BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
HARI KE EMPAT PULUH



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\=================================================================


 Resep yang di berikan dokter Fitri dipegang bu Gita. Dia akan menyuruh salah seorang perawat di poli anak untuk menebusnya di apotik. Dia sendiri masih mendapat cuti karena baru saja mendapat musibah meninggalnya suaminya sehingga masih belum praktik.


Di papahnya sang menantu kembali ke ruang rawat Radit, tadi Tarida sudah menawarkan kursi roda, tapi menantunya menolak tawaran itu. Dalam diam dia juga menangis dalam batinnya. Andai masih ada suaminya, tentu khabar bahagia ini akan langsung dia beritahu pada belahan jiwanya itu.


“Kamu makan dulu ya, ini obatnya sudah Ibu tebus dan kamu minum sesuai dengan perintah dokter Fitri tadi,” perintah bu Tarida lembut. Dia ingin menantunya sehat.


Sebagai sesama perempuan tentu Tarida bisa merasakan pikiran Aurel saat ini. Saat harusnya bahagia karena tahu hamil anak pertama, tapi suaminya tak bisa diajak berbagi suka karena masih koma.


Tarida tak ingin Aurel stress, karena akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin dalam kandungan.


“Ya Bu, ini Aurel mau makan, Ibu sudah makan?” tanya Aurel berupaya tegar.


“Ibu sudah sarapan, nanti makan siang di rumah aja. Oh ya, besok Ibu enggak kesini ya Rell. Besok ‘kan nujuh harinya Ayah. Ibu kepaksa stay di rumah, takut ada yang di butuhkan buat acara pengajiannya. Nanti biar Mirna menemanimu disini ya?” beritahu ibu. Sesungguhnya bila tak ada acara pengajian untuk almarhum suaminya dia juga akan menemani Aurel seperti biasa.


“Enggak usah ganggu Mirna Bu. Besok Bagas akan stay di sini seharian karena dia kan libur. Aku kangen Aira Bu,” Aurel mulai terisak.


“Besok siang kalian ketemuan aja di lobby rumah sakit. Bila Bagas sudah datang kamu beritahu Ibu biar mbak Nah kesini bawa Aira diantar pak Kulon atau mang Asep,” ibu memberi solusi, mereka sadar lingkungan ruang rawat tidak baik untuk Aira.


***


“Bang, masih belum bosan ya tidur terus. Udah enam hari lho Abang bobo nyenyak. Enggak kangen aku?” bisik Aurel ditelinga suaminya, dia baru saja salat dan selesai membisiki doa sebelum dia bilang kangen.


“Sadarlah untukku. Apa kau enggak ingin tau perkembangan bayi mungil diperutku? Abang bilang nunggu semaianmu jadi kan? Ini hasil kita bercocok tanam udah mulai tumbuh di kebun kita,” cerita Aurel.


Dia ingat suaminya sering memberi kode ngajak bercocok tanam saat meminta mereka hendak berhubungan badan. Diambilnya jemari Radit dan dieluskan ke perutnya yang baru pagi tadi dia tau ada bakal calon anak mereka.


Sudah sebulan Aurel full di rumah sakit, dia tidak pernah meninggalkan Radit sama sekali. Semua kebutuhan toko kue dipantau dari rumah sakit dan seminggu dua kali staffnya datang ke rumah sakit memberi laporan.


Sedang pertemuan dengan Aira dijadwalkan seminggu sekali saat Bagas menemaninya di akhir minggu. Bagas juga sering menemaninya menginap di rumah sakit dan berangkat sekolah dari rumah sakit.


***


YULIA POV


Sejak melahirkan kemudian aku melihat surat ceraiku dengan Radit, baru kali ini aku bertemu kembali dengan om Binsar. Sudah 5 bulan sejak aku melahirkan. Badanku sudah kembali ke bentuk semula. Sekarang aku bekerja di toko grosiran snack curah di Jatinegara, karena sejak hamil aku terpaksa keluar dari super market.


Kami baru saja menyelesaikan pertempuran kami malam ini. Walau aku nakal, namun hanya pada Jefri dan om Binsar saja aku melakukan hubungan.


Dengan Jefri karena aku percaya pada bujuk rayunya, dia bilang akan menikahiku dan dia sangat mencintaiku. Dengan om Burhan aku mulai ingin disentuhnya sejak dia memainkan puncak mahameruku saat pemotretan di kantor Radit. Lidah nakalnya serta sedotannya di puncak mahameruku sangat penuh sensasi.


Suatu hal baru yang tak kudapatkan dari Jefri. Lalu saat pertama melakukan peperangan dengan om Binsar aku merasakan kepuasan yang sangat berbeda dan membuatku ketagihan. Om Binsar juga banyak mengajarkau berbagai gaya. Serta keperkasaannya membuatku bertekuk lutut padanya.


“Butet (panggilan special om Binsar padaku). Besok Abang ( sejak kami sering bersama, om Binsar menyebut dirinya abang dan aku pun di minta memanggilnya itu ) ke Cisarua.  Sore langsung pulang ke Medan. Kau kabari perkembangan si Radit ya. Ingat jangan sampai kau terlihat oleh mereka,” perintah ‘suamiku’ itu.


Ya, aku sudah menikah secara siri dengannya, dan kemarin kami baru pasang alat kontrasepsi karena Abang bilang tidak ingin aku hamil bila usahanya belum berhasil. Mama kembali sakit, dan aku sudah tidak  ingin membantu biaya lagi. Papa mengurus surat keterangan tidak mampu agar kami terbebas biaya rumah sakit.


Saat ini abang ingin agar aku bisa mendekati Radit untuk menjebaknya dengan obat perangsang dan istrinya melihat saat aku dan Radit sedang berhubungan, agar tidak hanya photo seperti saat aku menjebaknya untuk dia menikahi dulu.


Namun kemarin aku gagal mendekati Radit, yang kutemui di rumahnya hanya istrinya saja. Aku akan berupaya bisa bertemu Radit di kantornya. Namun belum sampai aku menjebak di kantornya, aku melihat berita, saat ini Radit sedang koma karena kecelakaan di jalan TOL.


Abang berharap Radit tidak selamat agar tampuk kepemimpinan usaha bisa dipegangnya. Kulihat juga ternyata dalam kecelakaan itu Radit sedang bersama dengan ayahnya yang langsung meninggal ditempat kejadian.


Saat ini sebulan sejak kecelakaan, Radit belum juga sadar.  Sudah 2 minggu abang di Jakarta, dan kerjanya hanya marah-marah karena mantan mertuanya memberikan mandat kepemimpinan perusahaan langsung di bawah istri Radit selama Radit berhalangan. Dan semua itu sudah ditetapkan didepan notaris sejak Radit koma seminggu.


Kakek tua itu sudah mengantisipasi semuanya. Aku makin benci pada istri kedua Radit itu. Biar bagaimana pun aku pernah jadi istri pertamanya.


Abang sedang berupaya mencari orang dalam untuk menjadi sekutu kami didalam perusahaan, namun agak sulit, itu membuat abang bad mood.


END YULIA POV


***


Malam ini Aurel sendiri, sehabis sholat isya dia termenung di teras ruang rawat, ditatapnya rembulan malam yang sedang memberikan senyum termanisnya untuk Aurel. Seakan rembulan meminta Aurel juga ikut tersenyum bersamanya dan memintanya bersabar menanti kekasih hatinya terjaga. Malam ini sudah malam ke 40 meninggalnya ayah mertuanya.


“Malam Papap, masih belum mau bangun ya? Masih ngantuk? Papap enggak pengen dengar detak jantung Dedek? Tadi Mama dan Opung dengar detak jantung Dedek lho, dia sehat, dan Alhamdulillah enggak ngerepotin Mama. Mama enggak mual atau ngidam seperti para ibu lainnya. Dedek beneran ngertiin kita,” cerita Aurel malam ini.