
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Aku sudah janjian di Plaza Senayan, kamu temui aku disana aja,” jawab temanku yang bernama Gulika.
Di Plaza Senayan aku bertemu dengan Gulika, kami berteman saat kami masih SMA, dia juga kenal Aashita dan Anand. Aku diperkenalkan pada sosok manis sepupunya, yang biasa di panggil kak Fadhiya oleh Gulika.
Kak Fadhiya sudah menduga suaminya punya perempuan lain, tapi dia tak punya bukti. Aku bertemu dengan Gulika saat anak buahku di Tirur melaporkan tentang hasil investigasinya mengenai kehidupan Aashita di Jakarta.
Aku pun langsung menghubungi Gulika untuk bisa menangkap basah perselingkuhan suami kak Fadhiya, agar bisa menendang laki-laki yang numpang hidup dari harta kekayaan keluarga kak Fadhiya.
Kuperlihatkan beberapa photo yang dikirim anak buahku lewat email. Aku juga memberi bukti transfer bank yang dilakukan sopir suami kak Fadhiya. Rupanya suami kak Fadhiya pintar, dia tidak pernah satu kali pun transfer kebutuhan hidup istri mudanya dari nomor rekeningnya, melainkan menyuruh sopirnya.
Gulika dan kak Fadhiya akan memanggil sopir suami kak Fadhiya dengan sebelumnya akan mengancam bila sang sopir tidak mau bekerja sama akan dilaporkan ke polisi dengan pasal penggelapan uang. Karena tak mungkin sang sopir bisa transfer sejumlah uang yang nominalnya tiga hingga empat kali gajinya perbulan sebagai driver.
Nanti si sopir harus lapor kapan suami kak Fadhiya bertemu dengan Aashita. Aku segera pamit dan memohon maaf tak bisa menemani mereka lebih lanjut karena harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum lusa berangkat ke Qatar.
Aku masih berupaya menghubungi Aurel, tapi ponselnya masih tetap tidak aktiv. Aku coba menghubungi ponsel bu Tarida. Dia mengatakan Aurel baru saja telepon dan pamit tidak pulang. Dia akan tidur di hotel dengan Bagas. Dia tak mau tidur di rumah ayahnya karena takut aku akan mencarinya kesana. Pada bu Tarida Aurel sudah menyiratkan dia akan mengakhiri hubungan kami.
***
RAJEV END POV
Bagas dan Aurel sedang berbincang di kantin rumah sakit Mekar, tempat bu Tarida bekerja.
“Kenapa Mbak ada disini?” tanya Bagas hati-hati. Dia menduga sang kakak sedang ada masalah karena mengganti nomor ponselnya.
“Tadi habis dari kantor kak Rajev, dan tak sengaja aku melihat dia berpelukan dengan mantannya yang pernah datang ke kantorku. Mbak pengen cerita ke ibu. Namun koq aku aras-arasen ( malas malasan ), jadi aku hanya diam aja di mobil. Aku keluar saat salat Maghrib,” jawab Aurel.
Andai Aurel tadi ke ruangan ibu, pasti akan ketemu Rajev ya, karena Rajev kan juga sedang curhat ke bu Tarida.
“Aku sudah telepon ayah, tapi aku belum telepon ibu,” lanjut Aurel lagi.aurel seperti blank. Tak tahu harus bertindak bagaimana lagi
“Telepon ibu dulu Mbak, biar ibu enggak kepikiran,” saran Bagas. Sejak Aurel menikah dengan Radit memang Bagas seperti memiliki ayah dan ibu baru, karena almarhum ayah kak Radit juga menganggapnya seperti anak sendiri.
“Assalamu’alaykum Bu,” sapa Aurel setelah ibu dipanggilkan oleh bik Siti, karena Aurel telpon ke nomor rumah bukan ke ponselnya.
“Wa’alaykum salam Rel. Kamu dimana Nak?” jawab bu Tarida sabar. Bu Tarida sudah tahu persoalan Rajev dan Aurel, maka dia tak ingin salah bicara.
“Maafin Aurel Bu, Aurel enggak ingin pulang malam ini. Aurel akan menginap di hotel berdua Bagas. Aurel juga enggak mau tidur di rumah Ayah karena enggak ingin ketemu dengan Rajev. Dan untuk seterusnya Aurel juga enggak ingin melanjutkan hubungan kami. Maafkan Aurel Bu. Kalau saja enggak ada Aira dan Darrel, tentu Aurel akan pergi jauh. Saat ini hanya mereka berdua yang bisa membuat Aurel bertahan,” beritahu Aurel. Setelah selintas dia bercerita melihat perselingkuhan Rajev. Bahkan sejak siang Rajev sengaja mematikan ponselnya agar dia tak bisa dihubungi oleh Aurel.
“Enggak ada lagi yang perlu kami bicarakan Bu. Cukup Aurel yang terluka. Jangan sampai anak-anak. Mohon ibu beritahu semua orang di rumah, bila Rajev telepon ingin bicara dengan Aira, jangan diperbolehkan. Kalau permintaan Aurel enggak dituruti, Aurel akan bawa keduanya jauh dari siapa pun,” ancam Aurel dengan tegas. Dia tak ingin lagi Rajev menghubungi putrinya.
“Lusa Rajev akan berangkat ke Qatar, mungkin untuk satu minggu. Semoga dalam satu minggu itu kamu bisa cooling down. Kamu bisa berpikir jernih dan tidak gegabah memutuskan sesuatu,” bu Tarida masih tetap lembut, tapi perempuan ini sudah menangkap Aurel tak ingin melanjutkan hubungan dengan Rajev lagi.
Selanjutnya Aurel pulang ke rumah ayahnya. Dia yakin Rajev tak akan datang kesana karena dia sudah bilang pada ibunya kalau dia akan nginap di hotel.
Aurel segera menyusun strategi, dia tau mulai lusa Rajev akan berada di Qatar, sehingga satu minggu dia akan aman dari Rajev. Sehabis itu dia akan berlibur bertiga dengan Darrel dan Aira tanpa siapa pun tau.
***
Pagi ini Rajev masih belum bisa menghubungi Aurel. Dia sarapan dirumah bu Tarida seperti biasa dan mengantar Aira sekolah. Dia akan berpesan pada putrinya kalau satu minggu ke depan dia tak akan datang sarapan karena harus pergi kerja.
Siapa sangka dia malah diberitahu oleh bu Tarida tak boleh menghubungi Aira dulu karena bila dia tetap menghubungi by phone, Aira akan diungsikan oleh Aurel. Hati Rajev sangat sedih mendapat perlakuan seperti ini dari orang yang sangat dicintainya.
Saat sedang menuju sekolah Aira, ponselnya berdering dengan nama Gulika sebagai id caller nya.
“Hallo Lik,” sapa Rajev, Gulika bukan seorang muslim sehingga Rajev tidak membuka awal percakapan dengan salam.
“Rajev, apa siang ini kau ingin ikut berpesta dengan kami?” tanya Gulika to the poin.
“Dimana dan jam berapa?” Rajev mengerti yang dimaksud Gulika.
“Dia sengaja ambil jam makan siang, maka tak pernah ketahuan. Aku SMS alamatnya. Nanti om nya Aashita dan istrinya pun akan datang, mereka sudah diundang oleh kak Fadhiya.
“Ok Lik, aku akan datang. Sekarang aku putus dulu karena aku sudah sampai sekolah anakku ya,” Rajev pun segera turun dan mengantar Aira sampai ke depan kelasnya seperti biasa.
“Uppa kerja dulu ya sayang, Kakak enggak boleh rewel karena beberapa hari Uppa enggak akan bisa telepon Kakak sepulang Kakak dari sekolah,” pesan Rajev. Dia berharap Aira tidak sakit karena merindukannya. Terpaksa dia tak akan menelepon Aira sesuai permintaan Aurel. Dia tak ingin anak-anak malah dibawa pergi oleh Aurel.
“Yes Uppa, Kakak enggak akan rewel,” janji Aira lalu dia memeluk sosok ayahnya itu.
===========================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta