BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
SARAN WINA UNTUK ORDER RAHASIA



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Wina, jangan tinggalin Aurel sendirian dalam waktu lama ya. Saya minta sebentar-sebentar kamu cek keadaannya,” Rajev berpesan pada Wina pagi ini saat dia akan menuju gedung kantornya.


“Siap Boss,” sahut Wina. Memang Wina sudah diberitahu kalau ada kemungkinan Aurel akan melahirkan di luar waktu perkiraannya.


Rajev memang tak berani jauh dari Aurel. Tapi dia juga tak mungkin selalu disisi istrinya akrena masing-masing punya kewajiban kerja.


“Ake berangkat kerja ya Love. Nanti makan siang aku kesini,” Rajev mengecup puncak kepala Aurel. Dia lalu pergi ke gedung kantornya.


“Win, kamu sudah lihat design dari arsitek yang saya minta buat gambar order pribadiku belum?” tanya Aurel.


“Kemarin masih dalam amplop coklat besar Bu. Katanya kalau sudah di ACC akan dia buat dalam denah yang asli,” jawab Wina.


“Ini Win, kalau menurutmu gimana?” Aurel memperlihatkan gambar yang ada dimejanya.


“Ih keren banget Bu. Ini kontur tanah emang beda ketinggian jadi ada sedikit perbedaan  tinggi di beberapa ruangan?” tanya Wina.


“Iya,” sahut Aurel.


“Ini seperti gambaran rumah idaman saya Bu,” Wina memperhatikan gambar itu dengan lekat.


“Kalau ini beneran rumah idamanmu. Kira-kira ada yang mau kamu ubah enggak? Aku lagi blank nih mau mikir gimana,” pancing Aurel.


“Ini Bu, ruang cuci dan setrika nya. Kalau ini ,milik saya, ruang cuci baju akan saya geser sedikit, jadi mepet dengan tempat cuci piring. Nah ruang setrika pindah kesini. Nanti siapa pun yang nyetrika akan senang karena dapat angin langsung dari taman belakang ini. Kalau yang lain sih udah perfect banget,” sahut Wina.


“Soal kamar pembantu ini, kan terpisah dibelakang rumah utama, itu gimana Win?” tanya Aurel.


“Pakai intercom ke dapur dan kamar pembantu Bu. Baik dari ruang tengah mau pun dari kamar pemiliki rumah dan anak-anaknya. Jadi enggak perlu teriak,” sahut Wina.


“Saya kayaknya sepemikiran ama idemu menukar posisi ruang cuci baju deh,” Aurel membuat coretan dengan pencil untuk dia berikan pada arsiteknya.


“Nanti kalau mas Aris atau orang suruhannya datang kamu kasihkan coretan saya ini ya,” Aurel memberitahu Wina soal perubahan letak ruang cuci di rumah pesanan Dennis untuk Wina.


“Kamu kemarin sudah nengok anak mbak Lusi?” tanya Aurel.


“Sudah Bu. Pulang kerja kemarin kesana. Lucu ya Bu, laki-laki tapi bulu matanya panjang dan lentik banget. Kakaknya yang perempuan malah enggak gitu,” sahut Wina.


“Kemarin saya enggak lihat. Saya datang pas baby belum ditaruh di ruang ibunya,” sahut Aurel.


“Saya datang dia baru selesai minum ASI. Kata mbak Lusi minumnya rakus,” Wina paling antusias bila bicara tentang anak-anak.


“Jarak mereka dekat ya. Hanya dua tahun kan? Wah mbak Lusi pasti sibuk banget tuh,” Aurel membayangkan repotnya Lusi dengan dua anak batita.


***


“Koq ngejemput sih?” tanya Wina. Perempuan ini memang tak mau tiap hari antar jemput oelh Dennis. Dia ingin tetap bebas seperti sebelum mereka pacaran.


“Ibu minta ditemani makan malam, Abang kira Ibu sudah telepon kamu Yank,” Dennis memang baru saja menerima telepon dari ibunya sebelum dia menjalankan mobilnya keluar kantor.


“Enggak tuh, enggak ada pesan mau pun telepon,” sahut Wina sambil mengecek ponselnya. Takut dia lalai membaca pesan calon ibu mertuanya.


“Bang, tadi bu Aurel ngeliatin bagan denah rumah tnggal, order pribadi. Kosepnya tu miriiiiiiiiip banget sama yang aku pengen,” Wina bercerita tentang kegiatannya tadi.


“Kamu bukannya bikin foto biar Abang tahu seperti apa,” pancing Dennis.


“Enggak boleh Bang. Itu menyalahi aturan. Aku enggak pengen ada masalah hukum dengan bu Aurel apalagi dengan kakek Sebayang,” jawab Wina.


“Ibu minta pendapatku aja, mungkin dia lagi malas mikir,” sahut Wina.


“Kamu kasih saran apa Yank?” Dennis penasaran.


“Aku cuma pindahin letak ruang cuci baju aja. Eh ternyata ibu setuju ama saranku,” sahut Wina. Mereka turun ke supermarket karena Wina ingin membeli bahan-bahan untuk membuat salad buah.


Wina sengaja akan membuat salad buah di rumah ibunya Dennis. Karena pulang kantor dan tanpa persiapan. Tapi datang tanpa bawa apa-apa juga tak enak,


“Niat Ibu makan malam bertiga tu pengen tahu kapan kalian berniat menikah?” tanya ibunya Dennis to the poin. Tadi saat Wina datang lalu langsung membuat salad sang ibu hanya bicara santai saja.


“Bu, kan Abang sudah bilang kalau kami sedang cari waktu yang pas,” Dennis tak ingin Wina merasa ditekan.


“Wina sudah siap memutuskan kapan kami menikah koq Bu, kalau Abang kasih kepastian Wina tetap boleh bekerja setelah menikah,” sahut Wina tanpa ragu.


Dennis masih tak ingin cepat karena maharnya belum siap. Wong bagan rumahnya saja belum fix. Apalagi mau dibangun. Minimal butuh waktu empat bulan untuk menjadikan rumahnya karena mengurus izin mendirikan bangunan juga bukan sim salabim walau kantor Aurel yang mengejakannya.


“Nah itu jelas kan Bang? Kamu aja yang sengaja nunda-nunda,” Dennis didesak sang ibu.


“Oke, kamu boleh tetap bekerja. Tapi bila sudah ada baby, harap kamu pikirkan. Aku enggak akan nyuruh berhenti. Tapi setidaknya kamu bisa bekerja paruh waktu agar kamu tetap bisa membuka wawasan tapi tak melalaikan tugas utamamu,” sahut Dennis.


“Bagaimana Win?” tanya sang ibu sambil senyum.


“Insya Allah siap Bu. Sekarang tinggal Abang aja atur waktunya.


“Sampai tiga bulan kedepan ini Abang enggak bisa. Jadi di bulan ke empat ya Yank. Minggu pertama bulan ke empat dari sekarang,” Dennis melihat kalender. Setidaknya tiga bulan bangunan rumahnya sudah 70% jadi. Sudah pantas dibuat mahar. Tinggal tunggu finishing mereka bisa tempati. Biar sambil nunggu rumah jadi mereka menetap dirumah ibu.


“Manut,” sahut Wina.


***


Satu minggu sudah kelahiran anak Reza. Besok Reza mulai masuk kantor karena dia memang mengambil cuti dua minggu. Murti dan Yon masih cuti dan akan masuk satu meinngu lagi.


Hari ini Reza akan mengadakan aqeqah bagi jagoan kecilnya. Aurel dan Rajev sedang bersiap. Kakek Sebayang dan bu Tarida sudah berangkat sejak tadi pagi karena buat mereka Reza adalah anak mereka juga. Kedekatan Reza dan Radit sejak bujangan tentu sangat berarti bagi keduanya.


“Bharthave sepertinya aku tak bisa pergi ke rumah Reza,” Aurel memegang punggungnya yang terasa sangat sakit.


“Apa yang kamu rasakan  Bharrya? Ada yang sakit?” Rajev mendekati istrinya.


“Perutku kejang dan punggungku sangat sakit,” jawab Aurel lirih.


“Oke, kita berangkat ke rumah sakit sekarang ya. Bila sudah ada keterangan dari dokter baru kita khabari semuanya. Sekarang kita berdua saja yang tahu ya?” Rajev berupaya tenang.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL  KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta