
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
Reza datang untuk mengantarkan amplop yang diminta Aurel untuk di bagikan pada anak yatim piatu, karena Aurel tidak sempat pergi ke bank untuk mengambil uang cash dalam jumlah cukup banyak. Maka Aurel minta tolong pada Reza. Dia mentransfer sejumlah uang dan meminta Reza mengatur dalam amplop yang dia perintahkan.
“Ini 100 amplop yang sudah di isi sesuai perintah Ibu, ini amplop kosong dan ini uang sesuai yang Ibu minta,” jelas Reza.
“Ok mas Reza terima kasih. Pengajian bapak-bapak akan diadakan besok bada’ Maghrib. Sedang pengajian ibu-ibu akan diadakan hari Minggu jam sembilan pagi, sekalian santunan anak yatim. Jadi team kita ngobrol sesudah acara pengajian selesai ya. Sekitar jam satu siang lah,” Aurel menerangkan pada Reza. Takutnya kalau Reza dan team sudah stand by sejak pagi nanti nunggu kelamaan. Karena hari Minggu pasti Reza ingin menghabiskan waktu dengan anak dan istrinya.
“Ada perkembangan enggak? Kan kemarin Murti datang dihari kunjungan napi?” tanya Aurel penasaran.
“Murti bilang ada Bu, lusa dia bawa buktinya ke sini,” jawab Reza, dia tak ingin salah memberi info.
“Lalu pak Cahyo aman enggak?” Aurel mengkhawatirkan pegawainya yang sedang mencari bukti di lapangan.
“Aman Bu, karena week end pak Wisnu dan pak Eko tidak ada yang datang, dan nomor telepon mereka tak bisa dihubungi. Jadi kalau anak buahnya lapor lewat telepon juga tak akan bisa,” Reza sangat senang akan hal yang tadi dilaporkan anak buahnya team lebah madu.
“Pak Rajev kemana Bu?” tanya Reza penasaran, karena di halaman ada mobilnya. Setahu Reza, lelaki India itu sangat posesive melebihi Radit.
“Sedang momong Darrel, lagi main air di kolam plastik,” jelas Aurel.
Reza pamit karena hari sudah menjelang malam. Aurel langsung menyimpan amplop-amplop yang baru diantar Reza ke kamarnya. Lalu dia ke halaman belakang melihat keriuhan Darrel dan Aira berteriak senang bermain bola dan bebek plastik dalam kolam plastik yang dibelikan Rajev. Memang di rumah ini tak ada kolam renang yang sebenarnya, sehingga Rajev membelikan kolam plastik besar bagi anak-anaknya.
Kaos dan celana pendek Rajev sudah basah kuyup karena kedua anak itu sengaja menyiram uppa nya yang terus menghindar, membuat mereka terbahak. “Cukup yok,” Aurel meminta kedua anaknya mengakhiri kegiatan mereka sore ini.
“Belum Um’ma, nanti dulu,” tolak Aira yang belum puas bermain.
“Nda mau udah” Darrel pun tidak mau berhenti.
“Uppa, cukup,” pinta Aurel, karena dia tahu kedua anak itu hanya mau berhenti bila uppa nya yang menyuruh.
Rajev yang mendengar Aurel menyebutnya uppa terperangah. Dia pun segera mengajak kedua buah hatinya untuk berhenti. Dia siapkan handuk keduanya. Dan kedua pengasuh segera mengambil alih nona dan tuan kecil mereka.
Sesuai pemikiran Aurel, kedua anak itu menurut saat uppanya yang meminta mereka menudahi kegiatan sore ini.
“Langsung kasih minum hangat Mbak, jangan lupa berikan obat turun panas untuk antisipasi,” perintah Aurel sambil memberikan handuk besar pada Rajev.
“Bajumu di mana?” Aurel bertanya karena akan menyiapkan baju kering bagi Rajev.
“Masih di mobil, aku lupa turunin, ada di kursi belakang,” balas Rajev. Tadi dia turun tergesa-gesa karena khawatir akan Aurel yang tidak mengangkat panggilan telepon darinya.
Aurel meminta kunci mobil dan memberikan air sereh jahe panas dengan gula batu untuk Rajev minum sambil menunggu dia mengambilkan baju kering.
Aurel menyiapkan makan malam bagi ibu, dia mengikuti jam makan rumah sakit agar bu Tarida tidak kaget dengan perubahan selama dia di rawat. Bu Tarida makan bersama Aira dan Darrel. Aurel juga menyiapkan obat agar bik Eneng tidak salah memberikan.
“Kamu enggak makan bareng?” tanya ibu Tarida.
Sesungguhnya dia ingin menuntaskan semua masalah antara dirinya dan Rajev sebelum Rajev berangkat ke Bontang hari Senin pagi.
Di ruang keluarga Rajev yang sedang menonton televisi mendengar ponselnya berdering, bersamaan Aurel menghampirinya.
“Assalamu’alaykum, *please speak in English or Indonesian so that my wife doesn’t misunderstand*,” sapa Rajev saat menerima panggilan, dia mengatakan agar yang menghubunginya berbicara dengan bahasa inggris atau Indonesia agar Aurel tidak salah paham.
“Wa’alaykum salam, ini kak Hanan,” jawab suara di ujung sana berbahasa Indonesia. Rajev sengaja memperbesar volume teleponnya sehingga walau tidak menggunakan speaker, Aurel yang duduk di sisinya bisa mendengar dengan jelas.
“Apa khabar Kak?” tanya Rajev terbata dengan bahasa Indonesia yang masih kurang fasih.
“Sangat baik. Kakak tidak akan berbasa-basi, hanya mengabarkan Aashita sudah tertangkap di Bandung. Sesudah jadi buronan di India dia bisa kembali ke Indonesia, dan sudah satu bulan di Cimahi. Dia lupa satu minggu lalu menggunakan kartu kredit milik Hazen untuk belanja. Tentu saja Fidhya langsung melacaknya dan segera lapor polisi. Kakak berterima kasih kamu membantu Kakak dan Fidhya melaporkan Aashita. Kakak harap rumah tanggamu selalu dalam lindungan Allah,” terang kak Hanan.
“Baik Kak, terima kasih kembali,” Rajev memutus pembicaraan mereka, sambil menatap wajah perempuan disebelahnya.
Aurel yang merasa diperhatikan Rajev segera berpaling. “Aku sudah lapor ibu, habis salat Maghrib kita makan di luar ya? Ada yang ingin aku bahas denganmu.”
\*\*\*
“Kita mau kemana?” tanya Rajev saat akan menyalakan mesin mobilnya. Malam Sabtu, tentu saja rumah makan banyak yang penuh. Maka Aurel sengaja cari rumah makan lesehan yang berupa saung-saung terpisah agar pembicaraannya tak terdengar oleh pengunjung lain.
Sepanjang perjalanan tadi tak ada percakapan serius, mereka hanya membahas lalu lintas yang padat, persiapan pengajian besok dan hal-hal ringan lainnya. Sesungguhnya Rajev sedang galau, dia sangat takut bila saat ini bom yang dia takutkan akan meledak. Dia takut Aurel akan memutuskan hubungan mereka.
“Aku mau kita bicara serius, sangat serius agar semua tuntas malam ini,” Aurel membuka diskusi mereka malam ini.
“Aku ingin menyampaikan semuaaaaaaaaaa dulu sebelum Kakak menjawab, jadi please berikan aku waktu untuk bicara hingga tuntas. Jangan potong pembicaraanku agar semua jelas,” lanjut Aurel sambil melambaikan tangannya untuk memberikan kertas pesanan mereka.
“Awalnya, aku ingin menyudahi pertunangan kita dan pergi meninggalkan Indonesia. Aku memutuskan tidak ingin terikat kembali dengan pernikahan,” cetus Aurel.
“Kamu tega!” potong Rajev.
“*Please* Kak, dengarkan aku dulu atau aku akan pulang sekarang juga,” ancam Aurel. Di awal tadi dia sudah mengingatkan akan bicara dulu hingga tuntas dan minta tidak di interupsi. Tapi rupanya Rajev tak sabar tidak bereaksi terhadap pernyataan yang ia dengar barusan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL **WANT TO MARRY YOU** YOK!

***Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa***
***YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya***
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***
***Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta***