
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Akhirnya semua selesai dengan baik. Semua tamu sudah pulang. Aurel menitikan air mata bahagia karena pekerjaannya sukses. Dia mempersiapkan semuanya sendirian dari ruang rawat rumah sakit. Bahkan Rajev sama sekali tak tahu.
Awalnya Aurel hanya akan mengadakan selametan tiga tahun meninggalnya ayah Iskandar Sebayang saja. Namun siapa sangka dokter memperbolehkan ibu pulang saat yang bersamaan. Itu sebabnya dia pun menambahkan selametan atas kesembuhan ibu.
Jadi tak aneh bila baju koko dan gamisnya sudah dia pesan sejak tiga minggu lalu saat rencana awal selametan tiga tahun meninggalnya ayah Iskandar.
Makan siang kali ini cukup ramai karena masih ada Mirna dan anak serta mertuanya, juga saudara-saudara ibu Tarida.
“Kek, nanti sehabis makan aku dan mas Reza minta waktu kakek untuk tukar pikiran,” bisik Aurel pada kakek. Kakek menjawab dengan anggukan.
“Opung, nambah soup nya ya?” Aurel menawarkan cream soup yang memang sengaja dia pesan untuk opungnya.
“Cukup Nak, sudah tak mampu lagi perut Opungmu ini menampung makanan,” sahut ayah bu Tarida dengan logat Medan yang khas.
“Mau nambah nasi atau lauknya?” tanya Aurel dengan penuh perhatian pada ibu Tarida.
“Cukup,” jawab ibu dengan senyum. Dia sangat bersyukur memiliki Aurel setelah kehilangan suami dan anak tunggalnya. Bahkan kedua orang tua buTarida juga menilai cucu mantu mereka memang yang terbaik.
Tadi pagi ayah mertuanya sudah memberi tahu niat Aurel mengajaknya pindah rumah setelah anak perempuannya itu menikah dengan Rajev. Dia tak keberatan pindah rumah. Dan soal rumah ini mau dijual atau dikosongkan saja, dia tak mau ambil pusing. Karena surat rumah masih atas nama kakek.
Ya … Aurel bukan lagi menantunya, melainkan anak perempuannya. Dia setuju pindah rumah, dan dia menghargai rasa kasih yang Aurel miliki untuk Radit. Tak pernah satu kali pun Tarida merasa kalau Aurel melupakan Radit. Malah dia yang mendorong agar Aurel kembali menikah lagi.
Dan Aurel mengabsent semua yang ada di meja itu, menawarkan siapa yang ingin tambah makanan.
***
Rajev melihat Aurel dan kakek menuju sudut ruangan yang sudah ada Wina, Murti dan Reza. Mereka pasti akan diskusi soal perusahaan. Konsultasi dengan kakek memang sesuai arahan Aurel.
‘Honey, aku di depan dengan kakek dan mas Reza, kalau kamu mau gabung ke sini aja ya,’ Rajev membaca pesan WA dari Aurel saat dia baru saja mencoba menjauh karena takut tak diinginkan kehadirannya.
'Ok,' balas Rajev singkat. Lelaki ini malah tek mengira kalau Aurel akan membiarkan dia mengetahui semua hal tentang pekerjaannya. Dia pikir Aurel tak ingin dia ikut tahu.
“Gas, tolong kamu perhatikan Aira dan Darrel. Terutama Darrel. Aurel sedang meeting penting disudut sana dan minta Kakak ikut gabung. Jangan sampai anak-anak menghampiri Aurel ya,” Rajev pun pamit pada Bagas ingin ke depan menemui Aurel dan kakek.
“Siap Kak,” jawab Bagas mengerti.
“Sini,” Aurel menarik tangan Rajev dan mengajaknya duduk di kursi sebelahnya. Saat ini Reza sedang melaporkan permasalahan proyek Pondok Cabe pada kakek.
“Sebenarnya, setelah perusahaan di tangan Aurel, Kakek tidak perlu tahu semua persoalan seperti ini. Namun karena ini kembali menyangkut mantan menantu dan istri barunya maka kakek bersedia ikut urun saran. Kakek yakin, tak mungkin Yulia bertindak tanpa arahan Binsar,” kakek memberi pengarahannya sebagai pendiri perusahaan.
“Jadi sekarang kalian langsung ringkus saja dua sepupu Yulia, dan biarkan mereka membusuk di penjara dengan hukuman seberat-beratnya. Kalau dasar tindakan mereka kurang kuat untuk mendapat hukuman berat, kali ini biar kita yang bertindak jahat. Kita bikin agar mereka berbuat yang memberatkan hukumannya.”
Disini jelas sebagai mantan jenderal dia punya politik yang bisa dia mainkan. Seperti saat memimpin peperangan, apa pun jalannya pasti akan dilakukan untuk meraih kemenangan.
“Dan khusus untuk Yulia, akan Kakek yang urus. Sebagai napi dia bisa menjadi dalang, maka kali ini tuntutan yang akan diterimanya akan lebih berat dari Didu. Demikian juga Binsar. Selama mereka belum membusuk, maka perusahaan ini akan terus diganggu oleh ular berbisa itu,” kakek sangat marah mendengar Yulia kembali berulah.
***
“Lho, Ibu enggak makan dengan pak Rajev?” tanya Wina. Dia pikir setelah kemarin melihat pak Rajev dibiarkan mengetahui persoalan kantor di depan kakek, tentu setiap hari pak Rajev akan selalu bersama bu Aurel.
“Dia lagi ke Bontang, baru berangkat tadi pagi. Lagian kalau pun dia di sini juga enggak wajib kan makan siang ama dia?” balas Aurel skeptis. Aurel tak menyangka asistennya berpikir kalau dia dan Rajev akan seperti lem dan perangko. Nempel terus.
“Saya lagi ngidam steak nih, atau rujak cingur juga kayaknya enak. Makan dimana ya?” tanya Aurel minta saran lokasi makan yang enak buat mereka berdua, karena Murti dan Reza hari ini akan eksekusi permasalahan di Pondok Cabe.
Saat sedang perjalanan menuju waroeng steak terdekat dari perusahaan, ponsel Aurel berbunyi. Aurel langsung mengangkat sambungan telepon dengan nada dering special itu. “Yes Honey,” sapa Aurel.
“Assalamu’alaykum,” lanjut Aurel sambil menyetir. Padahal peraturannya tidak boleh melakukan pembicaraan dengan telepon saat mengendarai mobil.
“Wa’alaykum salam, kamu sudah makan?” tanya Rajev penuh kelembutan.
“Ini aku dan mbak Wina sedang menuju ke tempat makan, kamu sendiri gimana?” tanya Aurel sambil memarkirkan mobilnya. Dia mengambil dompetnya dan keluar dari mobil tak lupa menguncinya dan menuju meja yang sudah ada mbak Wina di sana.
“Aku sirloin aja Mbak,” bisik Aurel agar Wina menuliskan pesanannya.
“Love kamu dengar lagu ini, aku tadi dengar sepenggal dan aku suka lagunya,” Rajev meminta Aurel mendengarkan rekaman yang baru dia dapat.
Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya
Menahan rasa ingin jumpa
Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang
Melepas semua kerinduan yang terpendam
Lagu kangen dari Dewa 19.
“Trus maksudmu siapa yang lagi kangen?” goda Aurel, padahal dia pun merasa ada yang hilang sejak keberangkatan Rajev tadi pagi.
Dulu mereka lama berpisah. Jarak Qatar ~ Jogja, alu jarak Qatar ~ Jakarta, saat sebelum mereka memantapkan hati dengan menetapkan tanggal pernikahan, rindu yang hadir tak seperti ini.
Setelah menetapkan tanggal permikahan, rindu yang hadir sekarang teramat berat mereka rasakan. Padahal jarak yang terbentang hanya Jakarta ~ Bontang saja.
\================================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL CINTA KECILNYA MAZ YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta