BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
MAUMU KAPAN KITA NIKAH?



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 Rajev pun terpaksa diam, dia tentu tak ingin membuat wanita di depannya ini marah. Dia mengambil jemari Aurel dan mengecupnya sebagai tanda dia akan menuruti syarat yang di ajukan Aurel.


“Tapi sejak kesehatan ibu seperti itu aku menyadari dia butuh diriku, dia butuh cucu-cucunya, maka aku mengalah akan menemaninya di sini. Namun aku belum memutuskan akan kembali bersama denganmu.” sampai sini napas Rajev tercekat. Ternyata Aurel baik selama ini tetap belum menjamin mereka akan menikah.


“Semua tergantung bagaimana hasil diskusi kita malam ini. Karena bagiku pernikahan bukan untuk mainan, aku tak ingin ada perceraian,” Aurel menarik napas.


Aurel  tak ingin gagal seperti pernikahan Rajev dan Radit yang pertama. Pernikahan pertama dari kedua lelaki itu kandas dengan perceraian.


“Aku perempuan egois, aku tak pernah ingin berbagi. Jadi aku akan segera mundur begitu aku melihat pasanganku berpaling, jangan pernah berharap aku memperjuangkan pernikahan yang sudah ternoda. Itu tak akan pernah aku lakukan.” Aurel menerangkan prinsip hidupnya. Sebenarnya itu sama dengan prinsip Rajev dan almarhum Radit.


“Buatku pernikahan itu ibarat gelas, begitu dia retak, di lem dengan apa pun tak akan pernah bisa kembali seperti semula, apalagi bila sudah pecah. Jadi Kakak ingat itu dulu sebelum Kakak berani memastikan kita akan terus bersama,” tantang Aurel.


Aurel memandang manik mata Rajev dengan tajam. Dia mencari kepastian disana.


“Kamu tau, aku hanya mencintaimu. Kamu perempuan pertama dan terakhir. Aku tak akan pernah jatuh cinta pada perempuan lain. Dan aku berjanji, akan menerima konsekwensinya bila aku memang membagi hati dan tubuhku pada perempuan lainnya. Dulu pernah ada sosok perempuan disisi ku, tapi kamu tau dia ada karena perjodohan, bukan karena cinta.” Rajev mulai menjawab.


“Perempuan itu ( Ainayya ) hanya pernah ada sosoknya disisi ku tapi tidak di hatiku. Dan tadi sore kamu dengar sendiri, aku melaporkan Aashita karena dia merusak hubunganku denganmu. Aku hampir mati berpisah darimu, maka aku tidak main-main memperkarakannya. Aku tak mau ada perempuan lain lagi yang berani ambil resiko merusak rumah tanggaku. Aku ingin semua perempuan tahu akibat apa yang akan didapatnya bila dia membuatmu marah,” Rajev menjawab tantangan Aurel dengan serius.


Percakapan mereka terhenti karena dua pramusaji mengantarkan pesanan mereka. “Kita bicara sambil makan atau mau menunggu selesai makan dulu baru lanjut bicara?” tanya Aurel.


“Aku tak keberatan kita bicara sambil makan,” Rajev mengatakan pendapatnya.


“Baik. Jadi kamu bersikeras kita melanjutkan hubungan kita?” pancing Aurel.


“Apa aku pernah mengatakan mau melepasmu dan anak-anak? Bukannya kamu yang tak ingin kita bersatu?” balas Rajev menekan Aurel. Kalau soal debat, Rajev memang jago. Dia biasa memimpin. Bahkan di India walau dia belum memegang kendali perusahaan, dia lebih ditakuti daripada ayahnya.


Aurel terdiam karena kalimat terakhir yang Rajev katakan adalah benar. Dirinya lah yang meragukan keseriusan Rajev. Bukan sebaliknya, dan selama ini Rajev selalu berupaya agar hubungan mereka tetap terjalin.


“Kamu marah aku mengatakan hal itu? Aku salah berpendapat demikian?” desak Rajev.


“Aku tidak marah, dan memang salah pendapat Kakak itu. Tadi diawal kan aku bilang, kakak ingat dulu ketentuan dariku untuk kita bisa bersama sebelum aku bertanya. Nah Kakak hanya menekankan dipertanyaanku aja, Kakak enggak menjawab dulu komitmen yang aku minta,” elak Aurel.


“Kamu benar-benar egois seperti pernyataanmu tadi he he, aku kan juga sudah jawab tantanganmu. Aku bersedia menerima tantanganmu, hanya ada kamu di hatiku tak ada yang lain. Dan aku juga sudah janji akan menerima sangsi bila ada yang lain di antara kita,” balas Rajev, dia tahu Aurel tak mau terlihat salah apalagi kalah.


“Jadi lanjut nih?” goda Aurel dengan mata jenaka.


“Kamu selalu seperti itu kalau di tempat umum,” protes Rajev. Dia gemas ingin mencium Aurel. Tapi saat ini tentu hal itu tak bisa dia lakukan.


“Boleh aku lanjut bicara Kak?” pancing Aurel.


“Apa sejak tadi aku melarangmu?” balas Rajev.


“Kakak tahu, rumah yang aku tinggali sekarang adalah milik keluarga Radit. Kamar yang aku tempati adalah kamarku dengan bang Radit. Syarat utama kita menikah adalah kita tidak tinggal di rumah itu, terutama di kamar itu.” Aurel menjeda perkataannya karena mengambil sedikit sambal.


“Aku tak ingin ada bayangan Radit dalam rumah tangga kita. Biarlah Radit menjadi memori manis bagi kita berdua, tapi jangan berada diantara kita. Apa Kakak bersedia? Aku tahu soal materi Kakak pasti sanggup membeli rumah baru. Namun yang berat adalah menjelaskan pada ibu alasan kita pindah rumah,” pelan Aurel menyampaikan pendapatnya ini pada Rajev.


“Ok, aku akan bicara dengan ibu dan ayah. Kalau soal rumah, aku serahkan padamu, mau beli yang sudah jadi atau kita beli tanah lalu dibangun sesuai selera kita,” Rajev mengerti alasan Aurel tentang rumah.


Rajev ingat, di Tirur pun dia tak ingin istri pertamanya masuk ke area lantai dua, karena dia tak ingin ada kenangan dengannya. Tentu tak enak membangun suatu rumah tangga dengan ada bayangan mantan disana. Entah itu bayangan manis seperti Aurel dengan Radit. Atau bayangan buruk seperti Rajev dengan Ainayya mantan istrinya.


“Ada syarat lain?” tanya Rajev lagi.


“Sementara sih hanya itu, aku tak ingin rumah belum ada saat kita menikah, maunya sebelum menikah kita sudah pindah rumah,” saran Aurel.


“Tapi membangun rumah itu butuh waktu lama, kalau harus pindah dulu, berarti pernikahan kita di tunda dong?” sekarang Rajev yang keberatan. Rajev berpikir, untuk cari lokasi yang cocok aja lama, belum urus izin dan proses membangunnya. Dia lupa calon nyonya bergerak di bidang pembangunan perumahan.


“Maumu kapan kita nikah?” tanya Aurel penasaran.


“Kalau bisa minggu depan. Kalau tak ada insiden Aashita kita sudah nikah sejak bulan lalu lho,” papar Rajev tak sabar. Dia sangat kesal akan insiden yang Aashita buat sehingga beberapa bulan hidupnya sangat kacau. Kalau saja ibu Tarida tidak sakit tentu hubungannya dengan Aurel belum kembali normal seperti sekarang.


“Kalau minggu depan, apa kita sempat pesan gedung dan bikin pakaian pengantin? Apa Um’ma dan Uppa di Tirur tidak ngamuk bila dipaksa datang sekarang juga?”  tanya Aurel sambil senyum simpul mendengar Rajev tidak sabar untuk segera menikah.


“Kalau begitu bulan depan ya?” pinta Rajev. “Bukan hubungan suami istri yang ingin aku segerakan, tapi rasa tenang batinku bahwa kamu sudah menjadi milikku. Sebelum menikah aku tentu akan terus ketakutan kamu kembali membatalkan pernikahan kita” itu alasan Rajev minta disegerakan menikah.


\====================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL WANT TO MARRY YOU  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta