BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
IBU TARIDA PULANG KE RUMAH



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 “Tell the truth,” pinta Rajev. Walau hubungan mereka baru berbilang bulan, tapi Rajev paham betul karakter calon istrinya itu. Dia tak bisa dibohongi dengan kata-kata manis yang Aurel katakan.


“Aku ngantuk,” hanya itu yang Aurel katakan lalu dia berbaring di kasur penjaga pasien dan menarik selimut. Rajev mematikan beberapa lampu agar ruangan menjadi redup untuk tidur. Dia beranjak ke kasur. Dilihatnya Aurel sengaja berbaring memunggunginya.


“Cerita ke aku ya, jangan pendam sendiri kegelisahanmu,” bisik Rajev di telinga Aurel sambil dia memeluk kekasihnya dari belakang.


Aurel tidak berbalik, hanya tangan kanannya memegang kepala Rajev yang berada dipundaknya,”Tidur Kak, aku ngantuk.”


Rajev pun mengalah, dia tidak ingin memaksa. Dia mendekap erat kekasihnya dan segera tertidur. Sementara Aurel malah belum bisa terpejam. Dia masih memikirkan apa yang akan dia tempuh untuk membalas tusukan yang kembali dilakukan mantan istri Radit.


Paginya Aurel terlambat bangun karena semalam sulit tidur, dan lagi dia sedang berhalangan sehingga tidak salat Subuh. Rajev sengaja keluar untuk salat Subuh di masjid rumah sakit.


***


Aurel mendorong kursi roda ibu ke ruang tengah begitu mereka tiba di rumah. Aira belum pulang sekolah. Darrel langsung minta pangku dan terpaksa yang mendorong kursi diserahkan ke pak Ujang karena terlalu berat.


Aurel membuka pintu kamar mertuanya dan meminta bik Siti dan bik Eneng segera bergerak sesuai perintahnya semalam.


“Di luar saja dulu Rel,” pinta ibu pelan, dia tak ingin segera di bawa ke kamar. Ibu lalu bangun dari kursi roda dan pindah ke sofa. Ibu bisa jalan, tapi tertatih dan baru mampu beberapa langkah. Itu sebabnya Aurel memutuskan ibu menggunakan kursi roda agar lebih mudah.


“Iya Bu. Biar kamar dibersihkan dulu. Lebih dari satu bulan enggak dibuka, tentu enggak baik udara di dalam kamar,” jawab Aurel.


Rumah kembali semarak karena kepulangan ibu. Aira yang baru pulang sekolah senang melihat opungnya sudah di rumah.


***


Aurel terpaku di kamarnya, kamar tempat dia memadu kasih dengan almarhum suaminya. “Mengapa aku harus terlibat dengan peninggalan hartamu yang membuatku tak tenang Bang?” tanya Aurel sambil memandang photo pernikahannya dengan Radit.


Tanpa sengaja Aurel tidur, mungkin badannya sudah terlalu letih satu bulan lebih tinggal di rumah sakit. Aurel tak mendengar sejak tadi ponselnya berbunyi karena ponselnya di dalam tas, dan tas nya tergeletak di meja riasnya.


Rajev panik karena sejak tadi tidak bisa menghubungi Aurel karena panggilannya tak di respon oleh tunangannya. Dia akhirnya menghubungi nomor telepon rumah menanyakan apakah ibu dan Aurel sudah sampai di rumah dengan selamat.


Bik Eneng yang menerima telepon mengatakan Aurel tertidur, karena tadi Darrel dan mbak Yuni ke kamarnya melihat Aurel tertidur tanpa menutup pintu.


“Mengapa dia tidur saat siang seperti ini? Apa sakit?” desak Rajev. Namun bik Eneng tak bisa memberi jawaban pasti. Rajev mengingat semalam Aurel juga lebih banyak diam.


Rajev yang baru kembali dari salat Jumat segera kembali ke ruangannya. Dia berganti sepatu dan mengambil kunci mobilnya juga membawa semua berkas yang dia butuhkan hari Senin nanti berangkat ke Bontang.


Cukup lama Aurel tertidur, dia bangun karena kaget Aira menciuminya,”Um’ma, apa um’ma sakit?” tanya Aira dengan nada rindu.


“Hallo cantiknya Um’ma, tidak … Um’ma tidak sakit sayang, mungkin hanya lelah. Tapi sekarang sudah enggak lagi koq,” Aurel menciumi putri kecilnya. Putri dari perempuan yang selalu ingin menghancurkannya.


“Apa Um’ma ketinggalan makan siang bersama? Kamu sudah makan?” tanya Aurel. Dia berupaya bangkit dan akan membasuh badan agar segar, atau malah sekalian mandi aja, pikir Aurel. Dia mengambil baju ganti dan bergegas ke kamar mandi. “Um’ma mandi dulu ya, Kakak kalau mau nunggu, duduk situ aja dulu,” perintahnya pada Aira.


Aira dan Aurel turun bersama menuju meja makan. Ibu sudah makan sejak tadi dan sekarang sedang tidur siang. “Kakak temani Um’ma makan lagi ya?” ajak Aurel.


“Aku sudah makan, aku mau tidur,” jawab Aira yang memang terbiasa dengan rutinitas tidur siang.


“Assalamu’alaykum,” sapa Rajev yang baru saja tiba.


“Wa’alaykum salam,” balas Aurel, dibalasnya pelukan erat tunangannya, dia menerima kecupan dipipi dari pria ganteng itu.


“Uppaaaaaaa,” sambut Darrel yang berlari dari kamarnya.


“Ya ganteng, udah bobo?” tanya Rajev dengan sabar.


“Baru mau tidur Pak, dengar suara Bapak langsung lari keluar kamar,” lapor mbak Yuni. Aurel hanya tersenyum mendengar kelakuan anak lelakinya.


“Atu nda mau main boya, atu maunya belenang,” tawar Darrel.


“Ok, nanti kita berenang. Uppa akan siapkan kolamnya kalau Abang bobo, kalau enggak bobo enggak jadi berenang ya?” Rajev pun memberikan penawaran pada jagoan kecilnya.


“Ote, atu bobo duyu,” Darrel pun setuju dan mereka melakukan toss tanda sepakat.


“Peluk Uppa dulu,” pinta Rajev sambil merentangkan tangannya.


“Um’ma enggak dipeluk?” tanya Aurel.


“Nda mau,” jawab Darrel sambil berlalu menuju kamarnya. Aurel hanya tertawa melihat kelakuan Darrel.


“Sudah makan?” tanya Aurel saat mereka tinggal berdua.


“Belum, sepulang salat Jumat langsung kesini” jawab Rajev jujur.


“Kebetulan, ayok makan temani aku. Aku juga belum makan,” Aurel tak sadar menggandeng Rajev menuju meja makan. Dia mengambilkan nasi untuk Rajev,”Mau pakai apa?” tanya Aurel


“Opor saja cukup,” jawab Rajev cepat.


“Pakai krupuk atau peyek udang?” tawar Aurel. Dia sendiri mengambil lontong dan opor untuk dirinya. Aurel lupa di pesan semur bandeng. Baru dia ingat sesudah mengambil lontong dan opor.


“Kamu curang, mengapa aku di kasih nasi sedang kamu lontong?” protes Rajev.


“Aku kurang perhatian, aku kira tadi lauknya hanya rendang ayam, ternyata ada opor” balas Aurel.


“Aku malah lupa kalau aku pesan semur ikan bandeng,” lanjut Aurel.


Sehabis makan Aurel mengecek persiapan acara tiga tahun meninggalnya bapak mertuanya. Dia cek souvenir bagi peserta pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu yang beda jenis souvenirnya. Begitu pun hadiah untuk anak-anak panti asuhan. Semua dia kontrol agar tak ada yang kurang.


“Kak, ini baju untuk besok malam di pengajian bapak-bapak. Dan yang ini untuk Minggu pagi dipengajian ibu-ibu,” Aurel menyerahkan satu tas berisi dua baju koko berbeda warna pada Rajev.


“Bagaimana bila aku lupa, salah warna?” tanya Rajev menggoda Aurel.


“Terserah,” balas Aurel ketus.


“Jangan marah, aku hanya becanda,” Rajev membujuk Aurel yang berjalan ke depan tempat para pegawai sedang memilah-milah dan membungkus aneka hadiah.


“Bu, ada pak Reza,” lapor mbak Nah.


“Bikinkan minum ya Mbak, sudah suruh masuk kan?” tanya Aurel.


“Sudah di ruang tamu Bu,” jawab mbak Nah lalu berlalu ke dapur untuk membuatkan minum bagi tamu nya.


\===============================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL   UNREQUITED LOVE  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya 


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta