
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
tiap kalai Yanktoe suka minta setangkai mawar baik sebelum atau sesudah bab yang yanktie update.
Terima kasih, untuk beberapa nama pembaca setia yang rajin kasih lie dan hadia setangkai bunga seperti foto dibawah ini yaaa
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
Tapi jangan lupa, Yanktie juga menunggu secangkir kopi sebagai pemacu semangat seperti foto dibawah ini
SELAMAT MEMBACA EPISODE HARI INI
Bukan tidak mampu beli jajan di luar sana. Namun Aurel malas bila harus bolak balik menyuruh pegawainya beli jajanan bagi dirinya. Dan lagi bila harus beli diluar berarti dia harus menunggu pegawainya beli dulu.
“Hati-hati. Dan ingat lusa jadwal kontrolmu. Ibu berangkat ya. Assalamu’alaykum,” bu Tarida pun meninggalkan rumah.
***
Yulia sejak sejam lalu sudah standby di sudut jalan dekat rumah Radit, untuk memantau kegiatan Radit. Dia yakin Radit pasti akan keluar rumah entah untuk kontrol dokter atau apa pun. Dia akan menemui Radit diluar, karena tidak bisa bicara di dalam rumahnya.
“Mam, Papap akan berangkat ke kantor bersamamu,” suara Radit menghentikan kegiatan Aurel menyiapkan bekalnya. Setengah tak percaya, dia memalingkan wajahnya ke wajah Radit. Dia berikan senyum manis untuk suami tercinta.
“Serius Pap?” tanya Aurel meyakinkan dirinya apakah salah dengar perkataan Radit.
Radit menjawabnya dengan anggukan dan senyuman, tanpa kata.
“Baik, Mama akan siapkan juice serta bekal Papap juga obat siangnya ya,” Aurel menjadi bersemangat mempersiapkan tambahan bekalnya. Dia juga segera berlari ke kamarnya untuk mempersiapkan baju kerja Radit.
Sejak Radit pulang dari rumah sakit mereka menempati kamar di bawah, sebelah kamar Aira. Semua Aurel lakukan agar memudahkan Radit bergerak. Akan sulit bila masih dikamar atas sedang kaki Radit masih belum bisa digunakan dengan semestinya.
***
Karena berangkat bersama Radit maka Aurel menggunakan mobil ayah mertuanya beserta sopir untuk membantu menaik dan turunkan kursi roda serta mendorongnya karena Radit tidak ingin Aurel membantunya. Akan sulit bila dia menggunakan mobil pribadinya. Sedang mobil Radit sudah jadi bangkai dikantor polisi.
Yulia mengikuti mobil yang membawa Radit, dia mengendarai motor yang memang di belikan oleh suaminya. Dilihatnya Radit dibantu sopirnya turun dari mobil dan duduk di kursi rodanya sementara Aurel seakan tidak perduli.
Yulia melihat Aurel tak membantu Radit sama sekali. Seakan tak peduli.
‘Apa sih istimewanya perempuan sombong itu, bahkan suaminya turun dari mobil saja dia tak perduli sama sekali,’ demikian pikiran jelek Yulia. Dia tak tahu kalau Aurel tak diperbolehkan Radit membantunya karena takut melukai anak mereka dikandungan Aurel.
Aurel berjalan disebelah kursi roda Radit yang didorong oleh sekretaris Radit. Sepanjang jalan Radit membalas sapaan para pegawainya. Dia memang pemimpin yang humble, tidak seperti para CEO dinovel yang tak mau senyum dan menyapa para pegawainya. Saat Radit dan Aurel memasuki lift, Yulia langsung ikut masuk tanpa bisa dicegah.
“Kamu mau apa?” tanya Radit. Sementara Aurel langsung mengusap bahu kanan suaminya seakan memberi spirit dan mencegahnya untuk marah.
“Saya ingin bicara berdua penting,” jawab Yulia sombong.
“Reza, kita bicara setelah kamu saya panggil ke ruangan saya, bareng dengan Wina ( sekretaris Aurel ) juga ya,” perintah Radit pada sekretarisnya yang mendorongnya ke ruangannya.
“Kalau mau bicara dengan saya, apa pun urusannya harus dengan istri saya. Kalau kamu enggak mau silakan kamu kembali ke lift dan jangan pernah datang lagi!” Radit berpindah dari kursi roda ke sofa, tapi sebelumnya dia memencet bel untuk memanggil office boy.
“Kamu panggilkan perwakilan satpam dan recepsionis untuk segera datang kesini. Lalu buatkan teh saya seperti biasa.” Radit memberi perintah pada sang office boy kepercayaannya.
“Baik Pak,” mas Pandi segera berbalik badan dan menunaikan tugas yang diberikan oleh boss nya.
Aurel meletakkan tasnya dikursi pimpinan. Selain itu dia meletakkan bekal yang dibawanya dari rumah di meja depan Radit. Sesudah itu dia baru duduk disebelah Radit.
Radit belum mempersilakan Yulia duduk, karena dia sudah memberi pilihan bila Yulia ingin bicara ya harus didepan Aurel atau tidak sama sekali.
Tok tok tok
“Masuk!” perintah Aurel. Sekarang kantor memang dibawah kendalinya. Belum dikembalikan pada Radit.
Seorang satpam dan mbak Suzy seorang recepsionis yang hari ini bertugas masuk dan menunduk tak jauh dari pintu masuk.
“Pak Wiryo dan mbak Suzy apa khabar?” tanya Radit ramah. Dia memang selalu seperti itu. Dan keramahaannya tidak membuat para pegawainya berani kurang ajar padanya.
“Baik Pak,” balas kedua pegawai itu lirih sambil tetap menunduk.
Radit memang sangat di segani oleh para pegawainya. Terlebih di sisinya saat ini ada bu Aurel yang ramah, manis tapi lebih tegas dari pak Radit.
“Pak Wiryo dan mbak Suzy tolong lihat perempuan itu. Untuk kedepannya, bila dia terlihat memasuki area kantor saya, baik dari pagar mau pun sudah sampai lobby harap segera di geret keluar. Dan beritahu pada semua rekan sejawat anda tanpa terkecuali!” perintah tegas Radit sambil menunjuk pada Yulia.
Yulia dan Aurel kaget dengan pikiran yang berbeda tentunya.
Aurel senang Radir memberi pagar yang sangat jelas bahwa Yulia dilarang ada dalam lingkup ruang kerjanya. Sedang Yulia geram karena Radit sudah sanagt menghina harga dirinya.
“Kalau sampai kalian lengah dan dia bisa masuk kantor kita lagi, saya akan beri sangsi pada anda semua. Ngerti?” ultimatum Radit sangat keras.
“Sekarang kalian boleh kembali ke pos masing-masing untuk memberitahu rekan-rekan kalian dan memperhatikannya saat dia keluar dari kantor kita untuk bisa mengamati wajahnya agar besok-besok ga kecolongan dia masuk kembali.” Selesai sudah Radit memberi perintah. Taka da lagi yang bisa membantahnya.
Pak Wiryo dan mbak Suzy keluar darib ruangan Radit, dan sebelumnya mereka mengamati Yulia dengan cermat. Mereka tak mau mendapat sangsi dari Radit.
“Silakan, kamu mau bicara atau segera keluar karena waktu saya terbatas,” Radit bicara ketus pada Yulia.
Tok tok tok
“Masuk,” jawab Aurel.
“Maaf Bu, mau antar teh Bapak dan Ibu,” mas Pandi meletakan dua cangkir teh di meja kerja Aurel. Tak ada tambahan teh untuk Yulia sebagai tamu.
“Makasih ya mas Pandi,” Aurel menyampaikan terima kasih pada office boynya itu.
Akhirnya Yulia duduk didepan Radit. “Saya mau menebus hak asuh anak saya,” tanpa basa basi Yulia menyampaikan niat kedatangannya.
“Saya tau itu memang anakmu, bukan anakku. Tapi sayang kamu enggak bisa menebusnya karena kamu sudah menerima uang pengganti pengasuhannya,” jawab Radit santai sambil menggengam jemari Aurel.
“Saya akan mengganti biaya yang ayahmu berikan,” dengan sombong Yulia mengatakan akan mengganti uang yang sudah dia terima dari pak Iskandar karena Binsar suaminya sudah menyiapkan dana itu.
“Baik, kamu bisa ketemu dengan pengacara saya untuk membahas serah terima hak asuh anakmu,” Radit sengaja memberi jeda kalimatnya.
Dirasakannya Aurel menarik tangannya dari genggamannya namun Radit mempererat genggamannya lalu dia menengok pada Aurel dan memberikannya senyuman. Seakan berkata ‘Percayalah pada Abang’!