rajev terkekeh melihat Aurel yang masih ngantuk. “Begadang sebentar aja sampe enggak bisa bangun begitu sih?”


“Iya aku akan bangun,” Aurel segera mengambil baju ganti lalu segera mandi dan salat sebelum turun ke lobby. Sementara Rajev gantian tidur. Dia tak mau ikut Aurel yang akan diskusi dengan team kerjanya.


***


Malam ini Aurel mengajak Murti dan Rajev serta mas Yon untuk makan nasi goreng sapi PADMANABA. Sejak sore antrian disana sudah rame.


“Ibu enggak salah ngajak pak Rajev makan dilokasi seperti ini?” tanya Murti, dia berpikir setingkat ibu boss dan pak Rajev pasti cari makannya yang super mewah. Sejak makan oseng-oseng mercon didepan pasar Beringharjo, makan soto batok di seberang hotel dan sekarang makan nasi goreng ditrotoar depan sekolahan.


“Ha ha ha, sejak kami kenal lebih dari 5 tahun lalu, kami makan di semua tempat, enggak pandang lokasi atau harga, yang penting enak dan bersih,” jawab Aurel santai. Dia langsung mencari tempat duduk dekat tembok sekolahan.


“Nanti nasiku aku oper separo ke kamu ya,” Aurel lebih dulu memberi tahu Rajev karena dia tidak habis satu porsi. Rajev hanya mengangguk tanda setuju.


“Mas Yon, dari sini baru kita ke Alkid ( alun-alun kidul atau lapangan Selatan ). Besok siang kita makan di Wijilan” beritahu Aurel pada drivernya. Mas Yon yang memang warga Jogja tentu saja tahu semua tempat yang Aurel minta antar.


“Saya kira ibu dan pak Rajev baru aja kenal” cetus Murti.


“Enggak, saya dekat dengan Rajev sebelum nikah dengan pak Radit. Karena saya menikah, Rajev menjauh. Dan dia baru menyapa saya kembali setelah pak Radit meninggal,” balas Aurel. Dia tak ingin ada dugaan dia bisa langsung akrab dengan orang yang baru saja dikenal.


“Mbak, kalau besok sebelum makan siang kita sudah selesai, kita bisa langsung pulang enggak ya sorenya?” tanya Aurel, mengalihkan topik pembicaraan tentang hubungannya dengan Rajev.


“Sehabis dapat kepastian tugas Ibu selesai saya akan langsung pesan tiket pulang Bu,” balas Murti.


“Besok kamu sudah selesai?” tanya Rajev. Walau pengucapan masih terbata, tapi dia bisa menangkap percakapan  bahasa Indonesia dengan cukup baik.


“Iya, aku ingin segera pulang. Atau kamu masih ingin stay disini?” tanya Aurel.


“Bagaimana bila kita ke Borobudur?” Rajev minta pendapat Aurel.


“Bukankah di India juga banyak candi?” tanya Aurel bingung.


“Benar di negaraku banyak candi, tapi enggak ada yang masuk keajaiban dunia kan?” jawab Rajev memberitahu alasan mengapa dia ingin ke candi Borobudur. Lebih-lebih ke Borobudurnya dengan perempuan special dalam hidupnya.


“Besok siang sehabis makan kita ke pantai Parang Tritis ya mas Yon,” pinta Aurel. Dia benar-benar ingin menjadi guide yang baik untuk Murti dan Rajev.


“Kamu bicara terlalu cepat, saya sulit menangkapnya” protes Rajev.


“Saya bilang, iya, kita akan ke Borobudur lusa pagi. Namun kita check out sejak pagi agar tidak buang waktu untuk kembali ke hotel,” Aurel menerangkan rencananya pada Rajev dengan bahasa Inggris.


“Thank you Love” balas Rajev, dia senang permintaannya dikabulkan Aurel


Sehabis makan malam nasi goreng sapi, mereka menuju alun-alun Selatan atau yang terkenal dengan nama ALKID  yaitu singkatan dari alun-alun kidul. Aurel menyarankan mbak Murti dan Rajev untuk mencoba ritual jalan dengan tutup mata. Suatu ritual yang terkenal di wisata ini.


Aurel mengikatkan penutup mata pada Rajev sambil berbisik “Make a wish, menurut kepercayaan, bila kamu bisa  lolos jalan ditengah dua beringin kembar ini maka permintaanmu akan terjadi.”


Aurel menemani langkah Rajev yang ditutup matanya untuk bisa mencapai batas beringin kembar. Sejak tadi mbak Murti maupun Rajev sudah memperhatikan sesama wisatawan yang melakukan ritual. Dan menurut mereka perilaku jalan tertutup ini sangat mudah karena hanya tinggal jalan lurus mengikuti arah kaki saja. Namun siapa sangka banyak yang memutar kekanan atau kekiri.


Tadi mbak Murti sudah lebih dulu mencoba dan ternyata dia melenceng sangat jauh ke kiri bahkan menjadi berbalik arah. Maka saat ini mereka ber tiga akan mendampingi Rajev untuk berjalan agar dia tidak menabrak orang.


Rajev menggosok-gosok kedua telapak tangannya lalu mulai melangkah pelan-pelan kedepan. Banyak suara yang dia dengar, tapi dia berupaya focus dengan keyakinannya sendiri.


“Yeeeaaaaaaaaaaayyyyy … ” sorak Murti dan Aurel bersamaan. Rajev membuka ikatan matanya dan ternyata dia berhasil jalan ditengah beringin kembar tersebut. Dia berhasil hingga melewati pagar beringin kembar itu.


Rajev mengangkat Aurel dan memutarnya dua kali putaran. Dia bangga bisa menjalankan ritual yang sampai saat ini dia melihat banyak yang tak bisa lolos melewati tengah beringin kembar tersebut.


Sehabis melakukan ritual mereka duduk lesehan, minum wedang ronde. Minuman khas aroma jahe. Mereka juga pesan sosis bakar dan jagung bakar.


“Mbak, itu sate ayamnya menggoda. Pesankan saya 20 tusuk yang dari kulit ya. Lontongnya satu saja. Dan kamu sama mas Yon juga silakan pesan,” walau sudah makan nasi goreng, tetap saja Aurel tergoda oleh aroma sate ayam yang dijual dengan berkeliling dan penjualnya menyunggi diatas kepalanya.


“Habis ini kita pulang untuk istirahat ya Mbak, besok kita masih banyak kegiatan,” perintah Aurel. “Tapi ingatkan saya mampir ke supermarket, saya butuh beli sussu bubuk. Sejak di Jogja saya tidak minum sussu.” Aurel memang tak bisa lepas dari minuman sussu coklat kegemarannya.


Murti melihat, antara pak Rajev dan bu Aurel tak ada kewajiban membayarkan makanan atau gengsi. Bila pak Rajev sudah akan membayar makanan maka bu Aurel tak akan bertindak apa pun, sebaliknya bila bu Aurel sudah akan membayar makan, pak Rajev tak akan bergegas bayar karena malu didahului. Namun bila belanja barang, semua harus dari dompet pak Rajev. Pak Rajev akan marah bila bu Aurel membayar belanjaan barang.


***


\==================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL TELL LAURA I LOVE HER  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta