
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Kamu harus screening semua pegawaimu terutama yang di bagian vital seperti HRD dan keuangan, karena sekarang kita enggak tahu mana teman mana lawan,” kakek memberi gambaran setelah Aurel menceritakan sepak terjang Binsar menyusup hingga Wisnu wakil manager HRD saja bisa kecolongan. Juga Didu yang super sholeh malah jadi selingkuh karena disusupi perempuan oleh Yulia dan Binsar.
Dan terakhir adalah Eko yang kena jebak oleh Ifa, istrinya Didu tapi hamil oleh Eko.
“Besok aku bicarakan dengan Reza dan Wina deh Kek. Enggak nyangka aja seperti ini” Aurel akan mengadakan meeting dengan teamnya bagaimana membuktikan karyawannya masih bersih atau sudah terkontaminasi oleh kecurangan Binsar.
***
Hari ini Rajev harus berangkat ke Cilacap. Dia berangkat dengan pesawat pertama agar bisa langsung kerja dan bisa segera pulang. Harusnya berangkat semalam tapi dia malas bila harus membuang satu malam berpisah dan berjauhan dengan Aurel.
“Bu, ada khabar duka. Polisi baru saja memberitahu Yulia meninggal di rumah sakit karena kena DB ( demam berdarah ),” Murti melaporkan khabar yang dia terima dari temannya di lapas.
“Innalillahi …, kabari mas Reza dan suruh tahu bagaimana Binsar menerima kepergian istrinya,” Aurel langsung mengabari sang kakek tentang hal ini.
Berkurang satu trouble maker di kehidupan Aurel. Tinggal membasmi para kroco yang kemungkinan sudah berakar kuat. Sambil terus mengamati perkembangan itu, Aurel juga selalu serius memantau toko kue dan kelangsungan proyek-proyek yang dia miliki.
Hari ke empat Rajev telah kembali ke Jakarta. Dan malam ini bu Tarida minta ditemani Aurel menghadiri pernikahan anak teman sejawatnya.
“Honey, kakak minta ikut, apa boleh dibawa?” tanya Aurel pada Rajev.
“Kakak sepertinya bisa lah kita bawa, tapi kalau Darrel jangan, kita kan nemani ibu, nanti kita kurang fokus ngawasin ibu karena fokus kita ke Darrel,” jawab Rajev saat mereka baru saja pulang kerja. Nanti habis maghrib mereka baru akan berangkat ke pesta itu.
Rajev dan Aira sedang makan, Aurel selalu menempel dengan bu Tarida, dia tetap tak berani meninggalkan mertuanya terlalu lama tanpa pengawasannya.
“Iya wa’alaykum salam,” Rajev menjawab telepon dari nomor rumah. Mang Ujang yang menghubunginya.
“Mister … mister, … Darrel diculik oleh amang boru,” dengan terbata pak Ujang memberitahu kalau dirumah kemasukan penjahat dan mereka berhasil membawa pergi Darrel yang sedang tidur dengan mbak Nah, karena saat itu mbak Yuni sedang salat.
“Rajev terdiam. Bagaimana dia mau mengatakan pada istri dan ibu mertuanya di suasana pesta seperti ini? Bisa-bisa kedua perempuan itu histeris, dia malah repot karena juga harus menjaga Aira.
“Kak, kita pulang sekarang. Kakak jangan pernah lepas dari tangan Uppa atau Umma, sekarang Uppa akan panggil Umma dan Opung,” Rajev berupaya tenang.
“Love, bisiki ibu kita harus pulang sekarang juga,” Rajev memeluk pundak istrinya.
“Ada apa?” tanya Aurel. Dia mencari kepastian diwajah suaminya.
“Kita cerita di mobil. Ayok ajak ibu segera pulang,” pelan Rajev membimbing istrinya.
“Bu, kita harus segera pulang,” bisik Aurel lirih.
“Kenapa? Ayok,” sahut Tarida tanpa banyak tanya. Dia sudah cukup senang bisa datang walau hanya sesaat. Setidaknya dia bisa setor muka pada teman sejawat yang punya hajat.
“Ibu, dan kamu Love, mohon kuatkan hati. Aku tak berani bicara di pesta karena takut kalian pingsan berdua disana dan bikin kacau suasana pesta orang,” Rajev menarik napas sebentar. Mereka baru saja masuk ke dalam mobil.
“Ada apa Honey cepat katakan,” desak Aurel mulai panik.
“Darrel diculik Binsar,” jawab Rajev. Dan saat itu juga bu Tarida langsung pingsan. Sesuai dugaan Rajev.
“Kamu tenang Love, hubungi kakek dan Reza. Biar mereka juga lapor polisi,” Rajev segera melajukan mobilnya ke rumah. Dia harus lapor polisi setempat.
“Panggil dokter keluarga, sebentar lagi saya sampai rumah, opung pingsan,” Rajev memberi perintah pada orang rumah. Sementara Aurel sedang sibuk dengan kakek. Lalu dia juga menghubungi Reza.
Kakek tentu marah mengapa saat Binsar kabur pihak polisi tidak mengabari dirinya sehingga tak sempat antisipasi kejadian seperti ini.
“Aku sekarang juga meluncur, kalian jangan sampai ada yang gegabah. Nyawa Darrel taruhannya,” kakek langsung memberitahu anak buahnya. Tadi dia juga sudah mengatakan pada Aurel akan langsung berangkat ke rumah Aurel
Saat tiba di rumah, sudah ada Bagas, Vino dan suami Mirna serta Ayah. Mereka yang menggendong bu Tarida dari mobil hingga kamar.
Rajev membimbing Aurel yang tak bisa menangis saking stressnya. Bagas menggendong Aira yang sejak tadi juga diam. Dia menyimak semua perkataan Uppa dan Ummanya kalau adiknya diculik.
Bi Siti langsung menghidangkan teh jahe sereh panas untuk semua yang hadir. Tadi saat tiba Bagas langsung mengambil komando. Dia yang atur.
“Ayok kita lapor polisi terdekat. Mah ujang sebagai saksi mata ikut dengan pak Rajev dan saya,” kata Bagas. Dia harus mendampingi Rajev takut kakak iparnya terkendala oleh bahasa.
“Mbak, tenangkan hatimu. Aku nemani kak Rajev takut dia terkendala bahasa. Dan mang Ujang saksi mata. Kami hanya sebentar. Itu ada Vino, ayah dan Baim menemani Mbak ya?” dengan lembut Bagas pamit pada kakaknya.
“Love, aku pergi sebentar ya. Aku tahu kamu kuat,” Rajev mengecup kening dan pundak kepala istrinya.
“Aurel sama Ayah,” Wicak memberitahu akan ada buat Aurel.
Reza datang bersamaan dengan Rajev dan Bagas yang datang bersama satu mobil polisi yang akan memeriksa TKP ( tempat kejadian perkara ).
Mbak Nah dan bu Tarida masih ditangani oleh dokter. Mbak Nah mengalami luka kena sajam ( senjata tajam ). Akhirnya dokter menghubungi rumah sakit untuk mengirim ambulance guna membawa mbak Nah dan bu Tarida. Luka mbak Nah harus dijahit dan saat ini bu Tarida sudah diinfus tapi dia butuh bantuan pernapasan.
“Kak Vino, bisa bantu?” tanya Bagas.
“Ada apa?” tanya Vino.
“Kawal ibu dan mbak Nah ke rumah sakit. Bersama pak Asep. Pak Ujang biar nemani polisi,” sepertinya mbak Aurel tak bisa diharap berpikir jernih,” Bagas meminta Vino mengurus dua orang yang butuh bantuan medis.
“Pembayaran nanti saya yang cover,” Rajev memberitahu Vino.
“Baik,” sahut Vino.
“Kalau bisa jadikan mereka satu ruangan saja agar pengawasan lebih mudah,” pak Wicak memberi saran penempatan mbak Nah dan bu Tarida nantinya.
“Nah bener tuh Kak. Kalau bisa satu ruangaan saja,” Bagas setuju dengan pendapat ayahnya.
Saat akan berangkat ke kantor polisi tadi Rajev telah mengabari ayahnya di India. “Khabari kami terus perkembangan cucu kami,” Umma langsung menangis mendengar Darrel di culik dan kondisi Aurel yang tanpa ekspresi.
\===============================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : DECHE, DENGAN JUDUL NOVEL ISTRI PILIHAN ALIKA YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta