
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Aurel mencicipi kue yang sedang diatur mertuanya ke piring saji. “Um’ma ini enak. Dan sepertinya Um’ma belum pernah memberiku resep yang ini.”
“Ini resepnya seperti crepes atau sering juga disebut pan cake atau panekuk. Kalau di Indonesia kamu pernah kasih Um’ma yang hijau apa namanya. Gulung itu,” Ahisma memberitahu Aurel resep dasar snack yang dia buat kali ini.
“Maksud Um’ma dadar gulung yang isi kelapa manis?” sahut Aurel.
“Iya. Dadar gulung,” sahut Ahimsa.
“Kalau ini isinya adalah kesukaan Uppa. Ragout isi jamur dan daging,” lanjut Ahimsa lagi.
“Enak, satu lagi sebelum yang lain datang ya Um’ma,” tanpa menunggu persetujuan mertuanya, Aurel mengambil satu kue lagi.
‘Lumayan, perutku sudah terisi. Padahal siang tadi begitu sampai bandara kami makan siang dulu. Di pesawat pun aku makan. Kenapa koq lapar terus ya?’
“Ummumaaaa …,” pekik Aira memanggil Ahimsa.
“Hallo cantiknya ummuma. Sudah mandi sayang?” Ahimsa memeluk Aira yang baru bangun dan sudah mandi.
“Kita panggil Appupan di belakang yok,” ajak Ahimsa. Aira yang perbendaharaan kata bahasa Inggrisnya mulai lancar mengerti ajakan neneknya. Dia pun menyetujui ajakan neneknya dan menggandeng tangan sang nenek.
Darrel yang juga sudah mandi bingung tak mengerti bahasa yang digunakan. Dia memang sesekali diajak bicara oleh Rajev dengan bahasa Inggris. Tapi tentu kemampuannya terbatas.
“Uppa, ada yang roaming,” Aurel mengedipkan mata pada Rajev. Aurel menyebut Rajev uppa bila didepan anak-anak atau bicara tentang anak-anak mereka.
“Roaming?” Rajev bingung. Dia melihat kedipan istrinya baru dia sadar.
“I see,” jawab Rajev.
“Abang, kakak dan nenek mau ke belakang. Abang mau ikut? Di belakang ada kolam renang,” Aurel memberitahu Darrel.
“Au itut,” jawab Darrel cepat. Dia berlari mengejar Aira dan Ahimsa.
“Uppa, Abang au lenang,” Darrel langsung merengek pada Rajev.
“Besok. Besok pagi kita semua berenang bareng uppa dan appupan serta uncle Vijay dan Zayn,” Rajev memberitahu Darrel mereka akan berenang esok pagi.
“Ndak sa’ang?” tanya Darrel. ( tidak sekarang? ).
“Kita baru selesai mandi. Dan sebentar lagi malam. Nanti kita kedinginan kalau berenang sekarang. Bisa sakit,” jawab Aurel.
Maid mengantar teh dan snack ke teras belakang. Ternyata ada dua macam snack yang terhidang. Yang satunya adalah puding buah.
“Abang, sini makan puding buah dulu,” Aurel mengambil satu porsi puding buah dengan vla rasa jeruk dan dia mulai menyuapi Darrel. Setelah itu dia mengambil satu porsi lagi dan menyuapi Rajev. Aira?
Aira sejak tadi sudah diambilkan Ahimsa dan sekarang sedang makan porsi kedua.
“Mau tambah puding atau pan cake nya?” tanya Aurel.
“Cukup dulu Love,” sahut Rajev lembut. “Terima kasih ya.”
Ahisma dan Chander melihat rona bahagia di raut wajah putranya. Itu juga yang membuat mereka bahagia. Karena saat pernikahan pertama tak ada rona bahagia di wajah putra mereka itu.
Setelah kedua anak dan suaminya makan snack, baru Aurel mengambil untuk dirinya sendiri. Dua porsi puding buah dan satu pan cake dia habiskan. Rajev melihat itu dan merasa aneh akan porsi makan istrinya. Karena biar sangat suka, biasanya porsi yang dihabiskan istrinya tak akan sebanyak itu.
“Assalamu’alaykum,” Amishaa yang menggandeng Zayn masuk ke teras belakang. Zayn sangat senang bertemu Darrel.
Lelaki kecil itu berlari menghampiri sepupunya dan memeluknya seakan mengatakan : ‘Aku rindu kamu!’
“Kakaaaaaaaaaak, aku kangen,” bisik Aurel saat mereka berpelukan.
“I Miss you too little sister,” sahut Amishaa.
Vijay baru masuk, karena tadi dia langsung ke lantai tiga, Bahiyaa tidur, jadi dia langsung taruh kamarnya. “Assalamu’alaykum,” sapanya pada semua.
“Wa’alaykum salam Kak. Bagaimana kesehatan ayahnya?” tanya Aurel sopan.
“Sudah membaik. Dia pening karena tensi darahnya naik,” sahut Vijay.
“Alhamdulillah,” Aurel dan Rajev hampir berbarengan mengucap hamdalah.
***
“Bharthave, sebelum kamu bilang sensitive dan sering marah, aku kasih tahu dulu suatu hal penting,” Aurel dan Rajev sedang berbaring. Mereka tadi makan malam bersama di lantai bawah dan sedikit bermain di ruang main Zayn di lantai tiga.
“Apa itu my Bharrya, my Love?” tanya Rajev. Memang lebih baik semua dibicarakan lebih dulu daripada salah pemahaman seperti kemarin.
“Kalau Uppa mau bawa rekreasi anak-anak. Kamu harus ingat usia mereka. Aira mungkin sudah agak mengerti suatu hal, tapi Darrel belum. Jadi jangan kamu bawa mereka ke destinasi wisata yang tak sesuai dengan usia mereka, misal ke Taj Mahal, ke candi dan hal lainnya. Kalau hanya aku, tentu aku suka banget. Tapi kita bawa anak-anak.”
“Aku lebih memilih kita di rumah sepanjang liburan kesini daripada kamu bawa ke lokasi yang hanya membuat mereka lelah tanpa mereka mengerti apa yang dikunjungi,” panjang lebar Aurel memberikan pendapatnya.
“Baik my Love, aku akan mengingat hal itu,” jawab Rajev. Dia baru sadar akan hal yang dikatakan oleh Aurel. Tadinya memang dia akan membawa ke destinasi wisata yang banyak terdapat di kota tempat tinggalnya atau ke kota terdekat.
Rajev belum terbiasa dengan pandangan usia anak. ‘Aku harus banyak belajar. Rupanya selama ini aku banyak salah.’
Rajev mengecup kening dan bibir Aurel. Dia tak mau mengganggu istrinya untuk istirahat. Tentu istrinya teramat lelah setelah bepergian dengan dua anak tanpa membawa pengasuh.
“L … love,…,” Rajev tak percaya Aurel membalas kecupannya dan sekarang malah menyerang dirinya. Untung mereka tidur dikasur berbeda dengan kedua anak mereka.
“Kamu enggak suka?” tanya Aurel sambil mengusap da-da suaminya.
“Tentu aku sangat suka,” balas Rajev dan ia yang tadi tak ingin istrinya kelelahan malah lupa. Dia buat Aurel benar-benar tak berdaya dengan dua episode permainan yang dia sutradarai.
Aurel memeluk tubuh suaminya. Dia benamkan kepalanya dalam dekap hangat yang selalu dia suka.
Menjelang Subuh Rajev bangun dan segera mandi. Di rumah ini wajib salat Subuh bersama. Dan biasanya bila dia di rumah dia akan kebagian tugas menjadi Imam. Dia pasti akan malu bila naik ke mushola di lantai empat dengan rambut masih basah.
“Love, bangun,” Rajev ciumi pipi Aurel karena sudah dia bisiki berkali-kali istrinya belum juga bangun. Rupanya terlalu kelelahan.
“Aku masih cape Honey,” Aurel membalas dengan malas dan manja.
“Mandi dulu. Kita akan ke lantai empat. Malu bila rambutmu masih basah,” Rajev berbisik lembut.
“Astagaaaa. Aku lupa sedang di Tirur. Aku kira di rumah kita,” Aurel segera bangkit.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : AVEEII, DENGAN JUDUL NOVEL NIKAHI AKU PAK DOSEN YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta