BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
APA DIA AKAN SELAMAT?



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Kami menunggu tiga jam lagi. Bila dia kejang lagi, kemungkinan ada kerusakan otak akibat benturan atau bantingan yang belum kita lihat di foto CT Scan-nya. Tapi bila tiga jam kedepan dia tidak kejang lagi, kami bisa memastikan kejang yang sekarang karena dia sangat trauma,” Bagas langsung menterjemahkan semua perkataan dokter ke bahasa inggris.


“Apa dia akan selamat?” tanya Rajev dan Bagas segera menterjemah kembali.


“Kita tunggu tiga jam kedepan,” sahut dokter dan memohon pamit dari ruangan itu.


“Kakek, Uppa, Umma sebaiknya istirahat. Begitu dokter memantau kembali kami akan melaporkan. Aku dan kak Vino akan tidur di sofa kalau kak Vino tidak pulang. Dan kak Rajev menemani mbak Aurel,” Bagas meminta para sepuh untuk istirahat di hotel. Kebetulan kakek dan uppa satu hotel jadi bisa menggunakan mobil kakek tak perlu diantar.


“Aku akan menginap disini. Besok aku berangkat kerja dari sini lebih dekat,” jawab Vino. Dia telah siaap baju ganti untuk kerja dan baju santai di mobilnya. Bahakan dia telah membawa persiapan untuk tiga hari. Dia tak ingin buang waktu pulang ke rumahnya dulu.


“Baik, kami akan merebahkan tubuh tua ini dulu,” kakek pun bersiap pulang.


“Jangan lupa khabari kami bila ada hal diluar dugaan,” pinta Chander dengan serius. Dia melihat putranya sangat sedih.


“Insya Allah Uppa,” sahut Bagas. Sejak bisa masuk tadi Rajev langsung menuju bed istrinya, dia langsung  memeluk Aurel yang masih belum sadar. Melihat itu Ahisma makin sedih.


***


“Kita belum tahu khabar Darrel ya Nah,” bu Tarida yang sudah bangun untuk salat Subuh bersama Nah bingung karena sejak semalam juga tak ada satu pun yang datang ke ruang rawat mereka.


‘Ada apa dengan Darrel?’ batin bu Tarida. Dia resah. Karena dia hafal menantunya orang yang paling perhatian pada siapa pun terlebih untuk dirinya dan sekarang juga untuk Nah yang sudah berupaya mempertahankan Darrel.


“Bisa beritahu apa yang terjadi dengan cucuku?” tanya bu Tarida pada siswa perawat yang bertugas mengukur tensi serta suhu tubuhnya pagi ini.


“Saya tidak bisa memberitahukan kondisi pasien Bu. Bukankah itu ketentuan rumah sakit?” sang perawat menghindar.


“Baik, akan aku laporkan bahwa pekerjaanmu tak becus biar kau diberi SP ( Surat Peringatan ) atau karena masih mahasiswa maka nilaimu akan jelek,” sahut Tarida dengan liciknya. Dia tahu perbuatanya hanya sekedar ancaman agar mengetahui kondisi cucunya saja. Tak mungkin dia melakukan hal buruk itu.


Takut dilaporkan yang tidak benar maka siswa perawat itu langsung memberitahu kejadian yang menimpa Darrel dan Aurel. Serta dia beritahu sampai saat ini Aurel dan Darrel belum ada yang sadar.


“Pantas ya Pung, sejak semalam enggak ada yang kesini. Ternyata ibu dan dede kritis,” mbak Nah dan seisi rumah sekarang memanggil opung untuk bu Tarida agar kedua cucunya juga mengikuti itu. Dan Aurel mereka panggil ibu.


“Andai kita bisa lari ke sana,” sahut bu Tarida berangan-angan, dia sangat ingin tahu konsdisi real Darrel dan Aurel.


“Kalau kita ke sana, bukan hanya dokter dan perawat yang marah. Bapak ( maksudnya Rajev ), om Bagas serta kakek juga akan memarahi kita Pung,” sahut mbak Nah. Terlebih dia masih diinfus. Sedang bu Tarida sudah lepas infus kemarin sore saat Aurel menengoknya.


“Nanti kalau ada Eneng atau Siti datang, aku akan minta didorong pakai kursi roda keruang Darrel. Aku akan melihat bagaimana kondisi dia sekarang,” bu Tarida tak takut dimarahi. Yang penting dia bisa tahu khabar ter-update.


***


Sriyono bersiap menuju kantor yang memanggilnya lewat email. Hari ini dia akan menjalani wawancara. Dia deg deg an. Bukan karena takut akan di test. Dia justru takut gagal tak diterima. Karena niatnya pindah kerja kesini bukan hanya mencari nafkah sesuai ijazah yang dia miliki.  Dia punya misi lebih penting dari hanya sekedar mencari nafkah. Dia mencari belahan jiwanya.


Sriyono memang belum resign dari kantor lamanya. Dia akan resign bila telah ada kepastian diterima kerja di Jakarta. Sekarang dia hanya cuti satu minggu. Karena memang selama ini dia tak pernah ambil cuti.


***


Sesuai perintah kakek Ikhlas Sebayang, Reza dan Murti membuka lowongan pekerjaan beberapa posisi penting. Nantinya orang baru akan langsung diawasi oleh Murti dan Reza.


Sementara Wina tak ikut dalam rekrutmen awal. Dia akan ikut di pengujian akhir saja. Terlebih sekarang Aurel sedang sakit maka tugas Wina full menggantikan Aurel dengan pelaporan kerja pas Reza.


Hari ini Reza dan Murti serta Wina akan menerima calon karyawan baru. Screening berkas sudah dilakukan oleh team HRD secara bertingkat. Penerimaan pegawai kali ini berkas harus melewati tiga kali penyaringan dengan team yang berbeda, sehingga akan sulit bagi peserta yang akan main kotor.


Peserta yang dipanggil hari ini berjumlah 24 orang dari berbagai kota dan akan di sebar ke semua formasi yang akan diubah oleh Aurel bila dia sudah sembuh dan Darrel juga sudah pulih.


Wawancara juga dibagi dalam tiga tahap, setiap orang harus melewati Wina sebagai penguji pertama, lalu menuju Murti sebagai penguji kedua dan terakhir Reza sebagai decision maker. Dia lah penentunya. Tiga orang ini tidak ada yang bisa diajak untuk nepotisme. Mereka semua orangnya kakek Ikhlas Sebayang dan Aurel Kumar.


Sriyono mendapat nomor urut tujuh. Saat ini nomor lima baru saja masuk, dan nomor urut dua baru saja keluar setelah melewati meja Reza.


Nomor urut tiga keluar, maka nomor urut enam dipersilakan masuk ke meja Wina. Sriyono makin nervous. Dan saat ini giliran dia masuk.


‘Astagfirullah, mengapa dia juga merupakan team penguji?’ Sriyono pias. Tak menyangka di meja penguji kedua adalah target harapan hidupnya pindah ke kantor ini.


‘Bagaimana bila aku gagal masuk kantor ini karena tersandung nilai dari mejanya?’ pikir Sriyono bingung.


‘Bismillah, aku pasti mampu,’ Sriyono duduk tenang di depan Wina. Dia mengulurkan tangan dengan percaya diri untuk berjabat tangan dengan penguji pertama.


Sriyono pindah ke meja penguji kedua. Seperti di meja pertama dia pun mengulurkan tangan dengan percaya diri walau sedikit gemetar. “Selamat pagi, Assalamu’alaaykum Bu. Saya peserta nomor urut tujuh.”


‘Aku sepertinya hafal suara ini,’ Murti mengangkat wajahnya untuk melihat peserta nomor tujuh itu.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA :  PIPIHPERMATASARI, DENGAN JUDUL NOVEL  BERTAHAN TERLUKA YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya 


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta