BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
DIA PENGGANTIKU



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA


\~\~\~\~\~


 “Pernah, aku kenal Rajev saat bang Radit menikah karena dijebak oleh Yulia. Kami berteman dekat dan saat itu dia juga sudah memintaku, tapi dulu aku menolaknya karena saat itu dia belum resmi mempunyai surat cerai. Saat itu Rajev sedang proses cerai,” papar Aurel. Dia tak ingin ada yang ditutupi.


“Saat aku kembali dengan bang Radit aku mengatakan pada Rajev dan Rajev menerimanya dengan lapang dada. Dia malah berteman baik dengan bang Radit.”


“Saat aku telah menikah dengan bang Radit, Rajev sama sekali tak pernah mendekatiku. Dia sangat menghormati lembaga pernikahan. Dia pernah sakit oleh pengkhiatanan, jadi dia tak ingin menjadi penyebab pengkhiatan”


“Nah semalam dia bilang akan serius denganku. Bila aku menolak keinginanna, dia akan pindah ke Afrika, tepatnya ke Libya,” jawab Aurel.


Wicaksono, Ayah Aurel termenung, dia pernah diberitahu besannya,  Radit pernah berpesan pada ibunya, kalau dia sudah menitipkan Aurel dan anak-anak pada Rajev. Saat itu dia berpikir, bila Rajev mendekati Aurel hanya karena amanat Radit maka dia akan menolak. Dia tak ingin Aurel menjadi beban bagi Rajev. Karena terpaksa menikahi Aurel akibat diberi amanat saja.


Kalau hanya karena amanat, untuk menjaga tak harus dengan menikahi ‘kan?


Dia tak ingin anaknya terluka. Namun saat tahu, sebelumnya Rajev dan Aurel pernah berhubungan baik maka tak ada alasan baginya untuk menghalangi jodoh anaknya tersebut.


“Pada dasarnya Ayah dan ibu mertuamu enggak melarang, karena minggu lalu ibumu sudah kasih tau ayah soal Rajev. Namun saat itu ayah enggak tau kalau kamu pernah dekat dengan Rajev sebelum menikah. Selama dia sendirian, dan kamu sendirian maka silakan saja,” Ayah Aurel memberi lampu hijau.


“Apa yang ibu bilang ke Ayah?” tanya Aurel penasaran tentang pembicaraan ayahnya dengan ibu mertuanya.


“Hanya bilang Rajev meminta izin mendekatimu,” Ayah Aurel hanya memberi garis besarnya. Karena dia ingat pesan besannya untuk tidak memberitahu Aurel dulu tentang amanat Radit. Nanti sang ibu yang akan langsung memberitahunya sebagai pihak yang langsung diberi pesan oleh almarhum Radit.


***


Saat ini Aurel sedang di tokonya, dia sedang membicarakan jenis kue serta tart pernikahan yang dipesan oleh WO ( wedding organizer ) kepadanya. Tetiba ponselnya berbunyi, bukan nada chat melainkan nada panggilan telepon.


“Maaf, saya terima telepon sebentar,” Aurel izin pada konsumennya untuk menerima telepon dari Rajev.


“Wa’alaykum salam,” Aurel membalas salam yang diucapkan Rajev.


“I have arrived in Doha, on my way to the parking lot.  Where are you? Why not like being at home. Isn't today a holiday for you? ( saya sudah tiba di Doha dan sedang menuju parkiran. Kamu dimana? Mengapa tidak seperti sedang di rumah. Bukankah sekarang hari libur untukmu? ).” Rajev bertanya bak petasan renceng saja karena dia mendengar back ground suara ditempat Aurel seperti sedang tidak di rumah.


“I'm at my cake shop, meeting customer to discuss her orders. Sorry I can't talk to you for long. Bye ( saya sedang di toko kue milik saya, sedang bertemu konsumen untuk membicarakan pesanannya. Maaf saya tidak bisa berbicara lama denganmu. Bye ).” Aurel langsung memutuskan pembicaraan dengan Rajev.


Aurel kembali fokus pada tamu yang sedang dia tangani. Semua dia catat dengan cermat agar tak ada kesalahan data. Dimana pun Aurel bekerja dia memang sosok yang cermat. Semua pegawainya tahu hal ini. Baik di perusahaan mau pun di toko kuenya.


***


Sudah dua hari Rajev rajin mengirim pesan pada Aurel tapi tak pernah dia balas. Kadang hanya mengingatkan jangan telat makan, jangan terlalu lelah atau pesan manis lainnya. Kadang hanya memberi salam selamat pagi atau selamat malam.


“Kenapa sayang?” tanya Ibu sambil menyiapkan baju dinas untuk esok hari.


“Kemarin sebelum pulang ke Qatar, Rajev meminta izin untuk menjalin hubungan denganku, tapi aku belum menjawabnya,” balas Aurel ragu.


Dia tak enak mengatakan hal ini pada mertuanya. Dia tak ingin sang mertua merasa Aurel membuang Radit, anak tunggalnya yang baru saja meninggal.


“Kenapa? Kamu takut Ibu melarang? Takut Ibu marah?” tanya Tarida sambil memandang menantunya dengan saksama. Aurel hanya menunduk, dia sangat takut ibu terluka.


“Aurel dengar baaik-baik! Saat kamu datang ke toko ibu pertama kali untuk diperkenalkan sebagai pacar abang, sebelumnya abang banyak cerita tentangmu. Lalu ibu bertanya pada Mirna dan Vino. Jadi saat kamu datang ibu sudah merasa sangat mengenalmu dan merasa cocok padamu.”


“Asal kamu tau, saat abang dijebak oleh Yulia, bukan hanya abang yang sakit, tapi ibu juga sakit karena kehilanganmu. Ibu kehilanganmu ditambah juga kehilangan abang! Karena saat abang berpisah denganmu dia seakan tidak hidup. Bisa bayangkan penderitaan ibu saat itu melihat putra Ibu tersiksa batinnya?”


“Abang mulai ‘hidup’ kembali, saat dia pulang dari jambore di Malang, dia menciumi ibu dan berkata bertemu denganmu dan kau telah menerimanya kembali.”


“Bagi Ibu dan ayah  sejak itu kamu bukan hanya kekasih abang, tapi kamu pelita bagi kami berdua. Rasa cinta ibu ke kamu sama dengan cinta ibu ke abang. Tak ada bedanya. Walau yang satu lahir dari rahim Ibu dan yang satu bukan.” Tarida terus saja mengemukakan apa yang selama ini belum dia ungkapkan pada menantunya.


“Kalau saat ini dengan menerima Rajev adalah bahagiamu, maka Ibu akan memperjuangkan agar kamu bisa bersatu dengan Rajev.”


“Kamu tahu, saat pagi itu Ibu pamit berangkat kerja dan abang akan berangkat ke Bandung sehabis ulang tahun Darrel. Abang berbisik pada Ibu : Sehat terus ya cintaku. Ibu dan Aurel adalah dua kejoraku. Nanti aku akan pergi, tapi aku sudah meninggalkan pesan pada Rajev, agar dia menjadi penggantiku mendampingi Aurel dan anak-anak.”


“Saat itu Ibu pikir pesan Radit ‘dia menjadi penggantiku’ adalah  Radit berpesan agar Rajev menjagamu dan anak-anak selama dia di Bandung.”


“Saat kamu pingsan mendengar kematian abang, Rajev berkali-kali menghubungi telepon Radit namun tak bisa terhubung.”


“Rajev tak tenang, karena menjelang pagi, Radit pamit lewat chat dan mengingatkan Rajev berkali-kali agar menjagamu dan anak-anak.”


“Radit lalu menghubungi teleponmu dan Ibu yang angkat. Saat pulang dari pemakaman Rajev memperlihatkan pesan-pesan Radit untuk Rajev sebelum Radit kecelakaan.”


“Kembali pada permintaan Rajev padamu, Ibu tidak melarang atau menganjurkan. Semua keputusan ada ditanganmu. Jangan kamu merasa enggak enak hati pada Ibu dan kakek atau merasa terlalu cepat mencari pengganti Radit atau pemikiran lain.”


\=========================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta