
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Kita ke rumah sakit jam berapa Pak kalau jam sembilan saja kita terima karyawan baru?” tanya Murti.
“Jam sembilan para karyawan baru hanya datang untuk mengisi ulang data diri dan sedikit pengenalan area. Mungkin saat mereka selesai isi data diri kita sudah sampai kantor. Kita berangkat jam enam, saya jemput kamu. Biar enggak muter-mueter,” sahut Reza cepat. Reza memang lebih cocok bekerja dengan Aurel dan Murti yang geraknya cepat. Tak seperti Radit yang geraknya selalu dipikirkan dengan saksama sehingga terkesan lambat.
***
Bu Tarida nekad datang ke ruangan Darrel dan Aurel. Saat ini masih pagi. Hanya ada Rajev dan Bagas, Vino baru saja berangkat kerja.
“Kenapa Ibu kesini?” tanya Bagas lembut. Bu Tarida datang diantar mang Engkus, sedang bik Eneng di kamar menemani mbak Nah.
“Ibu baru tahu kalau Aurel pingsan karena Darrel kritis,” jelas Ibu.
“Kami sengaja tidak memberitahu Ibu agar Ibu tidak stress. Ibu harus cepat sehat. Kasihan Aira di rumah sendirian,” bujuk Bagas. Dia tak ingin bu Tarida merasa diabaikan. Mereka memutuskan tak memberitahu bu Tarida justru karena sangat sayang pada ibunda Radit itu.
“Ibu sudah sehat koq. Semoga hari ini Ibu boleh pulang. Tapi bagaimana kondisi Darrel sebenarnya?” tanya bu Tarida.
“Sepertinya dia trauma karena penculikan. Kalau luka tubuh sih wajar, tapi semakin baik. Hanya kejiwaannya yang masih terus dipantau oleh dokter.” Bagas tentu tak bisa menyembunyikan kondisi Darrel pada bu Tarida. Walau dia tak cerita, bu Tarida bisa minta status data pasien.
***
Aurel tersadar. Saat itu hanya ada Ahisma dan Chander Kumar di kamarnya. Rajev sedang dipanggil ke kantor polisi terkait dengan kasusnya Binsar. Dan Bagas harus ke dinas pendidikan berkaitan proyek pameran lukisan yang diadakannya.
“Sayang, kamu bangun,” Ahisma langsung mendekati menantunya. Dan Chander langsung menekan bell memanggil perawat.
“Selamat siang bu Aurel. Saya ukur tensi dan ukur suhu ya, habis ini silakan banyak minum,” perawat yang datang memberitahu Aurel dia akan diukur tensi dan suhu tunuh Aurel.
“What she say?” tanya Chander Kumar pada Aurel.
“Dia bilang saya harus banyak minum Uppa. Suhu saya bagus juga tensi sudah normal,” sahut Aurel menjelaskan apa yang perawat katakan pada kedua mertuanya.
“Bagus lah, Rajev sedang ke kantor polisi. Dia ditemani driver kakek. Kakek sedang ke kantormu bertemu dengan … siapa tadi namanya Uppa lupa … ah bertemu dengan Reza,” Chander memberitahu menantunya kalau Rajev sedang pergi.
“Ini susuu coklat dingin,” Rajev bilang kamu suka ini,” Ahisma memberikan satu botol sussu kemasan untuk langsung diminum oleh Aurel.
“Terima kasih Um’ma. Boleh saya pinjam telepon?” tanya Aurel. Dia ingin segera memberitahu suaminya kalau dia sudah sadar.
Ahisma memberikan telepon yang sudah dia buka kuncinya.
“Siapa nama Rajev di phone book Um’ma?” tanya Aurel.
“RAJAKUMARAN, itu artinya pangeran,” sahut Ahisma.
Aurel segera mencari nama itu di phone book ponsel mertuanya. “Assalamu’alaykum Um’ma,” sapa Rajev lembut.
“Ini aku Honey,” jawab Aurel.
“Alhamdulillaah Love, kamu sudah sadar? Kamu tenang ya sayank. Darrel hanya trauma saja. Luka tubuh tak ada yang berbahaya. Tapi luka kejiwaannya yang akan dipantau terus oleh dokter.”
“Nanti pun setelah keluar dari rumah sakit dia harus terus dipantau dokter jiwa agar tak ada trauma tersisa,” Rajev menerangkan dengan rinci apa yang dokter katakan tadi pagi.
“Aku sedang menuju ke rumah sakit, kamu mau titip apa?” tanya Rajev.
“Aku ingin salad saja,” jawab Aurel.
“Umma, terima kasih,” Aurel mengembalikan telepon pada pemiliknya.
Aurel tak sabar menunggu Rajev, dia ingin ke kamar mandi. Dia juga ingin tahu dimana ponselnya agar dia bisa menghubungi staffnya.
“Wa’alaykum salam, kau sudah kembali?” balas Chander.
“Apa semua sudah beres?” tanya Ahisma.
“Hai Honey,” balas Aurel.
“Umma, aku beli makan siang. Nanti ditambahkan dengan lauk yang dari rumah,” Rajev memberitahu sang ibu tentang lauk yang dia belikan.
“Love, aku beli salad buah 4 box. Semoga kamu suka,” Rajev membeli salad buah, karena tak ada salad sayur kegemaran Aurel.
“Iya enggak apa-apa. Yang penting aku makan serat,” jawab Aurel.
“Raja, tadi perawat bilang Aurel harus banyak minum,” Ahisma memberitahu ketentuan untuk Aurel.
“Baik Um’ma. Akan aku perhatikan,” balas Rajev.
“Honey, aku ingin ke toilet,” Aurel berbisik pada Rajev.
“Pelan, ayok aku antar,” Rajev memapah istrinya dan membantu memegang botol infusnya.
“Honey, dimana ponselku, aku mau bicara dengan Wina dan Murti,” Aurel meminta ponselnya setelah dia selesai dari toilet.
***
Detik demi detik semua menunggu perkembangan Darrel. Walau dokter mengatakan lelaki kecil itu tidak ada kerusakan di bagian dalam kepalanya. Tapi sampai saat ini Darrel belum juga sadar. Hari telah malam menjelang dini hari.
Lantunan ayat suci terdengar di ruang rawat. Rajev melakukannya sejak istrinya terpejam karena masih ada obat yang membuat Aurel mengantuk.
Hanya dia sendiri yang terjaga karena Ahisma dan Chander serta kakek Ikhlas kembali ke hotel sehabis mereka makan malam tadi. Bagas dan Vino diminta Aurel istirahat malam ini.
“Sadar Son. Kamu pelita hati Uppa dan Papa. Jangan kecewakan kami. Biar ada seribu adik yang hadir nanti. Kamu tetap special dihati Uppa,” bisik Rajev setelah dia selesai mengaji.
“Kamu tahu Son? Saat mendengar Um’ma hamil kamu. Uppa sangat bahagia. Walau hanya bisa mendoakan kamu dari jauh. Karena bahagianya Um’ma adalah bahagianya Uppa. Saat itu papamu belum sadar dari koma dan Uppa belum mengenalnya.”
“Sejak kehamilanmu Uppa hanya bisa mendoakan kamu selalu sehat. Melihatmu dalam perut Umma saat pertama Uppa berkenalan dengan papa adalah suatu ‘pertemuan’ batin kita.”
“Uppa sudah jatuh cinta padamu sejak kamu dalam perut Umma. Dan doa Uppa terkabul saat mendengar kamu lahir! Uppa baru bisa melihatmu ketika usiamu tiga bulan. Saat itu
“Uppa meminta pada papamu untuk boleh menimangmu dan papamu dengan sangat pengertian membuat foto kita berdua. Kamu adalah anakku sejak kamu ada dirahim Um’ma Son. Bukan hanya sejak Uppa menikahi Um’mamu.”
“Cepat sadar sayank. Uppa kangen main bola denganmu. Uppa kangen pelukkanmu,” dan Rajev tak bisa menahan tangisnya. Dia tergugu memegang tangan mungil Darrel yang dia ciumi.
Aurel yang sejak tadi terbangun karena ingin minum ikut menangis dalam diam. Dia tak tahu kalau selama ini Rajev mencintai Darrel sedalam itu. Bahkan dia juga tak tahu kalau Rajev mempunya foto berdua Darrel ketika putranya berusia tiga bulan.
\==========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : RAMANDA, DENGAN JUDUL NOVEL JAMUR, JANDA MUDA DIBAWAH UMUR YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta