BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
PERNYATAAN CINTA PERTAMA DARINYA



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Kamu curang, ngobrol dengan um’ma bisa lama, sedang kalau bicara denganku malas,” aku pun membalas protesnya dengan protes balik.


“He he he. Kamu kapan pulang dari India? Langsung ke Jakarta atau kembali ke Qatar lebih dulu?” tanya pujaan hatiku. Aku sangat bahagia dia mulai bisa tertawa bicara denganku. Dia kembali seperti Aurel yang dulu aku kenal sebelum dia menikah dengan Radit.


“Lusa aku kembali ke Qatar, menyerahkan surat-suratku. Mungkin seminggu sesudahnya aku akan ke Indonesia, tapi kantor belum memberi lampu hijau aku berkantor di Jakarta. Kantor pusat memintaku stay di Bontang atau Cilacap,” jelasku.


Andai bisa tentu aku maunya langsung ke Jakarta. Namun kan aku harus mengurus barang-barangku di Qatar. Aku harus menjual mobilku. Dan mengoper kontrak rumah yang aku tinggali selama ini karena jangka sewa rumahku masih 17 bulan lagi. Tentu uang itu berguna untuk biaya cargo pemindahan barang-barangku.


“Kak, apa enggak sebaiknya Kakak resign saja bila ditempatkan di Bontang atau di Cilacap?” tanyanya, membuat aku tergagap.


Sebenarnya tanpa ribet pun aku bisa saja langsung resign. Lalu aku tinggal bikin perusahaan cabang milik keluargaku di Jakarta. Tapi kan aku tidak mau seperti itu. Aku belum merasa siap untuk duduk memimpin perusahaan milik uppa yang sekarang di pegang kak Amishaa.


“Hey, jangan kuatir seperti itu love, aku akan berupaya untuk bisa stay di Jakarta. Bagaimana pekerjaanmu hari ini. Apa pertemuanmu dengan kawan lamamu berhasil dengan baik?” aku mencoba bertanya kegiatannya hari ini.aku ingin perhatiannya pada urusanku terpecah.


“Alhamdulillah pertemuan pertama tadi berhasil baik. Kalau tak ada perubahan lusa kami menandatangani MOU untuk kerja sama Kak,” jawabnya.


“Apa Aira dan Darrel tidak rewel? Aku merindukan mereka,” aku menanyakan kedua buah hati Aurel yang sudah sangat kurindu. Aku memang sangat menyukai anak kecil.


“Mereka sehat dan baik. Aira tadi jatuh dan lututnya tergores membuatnya menangis. Dan yang membuat kami sedih dia menangis memanggil papap nya. Sudah hampir satu tahun Radit meninggal dan baru sore tadi dia terisak mencari Radit,” keluh Aurel.


“Bisa aku minta sesuatu padamu?” aku sangat sedih mendengar bidadari kecilku sedih dan merindukan papapnya yang telah tiada. Andai dekat aku ingin memeluknya.


“Apa?” tanya Aurel. Aku merasa dia ragu menjawab pertanyaanku.


“Jawab dulu, aku boleh make request enggak?” desakku.


“Aku coba perbolehkan bila aku sanggup,” akhirnya dia membalas dengan ragu.


“Bila dia mencari papapnya, mohon hubungi aku, aku akan membujuknya seperti yang biasa Radit lakukan untuknya,” balasku. Tak aku sangka aku langsung mendengar dia terisak.


“Honey … love, stop jangan menangis. Aku jauh darimu, tak bisa memelukmu. Please sayang berhenti menangis ya cintaku,” aku bingung mendengar tangisnya. Aku ingin mendekapnya namun apa daya jarak kami ribuan kilometer.


Lama kudengar Aurel terisak, aku biarkan taanpa menyela. Aku ingin dia melepas semua beban dihatinya. Akhirnya kudengar dia bicara lagi. “Aku tidur ya Kak. Selamat malam,” lalu dia langsung memutus hubungan teleponnya.


Aku tidak tau alasan menangisnya, apa kelakuan Aira membuatnya teringat Radit atau karena hal lain. Aku pikir dia ingin mendinginkan pikirannya, maka kubiarkan saja. Aku langsung mengirimi pesan di BBMnya. ‘Selamat malam my sweet heart, mimpi indah ya. I love you so much.’


***


Jam satu malam waktu India ketika kudengar ada nada panggil dengan ring tone khusus Aurel. Ada apa tengah malam seperti ini dia menghubungiku? Rasa cemas membuatku langsung menerima panggilan telepon darinya.


“Yes love” sapaku, kudengar tangis Aira menjadi background suara Aurel.


“Aira menangis, kembali mencari papapnya,” keluh Aurel.


“Cantiknya Mama, ini Om Rajev ingin bicara, kamu diam ya,” ku dengar Aurel berkata lembut pada Aira namun gadis kecil itu tetap saja menangis.


“Assalamu’alaykum cantiknya Uppa, kenapa menangis sayangku? Anak pintar tidak cengeng ya. Aira anak pinter kan?” Aku sebisa mungkin menggunakan bahasa Indonesia. Walau baru sedikit kosa kata yang aku kuasai. Semoga dia mengerti kata-kataku.


“Sekarang dengarkan Uppa ya. Aira bobok lagi. Nanti kalau Uppa sudah selesai kerja Uppa akan datang ke rumah Aira, kita main bareng ya?” aku tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi sudah tak kudenar tangis dari bibirnya.


Sejak tadi kusebut diriku UPPA, aku ingin anak-anakku nanti termasuk Aira dan Darrel memanggilku uppa.


“Sekarang Aira bobo lagi ya, sudah bobo? Matanya merem ya, Uppa nyanyi dari sini buat temani Aira bobo,” aku langsung bershalawat lirih menemani hingga kudengar napasnya mulai teratur. Kuharap gadis kecilku bisa tertidur dengan pulas.


“Kak, makasih. Aira sudah bobo,” kudengar suara Aurel membalas teleponku.


“Owh baguslah. Sekarang kamu kembali tidur ya,” pintaku. Aku tak ingin dia kurang tidur dan membuatnya sakit.


“Ya Kak,” balasnya patuh, tapi tumben dia tidak langsung menutup sambungan telepon kami.


“I love you sweet heart,” ucapku pelan, aku tidak berharap dia membalas. Karena sejak dulu ungkapan cintaku tidak pernah dia balas. Baik ungkapan cinta lewat chat mau pun ungkapan cintaku secara lisan. Buatku, yang terpenting dia tahu perasaanku.


“Love you too Kak,” balasnya lirih. Namun aku jelas mendengar suaranya. Aku tentu saja terkejut. Ini pernyataan cinta pertama darinya. Aku akan mengingatnya sebagai tanggal bersejarah kami. Lebih dari lima tahun sejak perkenalan kami. Dan dari dulu aku sudah berulang kali mengucapkan cinta. Baru kali ini dia membalasnya.


Walau malas menutup pembicaraan tapi aku kasihan bila terus memaksanya ngobrol karena besok dia harus kerja.


“Kamu bobo deh, besok kesiangan lho,” pintaku padanya. Tak pernah aku lebih dulu memutus telepon. Aku sangat ingin mendengar suaranya.


“Besok kan Sabtu, aku enggak kerja, tapi kalau Kakak mau mutus telepon ya tutup aja,” jawabnya santai. Astagaaaaaaaaaaaa aku malah lupa kalau besok Sabtu. Tentu saja aku tak ingin memutus pembicaraan dengannya.


“Jadi enggak apa-apa kalau kita terus ngobrol?” tanyaku senang. Ini kesempatan langka. Bahkan dulu kami jarang ngobrol by phone saat dia kuliah di Jogja. Dia hanya akrab bila bertemu langsung. Bahkan chat pun dia jarang lama. Awal kedekatan kami memang kami LDR Qatar ~ Jogja sejak dia ambil kuliah S2 nya di Universitas Gajah Mada.


Aku mengenalnya saat dia sedang menyusun skripsi untuk sarjana S1. aku tak tahu kalau garis takdirnya membawanya kembali bertemu Radit karena dia ditugaskan menjadi peserta jambore dari UGM.


“Kalau kita ngantuk dan tertidur saat ngobrol ya enggak apa-apa kan? Atau kalau pulsaku habis,” jawabnya santai. Aku senang mendengar suaranya yang tanpa beban.


 ====================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL WANT TO MARRY YOU  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta