
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Ini ayam gepreknya mantul Bu,” Reza yang suka pedas benar-benar puas dengan masakan para perempuan itu.
“Bibik yang ngulek sambalnya, dan mbak Wina yang goreng ayam. Pokoknya keroyokan lah,” jawab Aurel. Dia sendiri megap-megap kepedesan dengan ayam geprek. Maka dia selang seling dengan ikan tuna asam manis.
“Habis makan, sebelum pulang kalian ikut Ardi, petik sayuran buat kalian bawa pulang,” kakek menyuruh para tamunya ke kebun sayur miliknya yang diolah anak-anak panti asuhan.
“Ada pisang tanduk tua tidak Kek?” tanya Reza. Dia ingat bu Tarida sangat suka pisang tanduk.
“Niat saya tadi ingin beli sebelum kita masuk TOL Mas,” Aurel memberitahu Reza.
“Iya, tapi kalau di kebun ada, kan lebih enak,” sahut Reza.
“Kakek sayurnya mau tambah? Atau ikannya?” tanya Aurel.
“Ikan aja Rel. Kakek suka ikan masak asam manis seperti ini,” sahut kakek yang sekarang jarang makan pedas lagi.
“Wah sama dengan kak Rajev. Dia suka ikan goreng tepung dibumbu asam manis seperti ini,” sahut Aurel sambil mengambilkan iakn untuk sang kakek.
“Mbak Wina, ayok libas sambalnya,” goda Murti. Dia susah nyerah. Dia mengambil sayur dan kerupuk sebagai penawar pedas.
“Nampol banget ya sambal ayam gepreknya,” sahut Wina. Dia beneran nambah.
Dan Rajev hanya diam saja. Dia sangat menikmati nasi pulen dengan lauk ayam geprek dan kerupuk kampung yang nikmat rasanya. Dia malah belum makan ikan asam manis kegemarannya dan belum makan sayur capcay kuah.
“Honey, kamu belum makan sayur lho,” Aurel mengingatkan Rajev.
“Nanti. Aku sedang menikmati sensasi pedas dan bawang putih dari sambal ayam ini,” sahut Rajev. Nanti dia bisa makan capcay kuah dan ikan asam manis tanpa nasi.
***
Sementara itu hari Sabtu pagi Galih, adiknya dan adik iparnya mendapat panggilan dari polisi karena tuntutan dari pihak Aurel. Mereka harus datang ke kantor polisi hari Senin pagi.
Galih bingung, siapa yang akan mengurus dan menjaga istrinya yang sekarang bergantung penuh pada orang lain. Istrinya sudah tak mampu turun dari tempat tidur. Makan serta semua aktivitas lainnya termasuk buang kotoran pun bergantung pada orang lain.
Kalau hari Senin dia langsung di tahan, siapa yang akan mengurus istrinya? Sedang saat Yulia masih bebas pun anaknya itu tidak mau mengurusi ibunya, sekarang bila dia mencari orang untuk menjaga dan mengurusi istrinya maka uang dari mana?
Galih sangat menyesal mengapa dia membolehkan Yulia berurusan dengan Radit. Awalnya dia sama sekali tidak tahu bila Yulia hanya menjebak Radit. Dia baru tahu bahwa Yulia menjebak Radit saat secara tidak sengaja mendengar percakapan Yulia dengan Binsar. Dan saat itu dia juga baru tahu kalau anak yang dikandung Yulia bukan anak Radit atau anak Binsar.
Galih pun menyesalkan tindakannya sesumbar di kantor Aurel sehingga membuat dia terseret persoalan seperti sekarang. Padahal awalnya dia ke kantor Aurel hanya ingin meminta keringanan untuk kedua keponakannya.
Ah, mengapa dia bertindak sangat bodoh? Andai dia kemarin tidak sombong mengakui Radit adalah menantunya, tentu tidak akan ada masalah ini. Karena sejak sebelum menikah, almarhum ayah Radit membatasi semuanya, rupanya karena mencegah hal seperti ini.
Keluarga Sebayang tak pernah mengakui Yulia karena mereka tahu hanya dijebak. Jangankan copy surat nikah Radit dan Yulia, melihat bentuk aslinya saja mereka belum pernah. Bukti apa yang bisa dia ajukan besok hari Senin di kantor polisi?
Selain itu Galih pun memikirkan keperkasaan istri Radit, dia melihat sendiri adiknya di banting tanpa ampun. Dan bila bukan ahli bela diri tak akan bisa membanting tubuh lawan dengan dibalik seperti dia lihat kemarin.
Dari pak RT Galih mendapat saran menitipkan istrinya di panti jompo, dengan surat pengantar besok ia akan membawa istrinya kesana.
“Ada apa? Mengapa aku harus tinggal di panti jompo? Kamu mau kemana Pa?” tanya istrinya bingung, ketika dengan berat hati Galih memberitahu hal itu.
“Kita salah menanam, sehingga ini yang sekarang kita panen,” desah Galih pelan.
“Maksud Papa apa?” tanya istrinya bingung.
“Jadi, sebenarnya anak yang Yulia kandung itu bukan anak Radit. Yulia hamil dengan pacarnya yang tidak mau bertanggung jawab. Lalu dia dan Binsar bekerja sama menipu Radit dan menjebaknya dengan foto-foto rekayasa,” cerita Galih membuat istrinya terperangah.
“Jadi anak Yulia bukan anak Radit? Pantas orang sekaya mereka sama sekali tidak mau memberi nafkah, ternyata anak kita yang salah! Aku pernah menduga keluarga Radit adalah orang yang dzalim, ternyata semua ulah Yulia,” keluh istri Galih.
“Yulia pernah minta Radit menyerahkan anak itu, baru disitu Radit memberitahu kalau anak itu sudah dia adopsi secara legal dan dia juga kasih tahu hasil test DNA kalau anak itu bukan benih dia.”
“Tak puas, Binsar dan Yulia bikin skenario dengan Ifa sampai mereka dipenjara. Tapi emang anak kita keblinger. Di penjara bukan sadar malah bikin skenario baru bareng Meylan. Sekarang Meylan dan Ifa juga ketangkap,” cerita terbaru ini istri Galih belum tahu. Karena Galih tak membolehkan siapa pun cerita pada istrinya.
Yang mama Yulia tahu hanya tentang kasus Yulia dan Ifa. Lalu hanya Yulia dan Binsar yang ditahan sedang Ifa bebas. Kalau kasus tentang Ifa dan Meylan ditahan, mama Yulia belum tahu.
“Yulia juga pernah menculik anaknya, tapi dikembalikan lagi. Awalnya dia bertindak karena ingin minta tebusan. Tapi langsung dikembalikan lagi karena Binsar tak ingin rencana yang dia susun gagal,” Galih memberitahu semuanya pada sang istri yang hanya bisa menyesal mengetahui kelakuan putri mereka.
Selanjutnya Galih menceritakan kejadian hari Kamis siang di kantor Aurel. Bagaimana dia dan mama Ifa serta mama Meylan datang ke kantor Aurel dan berkata yang membuat mereka sekarang terlibat kasus. Juga dia ceritakan bagaimana Aurel berhasil membanting adiknya.
Mama Yulia menyesalkan kelancangan mulut suaminya saat berkunjung ke kantor istri Radit kemarin.
Dengan terisak ibu Yulia pasrah ketika suaminya menyiapkan semua pakaian dan kebutuhannya kedalam tas. Seorang tetangga berbaik hati akan mengantar mereka kepanti jompo yang direkomendasikan.
“Ini kesalahan Abang, sehingga istriku juga dapat panggilan dari polisi,’ ayah Latifa marah besar pada kakak iparnya yang menyebabkan istrinya mendapat panggilan esok hari Senin.
“Eh, kamu jangan salahkan aku. Istrimu yang mengajakku untuk mengantarkannya ke kantor istri Radit. Aku ada keperluan apa kesana kalau bukan mengabulkan permintaan tolong istrimu itu?” Galih tentu tak terima disalahkan oleh adik istrinya itu.
“Istrimu pula yang mengajak adikku untuk minta keringanan ke istri Radit, maka mama Meylan pun mau ikut. Istrimu yang punya niat, bukan aku dan adikku,” Galih tentu tak mau terima disalahkan 100%.
***
\========================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : SANTI SUKI, DENGAN JUDUL NOVEL TETANGGAKU, MANTANKU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta