BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
LUCU BANGEEEET, NGEGEMESIN, CANTIIIIIIIIIIIIIK



Ini bab kedua hari ini


Semoga kalian suka. Saat ini hari Senin. Mangatoon/Noveltoon mbagi-mbaagi VOTE gratis yang bisa kalian gunakan


Berikan VOTE itu untuk novel ini ya.


Terima kasih dan SELAMAT  MEMBACA



“Sejak melahirkan sampai dia pergi, dia enggak pernah mau sentuh si bayi, walau pun hanya memberi kecupan selamat tinggal. Entah hatinya dibuat dari apa,” cerita Radit. kesal


“AIRA itu singkatan nama kita Dek, Aurelia dan Radit,” cetus Radit yang membuat Aurel terpana. Dia tak menyangka Radit mengabadikan nama mereka menjadi nama anak perempuan itu.


“Bayi itu belum pernah dapat pelukan ibunya?” bisik Aurel tertahan, dia menjadi teringat sosok bundanya yang lembut dan sangat mencintainya,. Aurel menjadi sangat merindu bunda dan ibunya Radit. Dua perempuan yang penuh kasih.


“Belum …  yang selama ini mendekap dan memeluknya hanya ibu dan mbak Nah, pengasuh yang ibu siapkan untuk merawatnya selama aku dan ibu kerja,” ada nada perih di suara Radit mengingat nasib buruk yang dimiliki bayi perempuan mungil yang katanya adalah anaknya. Dia sendiri tak yaakin bayi itu anaknya. Tapi biar bagaimana pun dia tetap akan menyayangi mahluk tak berdosa itu.


“Mungkin ini terlalu cepat, tapi Abang mau jujur. Rasa sayang dan cinta Abang ke Adek enggak pernah berubah atau berkurang. Kalau saat ini Adek sudah ada pengganti,  Abang akan dengan senang hati mundur. Yang penting Adek bahagia dan masih mau menyambung silaturahmi dengan Abang terutama dengan ibu. Namun bila Adek masih sendiri maka Abang mohon Adek bisa kembali menjalin kasih dengan Abang,” pinta Radit to the poin.


Pria keturunan Medan ini memang enggak romantis dan Aurel tahu hal itu sejak mereka berikrar kasih beberapa tahun lalu.


Aurel diam, sejak tadi nasinya sudah habis dan dia masih asyik makan satenya. Dia ingat pertama kali mereka makan berdua saat dia daftar ulang semester dua,  Radit juga lugas tanpa kata-kata romantis.


“Kenapa kamu ketus padaku Rel? Apa sejak kita kenalan aku pernah bikin salah ama kamu sehingga kamu beigitu?"


“Engga Kak, enggak ada yang salah koq.”


“Mulai saat ini kamu enggak boleh enggak jawab chat ku kalau memang benar aku enggak salah ke kamu seperti kamu bilang barusan”


“Tapi Kak…….”


“Enggak ada tapi-tapi an” demikian percakapan mereka kala itu, langsung to the poin seperti saat ini.


Ngajak balikan tanpa kata-kata rayuan. Itulah yang membuat Aurel sangat mencintai abang nya ini, tidak bertele-tele. Radit memang lebih banyak memperlihatkan cintanya melalui attensi dan perbuatan  bukan perkataan.


‘Rasa itu masih sama, namun apa aku sanggup mendampinginya, sedang saat ini dia sudah menjadi ayah seorang bayi berusia 5 bulan?’ Aurel berdebat dengan pikirannya sendiri.


“Dek … koq ngelamun,” tegur Radit melihat Aurel hanya mengaduk-ngaduk kuah gule yang isinya sudah habis mereka santap.


“Eh ….” desah Aurel, dia bingung harus menjawab apa, karena sejak tragedi itu dia tak pernah membenci Radit, entah mengapa. Tapi dia juga tak bisa berpaling ke laki-laki lain, seakan ruang hatinya memang hanya untuk Radit seorang.


“Apa ada sosok lelaki lain di dalam hatimu saat ini?” tanya Radit memastikan.


“Abang aku akan jujur, sejak kita break, ada teman dari India yang kerja di Qatar, dan dia sudah beberapa kali meminta ku sebagai pendamping hidupnya. Namun Adek belum menjawabnya,” jawab Aurel lirih.


“Kenapa kamu enggak kasih kepastian ke dia?” tanya Radit yang kaget karena sudah ada satu nama lain yang mencoba masuk ke hati Aurel.


“Dia enggak bisa kasih kepastian bisa stay di Indonesia atau enggak. Karena saat ini dia duda cerai. Perceraiannya karena istrinya selingkuh karena LDR. Aku mau dia belajar dari kejadian itu dan mau pindah ke kantor cabangnya di Indonesia” jelas Aurel dengan pelan.


“Kamu cinta ama dia?” desak Radit penasaran. Dia butuh kepastian


“Aku enggak tau, yang pasti selama ini aku nyaman ngobrol ama dia,” jawab Aurel jujur.


“Lalu bagaimana dengan permintaan Abang tadi?” desak Radit to the poin.


***


Hari kegiatan kedua, mulai banyak kesimpulan yang harus direkap, membuat Aurel tambah sibuk. Malam ke tiga ini dia sudah berniat akan gabung dengan para seniornya dari UGM untuk hang out bersama. Sejak tadi pagi Radit mulai cerewet dengan aneka attensinya via chat BBM, memang semalam mereka kembali saling invite pin BBM.


‘Malam mau ke mana?’ tanya Radit di chat.


‘Ping.’


‘Ping.’


‘Ping.’


‘Dek, koq enggak dijawab?’ kembali Radit mengirim chat.


‘Abang, Adek pegang HP kalau jam istirahat aja, jadi jangan bawel!’ jawaban ketus Aurel di baca Radit dengan cengar cengir.


‘Adek pergi ya, ama rombongan kampus,’ Aurel mengirim chat memberitahu kalau dia akan pergi dengan teman-temannya.


'Hati-hati ya Dek,' jawab Radit yang malas keluar, dia makan di aula yang di sediakan panitia, bercengkerama dengan teman-teman yang juga tidak keluar base camp.


‘Abang, aku pengen kenal Aira, bisa kirim photo dia?’ Radit senyum saat membaca permintaan Aurel yang baru saja di terimanya. Kalau Aurel akan menolaknya, tidak mungkin kan dia ingin kenal Aira?


Radit pun mengirim aneka gaya Aira yang tersimpan di HP nya, baby girl itu memang bisa meredam rindunya pada Aurel, saat dia belum bertemu kembali dengan peri kecilnya.


‘Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa lucu bangeeeet, ngegemesin, cantiiiiiiiiiiiiik,’ demikian tanggapan batin Aurel saat menerima foto-foto yang Radit kirim.


***


Malam terakhir, malam yang Radit tunggu. Bukan menunggu acara api unggun, tapi menunggu bertemu dengan Aurel, karena gadis kecil itu berjanji memberi jawaban pinangan nya malam ini.


Tanpa sengaja mereka sama-sama pakai kaos turtle neck warna biru donker dengan celana jeans biru serta sneaker putih. Hanya Aurel menambah pasmina bunga-bunga biru serta jaket jeans biru sewarna dengan celananya, sedang Radit menggunakan jacket kulit warna hitam.


Radit memberikan sarung tangan pada Aurel karena Malang memang terkenal dingin dan lagi acara malam ini di lapangan, dia tidak ingin tinker bellnya kedinginan.


“Buat Abang aja, nanti Abang kedinginan,” tampik Aurel saat Radit menyodorkan sarung tangan padanya.


“Abang bawa dua pasang,” jawab Radit memperlihatkan sarung tangan dari saku jaketnya.


Aurel focus pada acara, games dan pengumuman dia ikuti dengan cermat. Namun tidak dengan sosok di sampingnya. Sesekali sosok itu memeluk pundak Aurel, tidak di tampiknya namun juga tidak dia balas.


Jam sebelas malam baru api unggun ditutup, sekalian penutupan Jambore. Secara garis besar semua peserta bisa langsung kembali ke kotanya masing-masing. Namun panitia masih menanggung akomodasi penginapan dan makan hingga makan siang esok hari. Karena banyak peserta yang tidak bisa langsung pulang malam ini. Ada yang dapat tikket kereta atau pesawat besok sore.


=================================================== 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta