
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Ibu, kami sekalian pulang saja. Semoga Ibu cepat sembuh,” Wina mewakili Reza dan Murti untuk pamitan lalu mereka semua memberi salam pada bu Tarida.
“Iya, terima kasih Win, hati-hati ya,” bu Tarida menjawab Wina yang pamit pulang bersama dua rekan lainnya.
“Mbak Wina, ini data kantor didapat dari mana?” tanya Aurel sesaat mereka semua sudah memesan minuman dan snack. Dengan cermat Aurel membaca data yang ada didepannya.
“Beberapa hari lalu saya bertemu dengan mandor lapangan di acara aqeqah anak teman suami Bu. Dia bercerita bahan yang digunakan di proyek baru down grade dan pasokan juga tersendat. Lalu pernah ada satu supplyer yang datang menagih pembayaran bahan baku ke lokasi. Dari situ saya lapor ke pak Reza. Dan pak Reza mengutus seseorang mencari data lapangan,” balas Wina menerangkan kronologis terkuaknya perbedaan data lapangan dan data kantor.
“Mas Reza, data yang kita dapat ini valid kan? Bisa kita compare secara akurat dengan data laporan dari pimpinan proyek?” Aurel mencecar Reza, karena dia tak ingin salah mengambil tindakan.
“Kalau menurut saya itu bukan laporan pemimpin proyek Bu, sepertinya itu laporan dari bendahara proyek. Karena pimpinan proyek kan sedang menunggu istrinya di rumah sakit. Mungkin dia asal tanda tangan tanpa mengecek lapangan,” Reza memberi argumennya.
“Iya Bu, saya sudah cek, istri pimpinan proyek sakit sudah hampir satu bulan, pimpinan proyek sudah mengajukan cuti dan meminta pergantian tengat waktu. Namun oknum HRD bilang tak perlu ada pergantian personal. Pemimpin proyek diminta tetap dengan jabatannya, hanya perlu tanda tangan semua laporan saja, semua urusan di lapangan akan dihandle bendahara proyek,” Murti melengkapi laporan Reza.
Sejak ditugaskan mengawal Aurel ke Jogja maka Aurel memang memindahkan Murti dari satpam menjadi administrasi kantor di bawah Wina.
“Maksudmu oknum HRD itu siapa? Apa manager HRD?” Aurel butuh keterangan kongkrit.
“Bukan Bu, saat itu saya diminta mbak Wina meminta daftar lembur pegawai untuk dihitung penambahan gajinya. Di ruang itu hanya ada wakil manager HRD, tidak ada manager atau sekretarisnya. Saya mendengar saat pak Cahyo pimpinan proyek memberikan surat dokter dan semua surat lainnya untuk permintaan pergantian posisi. Namun pak Wisnu memberi solusi seperti itu dan dia memastikan semua akan berjalan dengan baik,” Murti berupaya menjelaskan.
“Saya sudah melaporkan semua kemarin saat pak Reza meminta saya kesini. Karena saat itu saya tak ingin dituduh mempunyai pikiran buruk pada pak Wisnu. Saya sadar kalau diam yang saya ambil adalah tindakan salah, karena membuat ini terjadi selama dua minggu,” Murti menunduk merasa bersalah. Andai saat itu dia sudah melaporkan kejadian itu, tentu Reza bisa antisipasi agar tidak ada penyelewengan seperti ini.
“Mas Reza selidiki pak Wisnu dulu, siapa teamnya, dan apa saja tujuannya. Mbak Wina selidiki pak Cahyo, apa dia tahu kondisi di lapangan tak sesuai dengan laporan yang dia tanda tangani,” Aurel memutuskan langkah yang akan mereka ambil.
Rajev melihat, walau perusahaan Aurel tidak sebesar perusahaan miliknya, tapi kemampuan Aurel memimpin terlihat lebih jeli dan lebih tegas dari Amishaa kakaknya saat memimpin perusahaan. Padahal kakaknya dari bidang hukum.
Rajev sangat bangga memiliki perempuan cerdas disisinya, karena dalam rumah tangga istri perlu menjadi teman diskusi bagi suami. Akan sangat timpang bila tak bisa diskusi.
“Hari Senin atau hari Selasa kita ke lapangan ya, mbak Murti dan mas Reza bersiap, nanti Minggu malam saya beri keputussan melihat kondisi ibu Tarida, kapan bisa saya tinggal keluar. Sementara mbak Wina seperti biasa jaga gawang saat kami di lapangan” lanjut Aurel.
“Baik Bu” jawab ketiganya berbarengan. Lalu mereka ngobrol santai sebelum pamit.
Rajev memeluk pundak Aurel sepanjang jalan masuk dari gerbang rumah sakit ke ruang rawat bu Tarida. “Kamu yakin mau ke lapangan hanya dengan Reza dan Murti?” tanya Rajev ragu.
“Aku mendengar keraguan di kata-katamu. Apa yang kau ragukan?” tanya Aurel.
“Apa tidak riskan? Bagaimana bila mereka melakukan kekerasan dan Reza harus melindungi dua orang perempuan?” tanya Rajev, menjelaskan kekhawatirannya.
“Apa itu artinya kamu ingin menemaniku karena ingin melindungiku?” tanya Aurel, dia tahu Rajev belum mengetahui kemampuannya.
“Kalau kamu mengijinkannya, mengapa tidak?” balas Rajev.
“Kamu tahu, aku sering ke lapangan. Kalau setiap aku ke lapangan harus kamu kawal, lalu kapan kamu bekerja?” tukas Aurel. Dia ingin Rajev juga membuka wawasan, tak semua harus dikhawatirkan.
“Aku akan baik-baik saja,” Aurel membelai pipi kekasihnya dengan lembut. “Enggak usah terlalu khawatir seperti itu ya.”.
Rajev diam, dia tak ingin bersitegang dengan perempuan yang dipujanya ini. Dikecupnya puncak kepala Aurel. Saat itu mereka sedang di dalam lift, dan hanya berdua.
“Senyum dong,” goda Aurel melihat wajah muram Rajev.
***
Hari Minggu siang Reza telepon melaporkan kalau pak Wisnu baru saja bertemu dengan bendahara proyek di sebuah kedai ayam goreng cepat saji dekat rumah pak Wisnu. Pak Eko adalah bendahara proyek yang sedang bermasalah. Sebelum keduanya berpisah orang suruhan Reza melihat pak Eko menyerahkan amplop cukup besar dan tebal untuk pak Wisnu. Dan orang suruhan Reza berhasil membuat photo pertemuan dan serah terima amplop tersebut.
“Sepertinya sidak tak bisa hari Senin Bu, karena saya masih butuh waktu menyelidiki teman istri pak Eko. Kalau dugaan saya benar, saya yakin Ibu dan tuan besar akan kaget,” demikian info mas Reza.
“Bagaimana love? Jadi sidak besok?” tanya Rajev lembut, mereka baru saja akan makan siang bersama kakek dan ayah serta Mirna yang tumben bisa hadir karena ada mertuanya yang menjaga bayinya di rumah.
“Belum Kak,” jawab Aurel lirih.
“Kek, habis makan kita bicara ya?” pinta Aurel pada kakek, lalu dia mengambilkan nasi untuk kakek dan ayah serta Rajev.
“Kamu Mir, bukannya ambilkan Kakek, koq malah semua dikerjakan Aurel” tegur kakek pada cucu kandungnya.
“He he heeee, maaf Kek, lupa kalau ada Kakek,” balas Mirna santai.
“Mau pakai ini enggak?” Aurel menunjukkan balado terong pada Rajev.
“Sedikit saja,” jawab Rajev.
***
Pagi ini Aurel sedang menunggu Murti dan Reza datang menjemputnya, bik Siti sudah sejak pagi tadi datang sekalian mengantarkan baju ganti bagi bu Tarida. Rajev sudah berangkat kerja sekalian mengantar Aira sekolah, sejak semalam Rajev marah karena Aurel menolak ditemani ke lapangan.
\========================================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL UNREQUITED LOVE YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta