
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Sehabis makan Aurel berkenalan dengan kedua keponakan Rajev, mereka sangat menggemaskan dan membuat Aurel rindu pada kedua buah hatinya. Sebagai seorang ibu, wajar dia merasakan hal itu.
Aurel datang ke Tirur hari Jumat sore, sengaja agar hari Sabtu dan hari Minggu bisa bersama uppa dan umma, hari Senin pagi mereka akan kembali ke Jakarta. Saat kedua keponakannya hendak tidur maka Rajev sengaja membawa Aurel kembali ke kamarnya. Rajev membuka pintu balkon kamar Aurel. Dari Balkon Aurel bisa melihat keindahan area mansion Kumar saat malam hari.
“Ini sangat indah.” puji Aurel jujur. Dia kagum melihat pemandangan dari balkon lantai dua itu.
“Namun lebih indah dirimu,” rayu Rajev. Yang sekarang sudah menjadi tukang ngegombal kata Aurel.
“Hah, kamu tu mulai pandai ngegombal,” kilah Aurel.
Rajev memeluk Aurel dari belakang, dia meletakkan dagunya dipundak Aurel dan kedua tangannya mendekap tangan Aurel diperut Aurel. “Aku sejak kecil sering berdiri disini, aku tahu indahnya, dan jujur malam ini keindahannya berbeda karena kehadiranmu.”
“Kak, kamu jangan merayu seperti itu,” tolak Aurel.
“Aku enggak merayu, karena itu kenyataannya my love,” jawab Rajev lalu dia diam sambil tetap memeluk Aurel. Akhirnya Aurel kaget ketika merasakan ada benda yang memasuki jemarinya
“Kak,” tanya Aurel sambil melihat jemarinya.
“I love you so much my future wife,” bisik Rajev sambil terus memasukan cincin perak yang dia beli di kota gede saat mereka di Jogja. Dia membeli saat Aurel tertidur siang sehabis mereka belanja di pasar Beringharjo.
Aurel terpana dengan sikap romantis Rajev yang enggak mainstream seperti novel-novel yang melukiskan si lelaki berlutut dan memintanya untuk menerima cincin di kotak. Rajev malah diam-diam langsung memakaikan cincin dengan posisi mereka tidak berhadapan. Posisi Rajev malah di belakang Aurel, dia memeluk Aurel dari belakang.
“Uppa tadi sudah menyatakan bersedia melamarmu, maka aku berani memakaikan cincin itu ke jarimu,” jelas Rajev.
“Makasih Kak, tapi jujur aku kecewa padamu,” protes Aurel.
Rajev melepas pelukannya dan membalikan tubuh Aurel. “Kamu kecewa kenapa. Aku salah apa?” tanya Rajev ketakutan.
“Kamu enggak jujur padaku dan aku enggak suka” jawab Aurel sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya
“Apa yang aku sembunyikan darimu?” keluh Rajev
“Kamu enggak bilang kamu anak sultan, aku enggak suka. Andai aku tau siapa dirimu, aku tak mau jatuh cinta padamu” keluh Aurel.
“Jadi kamu mengakui kalau kamu jatuh cinta padaku kan?” goda Rajev. Pria ini malah menangkap hal lain dari omongan perempuan idaman di depannya ini.
“Ihhhhhhh, Kakak koq malah focus pada kata itu bukan pada protesku?” rajuk Aurel yang dibalas pelukan hangat dari Rajev
“Karena buatku harta ini bukan sesuatu yang harus aku banggakan. Ini milik uppa, hasil kerja keras uppa, bukan jerih payahku. Itu sebabnya aku tak mau memimpin perusahaan, aku lebih memilih kerja dan hidup dari uang yang aku hasilkan sendiri” jelas Rajev.
“Jadi … uppa punya perusahaan?” tanya Aurel bingung.
“Iya, sejak aku lulus SMA uppa sudah memerintahku untuk memimpinnya dengan pendampingan darinya. Tapi aku mengelak dengan alasan ingin fokus kuliah dulu hingga selesai S2. tapi selesai S1 aku diterima di Qatar, dan kuliah S2 aku ambil disana,” sahut Rajev.
Aurel bangga akan sikap Rajev yang lebih memilih berdiri diatas kakinya sendiri dan Rajev pun bersyukur wanita pilihannya bukan pengejar harta
“Ini cincin kapan Kakak siapin?” tanya Aurel yang sedang dalam dekapan Rajev
“Aku beli ketika kamu tidur saat kita di Jogja” jawab Rajev sambil menyerahkan sebuah cincin dengan ukuran jarinya
Aurel mengerti apa maksud Rajev, dia pun memasangkan cincin itu di jari manis tangan kiri Rajev.
“Tidur yok, sana Kakak keluar” usir Aurel. Kamar mereka bersebrangan
“Tidurlah, aku akan menemanimu di sini” balas Rajev santai, dia menarik Aurel ke arah kasur “Istirahatlah.”
Aurel membaringkan tubuhnya dan menunggu Rajev keluar kamarnya, tapi Rajev malah ikut naik ke kasur dan duduk bersandar di kepala kasur. “Mengapa Kakak malah ikut naik ke kasurku?” protes Aurel.
Aurel tidak ingin ribut, dia pun mendekat ke Rajev dan menyandarkan kepalanya di dada Rajev. Rajev mengusap-usap puncak kepala Aurel.
“Kak, kira-kira kapan umma dan uppa akan ke Jakarta?” tanya Aurel.
“Kenapa, kamu mau segera ya?” goda Rajev penuh percaya diri.
“Apa hanya aku aja yang ingin segera, Kakak enggak ingin cepat-cepat?” Aurel malah balas menggoda.
“Ha ha haaaa, tentu aku ingin segera. Kalau bisa besok sekalian kita pulang, umma dan uppa berangkat bareng” jawab Rajev yang dibalas cubitan Aurel.
“Sakit sayangku,” protes Rajev.
“Bagaimana bila bulan depan? Sekalian ulang tahun Darrel yang kedua” tanya Aurel
“Ok, kamu tentukan aja” jawab Rajev.
“Ralat kata-katamu, bukan aku yang nentukan, tapi KITA!” Aurel tidak mau dibilang dia mendoktrin, dia mau semua masalah dibahas bersama.
“Iya iyaaaaa, aku minta maaf” Rajev menyadari kekeliruannya
“Tahun ini ulang tahun Darrel jatuh hari Jum’at. Jadi malam kita bikin acara lamarannya. Lalu Sabtu pagi baru bikin acara makan bersama ulang tahun Darrel. Gimana?” tanya Aurel
“Aku inginnya Jum’at malam kita lamaran, lalu Sabtu pagi kita pergi berempat aja. Makanan dan bingkisan ulang tahun Darrel biar diantar oleh orang rumah aja” saran Rajev.
“Ok, gitu juga boleh” jawab Aurel, menyetujui usulan Rajev.
“Jadi besok pagi aku bisa kasih tau umma dan uppa rencana kita ini?” tanya Rajev
“Iya Kak, dan sesampai kita di Jakarta kita langsung lapor ibu dan ayah ya?” Aurel mengingatkan Rajev.
“Ok” balas Rajev. Dia menggeser badannya sehingga sekarang sejajar dengan Aurel “Selamat tidur my Love” dikecupnya kening Aurel setelah sebelumnya ******* bibir kekasihnya terlebih dahulu.
Aurel mengencangkan pelukannya lalu menyembunyikan wajahnya kedada kekasihnya. Mereka terlelap hingga waktu akan subuh. “Kak, bangun, sudah hampir subuh” Aurel mengguncang lembut lengan Rajev yang masih memeluknya dengan erat.
“Sepertinya baru aja tidur, koq udah subuh aja sih?” protes Rajev.
“Kalau Kakak enggak mau turun, aku akan keluar sendiri, lepas pelukanmu” Aurel meronta dari pelukan Rajev yang sengaja semakin dikencangkan oleh kekasihnya.
“Ayolah Kak, jangan ganggu aku pagi-pagi,” protes Aurel dengan rasa tak enak.
Rajev mencuri ciuman dibibir Aurel baru dia lepas pelukannya “Aku ganti baju dikamarku ya,” dia pun langsung turun dan keluar kamar Aurel.
Saat Aurel keluar kamar, dia melihat Rajev sudah menunggunya didepan pintu kamarnya. Mereka jalan bersama ke lantai 4. Pagi ini yang menjadi imam adalah kak Vijay.
\====================================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL WANT TO MARRY YOU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta