BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
AHMAD SENGAJA BERSIAP PERGI



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Menurut info bila senja suasana disini akan bisa tambah romantis saat melihat sunset yang indah di tempat ini. Sayang mereka mengunjunginya masih pagi karena keterbatasan waktu yang memang mereka miliki.


“Sini Yank, bikin foto kenangan,” Ahmad selalu minta mereka foto bersama. Padahal selama ini Ahmad tak suka melakukan itu. Dia lebih senang membuat istrinya sebagai model.


Di sekitar jembatan terdapat saung dan spot foto yang Instagramable. Wina dan Ahmad bersantai di bawah pohon bambu yang rindang. Di sana tersedia jajanan makanan dan minuman bagi wisatawan.


“Rasanya enggak pengen pindah lokasi ya Mas. Indah karena asri alamnya,” Wina seakan malas berpindah tempat.


Selanjutnya mereka segera salat di masjid fenomenal di Lampung yaitu MASJID TAQWA  Masjid yang sudah berdiri sejak tahun 1967 ini memang sangat ingin Ahmad kunjungi.


Masjid Takwa terletak di tengah kota Metro dan sering dikunjungi oleh masyarakat setempat yang beragama Islam. Pada bagian depan masjid terdapat taman kota Merdeka yang menjadi salah satu tempat yang bisa dikunjungi secara gratis.


Sekitar masjid terdapat taman dengan pohon yang tinggi dan besar. Sehabis beribadah Wina dan Ahmad  duduk-duduk di serambi masjid sambil menikmati pemandangan taman yang indah.


Makan siang kali ini Wina tidak makan nasi, disekitar masjid banyak penjual jajanan. Dia dan Ahmad memang bukan yang harus makan nasi. Sehingga mereka santai saja makan kuliner yang tersedia disana.


Selain jembatan Pelita Metro juga terkenal dengan JEMBATAN GANTUNG 28 KOTA METRO. Karena itu Wina dan Ahmad hari ini menuju kesana.


Di sekeliling jembatan banyak pepohonan masih rimbun dan udaranya masih cukup segar.


Dulunya jembatan ini merupakan jembatan dan jalur akses utama yang menghubungkan dua wilayah Metro, yakni Metro Kibang dan Metro Selatan. Karena infrastruktur jalan raya mulai dibangun, maka banyak penduduk yang beralih menggunakan jalan raya tersebut untuk melintas.


Akhirnya Wina dan Ahmad menyudahi perjalanan mereka hari ini, mereka kembali ke penginapan dengan perasaan puas.


***


“Enggak apa-apa kan kita makan disini lagi?” tanya Wina. Mereka makan malam di rumah makan seberang penginapan lagi karena Wina belum tau mau makan dimana di kota yang dia tak pernah datangi ini.


“Enggak apa-apa Yank. Yang penting makanan sehat dan halal kan?” sahut Ahmad santai. Dia menikmati hari-hari terakhirnya dengan berjuang terlihat kuat dihadapan istrinya.


Wina memang bukan perempuan yang neko-neko. Dia sangat mengerti kalau suaminya juga bukan sosok yang rewel dalam hal makanan. Jadi selama ini mereka hidup anteng dan bahagia tanpa beban kecuali ketika menghadapi tekanan dari ibu mertua Wina.


“Sepertinya Minggu depan aku tugas ke Semarang Mas,” Wina memberitahu tugas dia selanjutnya.


“Enggak kebayang selama ini bu Aurel tu super sibuk ya Yank. Kamu yang gantiin dia selama dia hamil aja seperti ini,” Ahmad tentu tak akan melarang istrinya. Dia malah senang kalau istrinya sibuk dan tak fokus pada dirinya sehingga tak akan memperhatikan kondisi tubuhnya yang makin menyusut.


“Dia emang perempuan hebat Mas. Punya empat toko kue. Memimpin perusahaan ini. Mengurus suami dan anak-anaknya. Dan jadi pemimpin di keluarganya karena dia yang mengawasi ayahnya, ibu mertuanya serta kakeknya pak Radit,” Wina juga sangat kagum pada Aurel.


“Kamu juga perempuan hebat Yank. Selama ini kamu kuat menghadapi terjangan badai. Semua orang kan kapasitasnya beda-beda. Kamu tetap yang terhebat dimata Mas,” Ahmad mengelus punggung tangan kiri istrinya.


“Terima kasih telah bersedia menemaniku sampai ujung usiaku. Memilikimu adalah anugrah terindah untukku,” Ahmad mengecup jemari istrinya dengan lembut.


***


Pagi ini Wina dan Ahmad kembali sarapan dengan menu dari pedagang makanan yang mengasong kedepan lobby. Mau nasi rames, nasi uduk, nasi goreng, aneka mie, ayam bakar, ayam goreng, sate ayam, bubur ayam semua ada. Dengan harga yang tak menguras kantong tentu saja para pedagang mendapat banyak pembeli.


Dam Raman merupakan tempat wisata berupa bendungan yang sebelumnya menjadi pusat irigasi utama bagi warga kota Metro untuk mengairi ladang dan sawah. Bendungan Dam Raman bahkan memiliki nilai sejarah karena ia dibangun oleh pemerintahan kolonial pada saat Perang Dunia II berlangsung.


Disini Wina dan Ahmad mencoba wahana Fliying Fox. “Keren ya Mas pemandangannya,” Wina bicara keras agar suaminya mendengar saat mereka melaju kencang,


Ahmad hanya mengangguk dan memandangi lekat wajah istrinya dengan senyum yang sulit diartikan oleh Wina.


Selanjutnya Wina dan Ahmad menyusuri danau atau bendungan itu dengan perahu gowes.


“Katanya kalau sore disini pemandangannya makin indah Mas, bisa lihat sunset disini,” Wina memberitahu info yang dia baca dari gogle. Karena memang dia mencari info tempat ini dari mbah gogle.


“Sekarang aja indah koq, lihat aja pepohonan rindang itu, makin menambah indah bendungan ini kan?” sahut Ahmad menunjuk pepohonan rindang ditepi bendungan yang membuat udara disini sangat bersih.


***


Wina dan Ahmad sudah kembali tiba di rumah. Banyak kenangan manis dalam liburan singkat yang mereka lakukan. Hubungan mereka masih seperti biasa. Saling mengasihi dan saling perhatian seperti saat awal mereka mengikat janji pernikahan.


“Mas, kenapa kamu kasih aku uang sebanyak ini. Ini uang siapa? Dari mana?” tanya Wina saat mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor.


“Itu uang kita Yank. Aku sengaja pindahin semua tabunganku karena mau tutup rekening. Nanti kalau aku bikin baru lagi, kamu bisa balikin koq,” sahut Ahmad dengan senyum tipis.


Di kantor semua data keuangannya menyangkut gaji dan bonus sudah dia ganti dengan nomor rekening Wina.  Bahkan sejak dua minggu lalu dia menghibahkan surat rumah dan surat mobil untuk istrinya didepan notaris. Dia tak ingin ada yang mengusik Wina setelah kepergiannya nanti.


“Oke kalau begitu,” sahut Wina tanpa curiga sedikit pun.


“Aku turun dulu ya Mas. Assalamu’alaykum,” Wina mencium punggung  tangan Ahmad sebelum turun di kantornya.


***


“Jadi siap ya, hari Senin kita bertemu dengan pak Dennis di Semarang. Kita berangkat hari Minggu sore aja dengan kereta,”  Reza membahas rencana kerja mereka selanjutnya. Mereka bicara di ruang Reja. Karena ada orang lain selain team.


Biasanya Aurel tak suka kalau ruangannya dipakai untuk bicara dengan banyak orang. Kalau hanya team yang berkumpul dia membolehkan menggunakan ruangannya.


“Wina, hubungi sekretaris pak Dennis. Katakan kita siap di lapangan hari Senin,” lanjut Reza.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  CINTA KECILNYA MAZ  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta